Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 160


__ADS_3

Bukan main kagetnya ratu Ledisya dan putri Mulani saat menyadari betapa lihainya mulan dengam jurus langkah ajaib, mereka hampir saja saling pukul saat menyerang Mulan, sementara Mulan dengan kecepatan luar biasa telah berpindah bagai terbang dia sudah menerjang pembantu ratu Ledisya yang memiliki kesaktian paling lemah.


"Lepaskan ibu dan ayah mulan atau kalian akan menerima akibatnya" bentak Mulan.


Secepat kilat putri Mulani dan ratu Ledisya menyerang dari dua arah melindungi pembantu nya yang terancam serangan dahsyat Mulan.


"Mulan menyerah saja lah, lihat serangan" ucap putri Mulani masih tak mau kalah.


Merasa ada ancaman dari putri Mulani dan ratu Ledisya terpaksa Mulan berbalik dengan kemarahan meluap luap, terpaksa menangkis serangan putri Mulani dan ratu Ledisya.


"Brukkk" tubuh ratu Ledisya kembali terpental menghantam tembok dengan keras.


Putri Mulani terhuyung huyung mundur hingga luma langkah lalu jatuh terduduk, sedangkan Mulan hanya berdiri di tempat hanya bergoyang karena kuda kudanya sedang tergempur. Mulan merasa heran sendiri dengan kemampuannya baik tenaga dalam dan peringkan tubuhnya maju pesat setelah dapat petunjuk dari Albara.


"Lepaskan ibu dan ayahku" teriak Mulan sekali lagi dengan penuh kemarahan lalu melesat ke arah ratu Ledisya yang sedang mencoba untuk berdiri.


Ratu Ledisya kembali terpental saat sebuah tendangan Mulan menerjangnya, sekalipun masih bisa di tangkis tapi tenaga dalamnya kalah jauh dari Mulan. Pembantu ratu Ledisya yang sudah mampu menguasai dirinya tak tinggal diam, dia menerjang ke arah Mulan dengan cepat.


"Jangan sentuh yang mulya Ratu Ledisya" teriak pembantu ratu Ledisya melesat maju menyerang Mulan, tangan kirinya mencoba mencengkram dada Mulan.


Melihat serangan pembantu ratu Ledisya mencengkram kearah dadanya Mulan menggerakan tangan kanannya dengan menyalurkan seluruh tenaga dalamnya menyambut serangan lawan. Namun serangan tangan kirinya hanyalah sebuah tipuan, pembantu ratu Ledisya menarik serangan tangan kirinya lalu tangan kanannya dengan bola bola bandul di tangan kanannya melesat sangat cepat mengancam ubun ubun Mulan.


"Yang mulya putri Mulani... yang mulya Ratu Ledisya mundur lah kalian" ucap pembantu ratu Ledisya.


Seperti sebuah kode ratu Ledisya dan Mulani meloncat mundur menjauh dari arena petrempuran. Sementara Mulan meneruskan serangan ke dada pembantu ratu Ledisya lalu di susul tangan kirinya mencoba menepis bola bola bandul yang mengancam ubun ubunnya.


"Duaaaar" sebuah ledakan

__ADS_1


Sesuatu yang tak pernah Mulan perkirakan kalau bola bola tersebut akan meledak di depan mukanya. Bola bola yang mengancam ubun ubun meledak menjadi butir butir pasir yang tajam, lalu menghantam wajah hingga ubun ubun Mulan.


"Braaaak" saat yang bersamaan tubuh pembantu Ledisya ternanting keras mrmbebtur tembok lalu jatuh tak bergerak lagi, dengan dada hancur terkena pukulan Mulan.


Mulan menyeka mukanya yang terasa pedih dan panas.


"Aiiiihh" keluh Mulan saat melihat tangannya berlumuran darah di mukanya. masih untung Mulan sempat memejamkan matanya hingga butir butir pasir tidak masuk ke matanya.


"Hik hik hihihi... Mulan ku pastikan kalau wajahmu akan menyisakan kulit pembalut tulang sebagaimana yang terjadi pada Bram" tawa putri Mulani kegirangan.


"Putri Mulani ... kalian benar benar jahat, apa kesalahan kami sehingga kalian berlaku sekejam ini" Mulan meneteskan air mata saat merasakan mukanya yang makin panas seolah terbakar, hatinya hancur saat membayangkan bagaimana rupa wajahnya nanti.


