Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 192


__ADS_3

Sekali tangkap Albara telah mencengkeram dua orang laki-laki pada bagian tengkuknya dan bagaikan melempar rumput kering saja, dia melontarkan dua orang itu ke belakang hingga mereka terpental dan terlempar sejauh empat meter, terbanting dan bergulingan.


"Pengecut curang.. kalian hanya berani mengeroyok wanita" bentak Albara.


Dia tidak berhenti sampai di situ, kaki tangannya bergerak lagi dan kembali empat orang laki-laki terlempar jauh dan jatuh bangun!


"Eiit anak manusia... jangan ikut campur apa kau sudah bosan hidup... mau cari mampus" Empat orang yang lain cepat-cepat membalikkan tubuh dan golok-golok di tangan mereka menyambar kearah Albara.


Akan tetapi, mereka itu hanyalah kumpulan orang kasar yang mengandalkan keberanian, tenaga kasar dan golok. Begitu Albara menggerakkan tangannya, angin dorongan tangan-Nya sudah membuat keenam orang pengeroyok terhuyung mundur.


"Hiyaaat... " Dua orang yang agaknya menjadi pimpinan mereka menjadi penasaran lalu berseru keras dan menerjang maju lagi dengan golok mereka. Namun Albara mendahului mereka, menyampok keras hingga terdengar bunyi.


"Krek-krek!"


Suara ini muncul ketika tangan Albara bertemu dengan pergelangan tangan mereka yang menjadi patah tulangnya. Mereka meringis kesakitan dan melompat mundur, tidak berani maju lagi.


"Masih tidak lekas minggat dari sini?!" Albara menghardik, pandang matanya tajam menusuk.


Dua belas orang itu tidak berani untuk mencoba-coba lagi, mereka lalu pergi membawa teman-teman yang terluka. Ternyata jumlah mereka semua ada enam belas orang, yang empat telah dirobohkan gadis cantik itu.


Setelah mereka semua kabur, barulah Albara menoleh dan melihat gadis itu tengah ditolong Anggiliana. gadis remaja itu juga terluka pundaknya. Terdengar olehnya suara gadis itu yang halus, "Bagaimana, adikku? Parahkah lukaku?" tanya-nya pada Anggiliana.


Anggiliana menggigit bibirnya dan menggelengkan kepalanya. " tidak kak, tapi kurasa tulangnya patah setidaknya retak..., kakak lekas haturkan terima kasih... pada anak manusia itu" kata Anggiliana

__ADS_1


Gadis baju biru itu agaknya seperti baru teringat, Cepat-cepat dia membalikkan tubuhnya menghadapi Albara yang berdiri memandang mereka, kemudian dia menjatuhkan diri berlutut sambil berkata,


"Saya Anggiriana dan adik saya Anggiliana menghaturkan terima kasih atas pertolongan Pendekar yang telah menyelamatkan nyawa saya."


Dua macam perasaan memenuhi hati Albara mendengar kata-kata itu. Dia disebut Pendekar! Dia merasa bangga dan juga jengah. Tentu gadis ini menganggap dia seorang pendekar yang berilmu tinggi karena dalam segebrakan saja mampu mengusir dua belas orang laki-laki kasar tadi. Padahal kalau mempergunakan ilmu silat, tanpa disertai tenaga sinkang yang luar biasa, belum tentu dia menang lihai dari pada Anggiriana itu sendiri. Bangga karena mulut yang manis dan mungil itu menyebutnya taihiap, namun jengah dan malu karena dia sendiri merasa amat tidak pantas disebut seorang pendekar besar.


"Ah, harap jangan sungkan, bangkitlah, Nona," katanya sambil mengangkat bangun gadis itu.


Ketika kedua telapak tangannya menyentuh pundak itu, terasa hawa yang hangat lunak keluar dari daging pangkal lengan yang halus itu. Maka berdebarlah jantung Albara, apa lagi ketika pandangan matanya bertemu dengan sebagian dada yang telanjang itu, rindunya pada istrinya semakin menjadi jadi.


"Kak pakailah ini" ucap Anggiliana memberikan jaket yang di ambilnya dari dalam kereta.


Gadis itu merintih perlahan dan mukanya menjadi merah sekali. Anggiliana cepat-cepat menyelimutkan jaketnya pada tubuh Anggiriana yang masih memandang Albara dengan sinar mata berterima kasih.


