Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 103


__ADS_3

Rolan terlihat sangat puas setelah dapat petunjuk dari Albara, demikian juga Ariel dan beberapa security Albara group yang terpilih mengikuti pelatihan kilat dari Albara. Cuma dalam waktu dua hari kemajuan ilmu silat mereka maju pesat terutama dalam tenaga dalam dan ilmu peringan tubuh.


Pukulan mereka sekarang bertenaga dengan gerakan yang sangat ringan sehingga kekuatan dan kecepatan serangan mereka meningkat puluhan kali lipat dari semula. Saat mereka subuk dengan latihan teknik napas suci, tiba tiba Anita terlihat muncul menghampiri Albara.


"Sepertinya nona Anita ada hati pada dek Bara" bisik Rolan.


"Ahhh abang Rolan, kami cuma merasa sebagai saudara Anita seperti adik perempuan bagi Albara" ucap Albara juga berbisik.


"Itu kan perasan kamu, perasaan Anita siapa yang tau, Abang lebih tua dari kamu bisa membaca gerak gerik orang yang sedang jatuh cinta" Rolan masih berbisik.


"Kak Bara" panggil Anita.


"Ya kenapa Anita?" tanya Albara memperhatikan Anita. Matanya yang terlihat berkaca kaca membuat Albara menunduk tak mampu menatapnya.


"Boleh Anita ngomong sesuatu kak" ucap Anita.


"Boleh... ngomong aja" ucap Albara.


"Tapi tidak disini kak" kata Anita.


"Maunya di mana?" tanya Albara.


"Ikuti Anita kak" pinta Albara.


Albara mengangguk lalu menyusul Anita yang sudah berjalan di depannya. Anita berjalan menuju taman di belakang gedung Albara group.


"Ngomong apa kok harus nyumput begini?" tanya Albara saat Anita memilih tempat yang sepi dan tersembunyi.


"Anita pengen nangis" kata Anita.


"Hu hu hu hu" tangis Anita meledak saat mereka sudah duduk berduaan.


"Anita kenapa?" tanya Albara.


"Anita sayang kak Bara" kata Anita sesugukan.


"Kakak juga sayang Anita, tapi gak pakek nengis juga kali" kata Albara mengelus bahu Anita.


"Benar kakak sayang Anita?" tanya Anita.

__ADS_1


"Benar" kata Albara.


"Anita harus pulang hari ini, tapi Anita belum pengen berpisah dengan kak Bara" kata Anita telah menghambur ke pelukan Albara.


"Ya sudah, kakak juga tidak akan lama di sini, kalau pun kita berpisah kan masih bisa saling telepon" kata Albara.


Anita menatap Albara penuh harap


"Janji ya kak Bara, kalau nanti akan menelepon Anita" kata Anita.


"Iya kakak janji" ucap Albara mengangguk.


"Anita pulangnya jam berapa?" tanya Albara.


"Jam sebelas" kata anita.


"Ini sudah jam setengah sepuluh, kamu harus siap siap" kata Albara.


"Sudah... novi sudah siapkan semua kak" jawab Anita.


"Ke bandaranya kapan?" tanya Albara lagi.


"Nanti ada yang jemput" jawab Anita.


"Nona Anita sudah di tunggu Komandan Bintang di lobi hotel" ujar Novi.


Anita sepertinya masih enggan untuk beranjak dari tempatnya. Albara menggenggam tangan Anita lalu menariknya, barulah Anita bangkit mengikuti Albara yang sudah melangkah menuju Albara Hotel.


"Saingan kamu sangat berat kayaknya" ucap Rolan menggoda Albara saat AKBP Bintang menjemput Anita di lobi Albara Hotel dan membawanya pergi.


"Mana Layak Bara jadi saingan Bintang Bang, karirnya di kepolisian melejit cepat saya lihat propilnya di media sosial. Umur dua puluh dua pangangkatnya sudah IPTU, umur Dua puluh lima sudah AKBP, baru tiga bulan sudah dapat anugrah naik pangkat lagi karena keberhasilan operasi mereka menggrebek pengedar sabu di markas pendekar kuda besi kemaren" ujar Albara.


