
Tanpa bicara Devina telah merosot menggunakan kuku kukunya yang tajam sehingga meninggalkan guratan memanjang di kedua sisi pohon. Devina merasa jengah dan muak melihat sekumpulan harimau jantan yang seperti ngantree ingin mendapatkan dirinya. Saat sampai di dasar pohon Devina sudah ngamuk membanting beberapa harimau yang masih setia menunggu.
"Harimau harimau ompong, segera menyingkir dari hadapan ku atau kalian akan meregang nyawa" ucap Devina lalu membanting harimau harimau terdekat.
"Bruk... bruk ... bruk" tiga ekor harimau besar seperti melayang di lemparkan Devina lalu merosot dan berhenti setelah menabrak pohon pohon besar lalu diam tak bergerak.
Harimau yang masih selamat seperti mengerti dengan kemarahan Devina, tanpa komando mereka melarikan diri menyelinap lenyap di lebatnya hutan.
Sementara di atas pohon sudah tergerak kaki Albara untuk turun mendekati Devina ingin menghentikan kemarahannya. Akan tetapi di tahannya takut malah akan membuat Devina makin marah.
"Dev tunggu" ucap Albara saat melihat Devina sudah berkelebat meninggalkan Albara yang masih ada di atas pohon.
Dengan cepat Albara berkelebat menyusul Devina yang telah menghilang menyelinap dalam lebatnya hutan. Albara makin bingung saat tak menemukan petunjuk kemana Devina pergi. Albara tidak mungkin salah melihat devina menyelinap di balik pohon yang sangat besar lalu menghilang bagai di telan bumi. Secepat apapun Devina meninggal kan tempat tersebut pasti masih bisa di deteksi dan tak kan menghilang begitu saja.
"Jangan jangan ....." Albara tidak melanjutkan ucapannya saat mengingat cerita Riki dan Katerin tentang hutan TNKS tempat mereka tersesat kedunia Bunian.
Hutan Taman Nasional Kerinci Seblat ( TNKS) telah terkenal hingga mancanegara. Banyak turis asing yang mencoba menelusuri rimba Sumatera yang masih asli ini.
TNKS membentang di empat provinsi, yaitu Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Ini merupakan taman nasional terbesar di Sumatera, dengan luas sekira 13,750 km².
Menariknya, TNKS terdiri dari Pegunungan Bukit Barisan yang memiliki wilayah dataran tertinggi di Sumatera, Gunung Kerinci dengan ketinggian 3.805 Mdpl.
Seolah hutan lebat tersebut menyimpan banyak misteri dan berbagai kejutan bagi para pelintas dengan begitu cantiknya. Siapa sangka, jauh di dalam rimbunan pohon dan medan tanah yang cukup rumit dilewati, tapi juga tersimpan bayak pesona wisata yang luar biasa.
Albara makin yakin jika hutan ini memang mengandung banyak misteri yang tidak logis.
"Devina..." teriak Albara memanggil Devina.
__ADS_1
"Duaaaar..." sebagai jawaban terdengar sebuah ledakan, tak jauh dari Albara terlihat uap air muncrat hingga setinggi sepuluh meter.
Albara melesat kearah ledakan tak butuh waktu lama Albara sudah berada di sumber mata air yang sangat panas, dari jarak sepuluh meter hawa panasnya sudah sangat terasa. Air yang sangat bening tapi mendidih dalam sumur batu seluas empat meter persegi.
"Devina..." kembali Albara berteriak memanggil Devina.
"Duaaaar" kembali terdengar ledakan dari mata air panas sebagai jawaban, terlihat jelas bagi Albara mata air meledak seperti sangat marah terganggu oleh teriakan Albara, sehingga seisi sumur seperti melompat setinggi sepuluh meter lalu berubah menjadi kabut uap yang sangat panas.
"Aiiih... " ucap Albara kaget lalu melompat mundur saat merasakan uap panas yang menuju ke arahnya.
Albara teringat akan cerita kalau di wilayah tnks ada sumber air panas yang marah jika di teriaki. Tapi sepengetahuan Albara tempatnya ada di tepi sebuah sungai di desa renah kemumu.
