Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 129


__ADS_3

Mulan hanya terbaring lemah menunggu serangan Albara selanjutnya dengan pasrah.


"Ahhhk" keluh Mulan pasrah saat melihat Albara berdiri mengayunkan pedangnya.


Mulan merasa lemas sekali dia sangat lelah dan sudah terluka dalam sangat hebat waktu benturan terakhir. Serangan pedang Albara kali ini tak mungkin terelakkan lagi juga tak mungkin di tangkis karena selendang nya telah di rampas Albara.


Mulan memejamkan matanya menanti kematian di ujug pedang Albara, namun pedang yang dia nanti tak datang juga. Mulan membuka matanya terlihat Albara berdiri memandangi dirinya yang sudah tak berdaya, lalu menciumi selendang Mulan yang dia rampas.


Melihat Mulan membuka matanya dan memergoki dirinya sedang menciumi selendang Mulan membuat Albara salah tingkah. Albara berusaha berlaku biasa biasa saja sambil menyerahkan selendang Mulan.


"Ini Ambil, aku tak butuh selendang" ucap Albara.


Mulan tersenyum senang saat melihat Albara menciumi selendangnya, lalu berdiri mengambil selendangnya.


"Simpan aja kak Bara, untuk dicium cium" kata Mulan tapi tangannya tetap terulur menerima selendang nya.


"Eh siapa juga yang suka menciumi selendang bauk keringat gini, tadi Albara cuma mau mastikan selendang mu beracun atau tidak" kilah Albara.


"Kak bara aku lelah, bolehkah Mulan istirahat sebentar" pinta Mulan.


Albara melangkah mendekati Mulan


"Akupun lelah ayo kita istirahat di pinggir sungai sana" ajak Albara sambil mengulurkan tangannya.


Mulan menerima uluran tangan Albara, saat tangan mereka saling menggenggam tiba tiba sebuah perasaan aneh menjalar ke sekujur tubuh Albara, perasaan yang sama saat pertama kali Albara menjabat tangan Mulan, perasan yang sama saat dulu dia menyatakan cintanya pada Mulan.


Itulah perasaan cinta yang telah menghilangkan perbedaan status antara mereka. Perasaan cinta yang telah melepaskan rantai belenggu kemiskinan di hatinya, perasan cinta yang membuat Albara berani menantang badai kehidupan.


Mereka saling pandang sejenak, lalu Albara menuntun Mulan ke pinggir sungai, mereka duduk seperti sepasang kekasih berbicara berbisik bisik tentang berbagai hal.


"hoax" tiba tiba mulan memuntahkan darah segar, tubuhnya terkulai lemas.


"Mulan ... " teriak Albara panik.


"Kak Bara..." bisik Mulan nafasnya makin deras.

__ADS_1


"Peluk Mulan kak, Mulan pengen mati di pangkuan kak Bara" ucap Mulan lemah.


Secara reflek Albara memeluk Mulan.


"Mulan... kamu terluka dalam jangan bayak gerak kakak akan mengobatimu" ucap Albara.


Albara mengambil sebutir pil ajaib dari cincin pintak pinto lalu meminta Mulan meminumnya.


"Ayo minum obat ini dulu" pinta Albara pada Mulan.


Mulan membuka mulutnya dengan lemah lalu Albara memasukan pil ajaib ke mulut Mulan. Beberapa detik kemudian terlihat Mulan menelan ludahnya pertanda obat sudah larut di mulutnya.


"Kata Aza kakak mau nikahi Laila bulan depan ya?" tanya Mulan suaranya makin lemah di pelukan Albara.


"Siapa bilang Laila mau sama kakak, Laila semenjak bayinya sudah nolak cinta kakak" ucap Albara.


"Benar ya kak, kakak gak bohong kan?" tanya Mulan lagi.


"Kakak tak pernah bohong pada Mulan" melihat kondisi Mulan makin lemah membuat Albara melupakan kemarahannya.


"Kok kamu nanya nanya Ratu Mas segala, emang apa pedilimu?" tanya Albara lagi.


"Tadi kakak nyebut nyebut Ratu Mas, saat bertempur" kata Mulan lagi.


"Perlu Apa juga kamu tau tentang Ratu Mas" kata Albara.


"Kasih tau dong kak, jangan biarkan Mulan mati penasaran" pinta mulan makin lemah napasnya makin deras.


"Ya dia sangat cantik seperti Mulan" kata Albara.


"Di mana dia kak, Mulan ingin melihatnya" kata Mulan.