"Ah, masih untung kalian dapat lolos dari pengeroyokan mereka. Harap kalian segera pergi meninggalkan dusun ini, karena kalau tidak... mereka pasti segera datang lagi dan menyusahkan kalian." Yang berkata demikian ialah seorang kakek kurus, mukanya membayangkan kegelisahan.


Albara mengerutkan alis. Dia sudah membantu dan dia tak boleh kepalang tanggung membantu nona ini. "Kakek, kami tidak takut menghadapi ancaman mereka. Biarkan saja mereka datang, akan kami hajar mereka semua! Saat ini kami perlu untuk merawat adik yang terluka ini. Siapakah di antara Tuan sekalian yang sudi menolong kami dan meminjamkan tempat untuk istirahat dan berobat?"


Akan tetapi, sekian banyaknya pasang mata hanya memandangnya dengan terbelalak, penuh kekhawatiran dan tiada seorang pun yang menawarkan tempatnya.


Kakek itu cepat berkata, "Orang gagah harap bisa memaklumi keadaan kami. Mereka adalah pasukan kerajaan penyihir hitam yang berkemah tidak jauh diri dusun kami. Kalau saja mereka mendengar ada salah seorang di antara kami berani membantu, tentu yang membantu itu akan celaka...!"


"sekali lagi Maaf, tuan dan nona. Kami tentu percaya akan kegagahan kalian, akan tetapi maukah kalian selamanya tinggal di dusun kami?"

__ADS_1


"Apa...?!" Anggiriana yang bertanya, matanya terbelalak heran dan Albara terpaksa harus mengalihkan pandangnya karena mata itu amat indahnya sehingga dia khawatir kalau-kalau dia akan melongo menikmati keindahan, yang membuatnya makin merindukan Mulan istrinya.


Anggiriana mekiliki kecantikan yang Sama dengan Anggiliana tapi dia lebih ramah dan lembut di banding Anggiliana.


"Kakek ini benar. Memang, selama kita masih berada di sini, penjahat-penjahat itu tak akan berani datang mengganggu. Akan tetapi tidak mungkin kita tinggal selamanya di sini dan bila mana kita sudah pergi lalu mereka datang mengamuk, membalas dendam kepada penduduk dusun ini, bukankah sama saja artinya dengan kita yang mencelakakan penduduk di sini?" ujar Albara.


"Iya sudahlah... mari kita keluar dari dusun ini, biarlah saya mencarikan tempat istirahat untuk kita malam ini" kata Anggiliana.


"Dalam hutan sebelah barat terdapat sebuah kuil yang kosong. Kiranya kalian dapat beristirahat di sana. kalian dapat membawa bekal makanan dan bahan obat," kata pula si kakek yang sesungguhnya menaruh rasa kagum dan simpati kepada mereka yang sudah berani menentang para tentara penyihir hitam yang semenjak kedatangan-nya merupakan gangguan bagi penduduk dusun itu.


Setelah Anggiriana, membeli obat-obat dan bahan makanan, berangkatlah mereka keluar dari dusun memasuki hutan sebelah barat dan benar saja, di tengah hutan itu mereka menemukan sebuah kuil tua yang kosong, akan tetapi lumayan untuk tempat berteduh dan mengaso. Albara lalu merebahkan tubuh di sudut ruangan menjauhi gadis gadis yang sedang membantu, Anggiliana menggodok obat untuk saudaranya Anggiriana.


Baru saja mereka akan Istirahat diluar terdengar orang berteriak.


"Manusia sombong keluar kau" seorang pria usianya kurang lebih empat puluh tahun. Tubuhnya membayangkan tenaga yang kuat sekali dan goloknya amat besar dan kuat, sikapnya pun menyeramkan.


Mendengar teriakan di luar kuil Albara menghambur keluat mukanya memerah lalu perdiri di depan pintu. Pria ysng tadi bertetiak, dengan gerakan goloknya menuding ke arah Albara dan suaranya serak ketika bertanya kepada anak buahnya,


"Inilah manusia usilan itu?"


"Benar dia, komandan!" kata seorang di antara mereka yang tadi dihajar Albara.


Komandan npasukan itu kembali memandang Albara penuh perhatian, seolah-olah tidak dapat percaya bahwa Manusia yang usianya paling banyak baru dua puluhan tahun ini mampu merobohkan dua belas orangnya!

__ADS_1


"Hai manusia ..... siapa namamu?" bentaknya, sikapnya sombong dan memandang rendah.


__ADS_2