"Ah ... mungkin mata air panas di tengah hutan ini ada hubungannya dengan grao sakti di renah kemumu" pikir Albara.
Lebih aneh lagi sumber mata air panas tersebut sekarang seperti melihat keberadaan Albara, kemana saja Albara nengelak air akan muncrat dari sumber mata air panas menuju Albara.
Kembali Albara teringat kata Orang kemarahan sumber mata air panas akan berhenti jika adzan di kumandangkan. kembali Albara berlari di sekeliling sumber mata air sambil mengumandangkan Adzan. Aneh bin ajaib sumber air seperti nengelegak dengan semburan lebih dahsyat lagi. sehingga Albara harus mengeluarkan seluruh keahliannya untuk menghindar.
"Duaaaar..." sebuah ledakan terdengar lebih dahsyat lagi lalu sumber air panas seperti tenang tidak bergejolak lagi.
Alam seperti sunyi sejenak tidak ada suara yang terdengar kecuali suara air yang mendidih. Albara memperhatikan keadaan telaga sejenak masih dalam keadaan waspada dari kemungkinan terjadinya amukan mata air yang seperti hidup. Setelah lama memperhatikan tidak ada perubahan barulah Albara merasa lega.
"Aneeeh kenapa mata air bisa marah mendengar teriakan" guman Albara.
Kembali Albara mengumandangkan adzan kali ini dengan teriakan yang sangat nyaring sehingga suaranya seperti bergema di seluruh hutan, di ikuti gema yang sama menirukan suaranya dari perbukitan berbatu di depan Albara yang merupakan tempat keluarnya mata air panas lalu membentuk telaga yang menggelegak.
"Krak ... krak ... krak" berlahan lahan bukit batu di depan Albara retak retak lalu berubah menjadi bongkahan batu sebesar ukuran kepala manusia.
__ADS_1
"Biurr .... biurrr... biurr" satu persatu batu tutersebut seperti di lempar seseorang memasuki telaga hingga telaga tertimbun sepenuhnya.
Di balik kabut asap terlihat terowongan yang gelap tak terlihat ujungnya.
"Devina..." teriak Albara.
"Devina..." terdengar suara pantulan dari dalam goa, menandakan betapa dalamnya goa tersebut.
Tak lama setelah suara pantulan lenyap terdengar, hiruk pikuk pertempuran dari dalam goa, di iringi jerit kesakitan, dan pekik kemarahan. Pertempuran terdengar di iringi teriakan dan sorakan, terdengar ramai sekali sorakan sorakan nyaring, suara suara berat dari laki laki yang menyerbu berbarengan.
"Kak Bara tunggu di luar jangan masuk" terdengar suara Devina dari dalam goa memperingatkan Albara.
Detik bersamaan teriakan kemarahan Devina terdengar melengking mengancam pengeroyoknya.
"Macan macam ompong jangan kira dengan mengandalkan banyak jumlah kalian bisa menang" teriak Devina.
"Desss, duk...duk" terdengar sayup seperti beberapa pukulan saling bertemu.
"Wanita ****** menyerah sajalah, kau harus mempertanggung jawabkan ulahmu di depan Kaisar karena telah melukai putra mahkota kerajan Cindaku" ucap seseorang terdengar jelas oleh Albara.
Albara seperti tak sadar ingin membantu Devina yang terdengar bertempur mati matian melawan belasan atau mungkin puluhan orang. tubuhnya melesat ke arah goa tapi kembali melompat mundur saat mendengar puluhan tomba melesat ke arahnya dalam kecepatan tinggi.
"Seer seer serr ser" puluhan tombak mengancam hampir seluruh tubuh Albara, bahkan hampir seluruh lorong goa seperti tak seincipun tempat kosong.
"Hiaaat....." kembali Albara mrncelat ke belakang lalu sembunyi di sisi tebing di kanan goa.
"Krakk krak krak" puluhan tombak sudah menancap di pohon pohon besar di depan goa. Ternyata di depan goa juga sudah di pasangi senjata rahasia yang sangat berbahaya, jika orang yang terlanjur masuk tidak hati hati pastilah tidak akan Selamat dari senjata senjata tersebut.
__ADS_1