Albara diam tak menjawab Mulan, Albara bingung untuk mengatakan yang sebenarnya, mana mungkin Mulan akan percaya jika dia cetitakan tentang Ratu Mas yang hidup ribuan tahun silam. Albara memperhatikan Mulan lama sekali, Albara seperti melihat ada beda antara Mulan yang dilihatnya beberapa waktu yang lalu dengan Mulan yang ada di pangkuannya sekarang.


Mulan yang ada di pangkuannya terlihat lebih putih seperti rumput yang tak pernah terkena sinar mata hari, tubuhnya lebih langsing di banding Mulan yang dia lihat di kampus universitas Kota Tapus, wangi tubuh mulan sama persis dengan wangi parfum yang biasa Mulan pakai. yang lebih mengangetkan Albara adalah perasaannya sendiri terhadap Mulan sangat selaras dengan perlakuan Mulan yang sedang di pangkuannya.

__ADS_1


"Dari mana Mulan memperoleh selendang sutra sorgawi ini?" tanya Albara menunjukkan selendang Mulan.


"Selendang ini namanya selendang sutra sorgawi ya kak, kebetulan Mulan temukan setelah terkurung di goa Tiraw" kata Mulan makin lemah.


"Terkurung di goa Tiraw?" tanya Albara


Tapi Mulan tidak lagi menjawab hanya matanya yang memberi isyarat mengiakan pertanyaan Albara. Tatapan mata Mulan makin sayu, air matanya menetes deras memandang Albara. Barulah Albara sadar kalau Mulan di pangkuannya adalah Mulan kekasihnya.


"Mulan.... kamu jangan mati, kita akan selalu bersama" jerit Albara histeris.


****


Sekarang kita lihat apa yang terjadi dengan Devina di Acara latih tanding Anita di Universitas Kota Tapus setelah melihat Budiman dihajar oleh Mulan sampai sekarat. Devina menciumi darah Budiman yang lengket di tangan dan pakaiannnya, emosinya makin memuncak hawa membunuh makin terpancar dari matanya, secepat kilat tubuhnya melompat keatas panggung menghadang Mulan yang akan meninggalkan panggung.


Devina berdiri di depan Mulan menatap Mulan dengan tajam, seolah pandangannya nenembus jantung Mulan. Semua hadirin terpukau melihat gadis secantik bidadari telah berdiri di panggung. Benar Devina terlihat terlalu cantik dibandingkan Mulan di depannya. meskipun bayak kesamaannya tapi Devina terlihat jauh lebih cemerlang.


"He Mulan, tadi kau bilang ingin membunuh semua yang mengidolakan Albara, ketahuilah bahwa aku lah yang sangat mengidolakan Albara, kau mau Apa?" tanya Devina menantang.


Mulan memperhatikan Devina dari gerakannya menaiki panggung telah membuktikan kalau Devina adalah orang yang berilmu tinggi, namun Mulan sangat percaya diri merasa kalau dia akan mampu mengalahkan Devina.


"Tikus bauk, kau sudah bosan hidup rupanya, katakan siapa dirimu sebelum malaikat maut mengambil nyawamu" bentak Mulan.


"He Mulan kau tak layak mengenal ku, bicara dan sikapmu terlalu jauh dari nilai kebaikan, tak layak seorang putri Wakil Gubernur, berlaku onar dalam sebuah acara hanya gara gara yang punya acara mengidolakan Albara" Devina balas membentak.


"Betul... betul... betul.. betul" teriak hadirin mendukung sikap Devina.


Mulan makin marah mendengar para hadirin justru membela Devina, wajah Mulan memerah dikatakan tukang onar.


"Albara adalah musuh Mulan, maka siapa saja yang membelanya jiga akan bermusuhan dengan Mulan" ancam Mulan.


"Ooo begitu kah? he Mulan jangan mentang mentang ya, kalau kelakuan mu seperti ini sebagai anak presiden pun kau tak akan dihargai" ucap Devina.


"Mulan tidak peduli, orang mau bilang apa, Albara musuhku sampai kapanpun dan siapapun yang membelanya akan mati di tangan Mulan, kau peduli apa" kata Mulan.


Mata Mulan makin merah karena marah tak dia sangka banyak sekali yang membela dan memuja Albara. Tadi Anita, lalu Budiman seorang bocah kecil, sekarang gadis cantik bagai bidadari, yang membuatnya makin dongkol adalah kecantikan Devina malah melebihi kecantikannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2