"Hihihi hihihi, senang melihatmu menangis Mulan. Tak kan ku biarkan ada orang yang memiliki wajah yang sama dengan diri ku .... hi hi hi" putri mulani makin kegirangan lalu menyambar tubuh ratu Ledisya yang terluka dalam cukup serius.


Mulan mengumpulkan sisa tenaganganya dengan menahan pedih dan panas luar biasa kembali menyerang putri Mulani.


Serangan yang sangat berbahaya dengan tenaga dalam penuh, tentu saja putri Mulani yang memanggil tubuh ratu Ledisya tak berani menerima pukulan Mulan, seperti sudah di prediksi sebelum nya pitri Mulani telah melompat melewati meja persembahan menuju lorong goa di balik almari.


"Mulan ... kematianmu sudah di depan mata, aku tak perlu meladeni mu, setidaknya kau akan merasakan bagaimana hidup dengan wajah tengkorak yang menyeramkan" ucap putri Mulani menghilang ke dalam goa.


"Braak" meja persembahan hancur berkeping keping terkena pukulan Mulan.


Samar samar Mulan melihat putri Mulani memasuki lorong di balik Almari. Mulan melesat mengejar tapi gelapnya goa membuat Mulan harus berjalan meraba raba dengan menahan pedih dan panas di wajahnya.


Mulan terus melangkah menyusuri lorong yang gelap menyusul Putri Mulani. Hanya mengandalkan pendengaranya Mulan terus melangkah kemana langkah putri Mulani yang makin lama makin sayup terdengar hingga akhirnya hilang sama sekali.


Entah sudah sejauh mana Mulan berjalan meraba raba dalam gelapnya lorong, pedih di wajahnya sudah tak tertanggungkan lagi, kesadaran Mulan hampir hilang kakinya mulai goyah dan akhirnya terjatuh berlutut di lantai goa. Mulan masih mencoba meramgkak hingga terbentur dinding goa.

__ADS_1


"ya Allah ... inikah akhir hidupku" guman Mulan pada dirinya sendiri.


Merasa seprti akan pingsan, Mulan lalu duduk dengan posisi bersemedi menggunakan napas suci lalu bersender ke dinding goa mencoba mempertahankan kesadarannya. Walau bagai manapun Mulan berusaha menguasai pemikiran dan kesadarannya namun panas dan pedih di weajahnya sudah tak sangup lagi di tahannya.


"Ahhh Aduuuuuh, ..... uuuuuuuuuh... ya allah" Ucap Mulan makin lemah, pada akhirnya Mulan tergeletak tak sadarkan diri dengan posisi masih besender ke dinding goa.


*****


Setelah Mulan meninggalkan rumah sakit Albara menuju ke ruang inap Budiman untuk menyelesaikan administrasi dan membayar biaya pengobatan Budiman. Sesampainya Albara di ruang inap Budiman Albara tidak melihat keberadaan Budiman disana.


"Anak nakal, baru sehat udah mulai berulah... kemana dia" pikir Albara.


Melihat Albara kebingungan Riki yang sudah merasa sehat lalu duduk dan menyapa Albara.


"Kamu nyari budiman ya?" tanya Riki.


"Budiman sudah pulang, semua biaya dan administrasi sudah di sekesaikan oleh Anita penyelenggara acara di mana Budiman mengalami cedera" kata Riki tanpa menunggu jawaban dari Albara.


"Hmmmm .... lalu budiman pulangnya dengan siapa kak?" tanya Albara.


"Budiman pulang sama Devina dan profesor Lee shu wan" jawab Riki singkat.


"Ya udah... kakak istirahat aja dulu... maaf Albara tidak bisa nemani kakak Albara pamit harus menyusul Mulan dan pak sekda yang membawa ibu Susanti pulang kerumahnya" pamit Albara.


Riki hanya mengangguk.


"Gak apa apa.. ntar juga riki sudah akan pulang, cuma nunggu jemputan dari orang tua riki" ucap riki.

__ADS_1


Albara meninggalkan ruang inap Riki menuju rumah dinas Sekda kota tapus. Akan tepati alangkah bingungnya Albara saat tidak menemukan Mulan dan ibu Susanti di sana. Albara lihat lihat kalau mobil dinas pak sekda yang membawa ibu Susanti juga tidak ada di Rumah. Perasaan Albara mulai tidak nyaman apalagi mengingat cerita abang Sarli kalau tadi malam ada ibu Susanti dan pak Sekda yang lain sebagai penghuni rumah dinas.


__ADS_2