"Ha ha ha jangan terlalu spesimis dek Bara, kalau jodoh tidak akan ke mana mana" ucap Rolan sambil berlalu meninggalkan Albara di lobi hotel.


****


Albara merasa sangat kesepian semenjak kepulangan Anita ke kota Sabah.Tiap malam Albara susah tidur kerinduan pada Mulan makin mengusik perasaannya. Dua bulan sudah dia tinggal di Jakarta melatih tim sicurity Albara group. Albara memutuskan untuk kembali ke koto tapus secepatnya, Albara sangat menghawatirkan Mulan, dia seperti mendapat pirasat kalau ada sesuatu yang kurang baik telah terjadi pada Mulan.


Tadi siang Albara sempat vidiocall, saat Mulan sedang mengunjungi Goa Tiraw, lalu tiba tiba Mulan menjerit, detik berikutnya vidiocall Mulan terputus. Sejak saat itu sampai saat ini Mulan tidak bisa di hubungi lagi. berbagai pertanyaan timbul di benak Albara "apa yang di alami Mulan?".

__ADS_1


"Besok saya harus kembali" guman Albara di kamarnya. Semua fasilitas yang serba mewah tidak lagi menentramkan hati Albara, tiap detik keinginannya hanya ingin berjumpa dengan Mulan.


Namun di saat kisruh wabah corona, urusan kepulangan ke tanah air tidak lagi gampang. Albara harus melakukan tes sweb, dan bayak lagi syarat syarat yang harus di lakukan. mereka juga harus karantina selama 24 jam memastikan kalau suhu tubuhnya tetap normal.


Saat memaksakan tes sweb Albara kembali bertemu dengan prof Lee Shu Wan, yang kebetulan punya kepentingan yang sama dan mereka di isolasi di kamar yang sama.


"Ketemu lagi nak Bara Apa kabar? sapa prof Lee Shu wan.


"Baik prof, kabar profesor bagaimana?" sapa Albara balik.


"Om baik, seperti yang kamu lihat"


"Albara mau berbisnis sama om gak?" tanya prof Lee Shu Wan.


"Bisnis Apa Prof?" tanya Albara.


"Jangan panggil prof gitu, panggil aja om" pinta Prof Lee Shu Wan.


"Tetangga om mau jual kebunnya, coba carikan yang minat, jika terjual kamu di janjikan 5 persen harga jual" kata prof Lee Shu Wan.


"Wah kan sayang kebon dijual.. om"


"Dia sedang butuh uang, anaknya tiga orang sedang kuliah, untuk kelanjutan kuliah anak anaknya dia terpaksa jual kebon" kata prof Lee Shu Wan.


"di mana lokasi kebonnya om?" tanya Albara.


"Tidak jauh dari Kota Tapus" kata prof Lee Shu Wan.


"Ok lah om nanti Albara carikan peminatnya, boleh Albara minta alamat dan nomor telepon pemilik kebon" pinta Albara.


Prof Lee Shu Wan memerikan Akamat serta nomor nya dan nomor prmilik kebun pada Albara.


"Nak bara bisa hubungi yang bersangkutan atau hubungi om juga bisa" ucap prof Lee Shu Wan.


"Kalau nak Bara ada waktu nanti main ke tempat om sekalian cek lokasi" ajak prof Lee Shu Wan.


"Kebon sawit atau karet ni om?" tanya Albara.


"Kebon kurma, dulu dia bekerja luar Negri di Negara tempat bekerjanya sangat terobsesi dengan adanya sebuah ramalan di akhir zaman, di mana akan ada kemarau panjang saat itu hanya pohon kurma bertahan hidup, sehingga kurma menjadi ketahanan pangan suatu Negara saat itu."

__ADS_1


"Di Negara tempat kerjanya membuat peoyek pengembangan kurma dengan kultur jaringan, bahkan bibit mereka sudah di salurkan ke berbagai negara termasuk Indonesia. Melalui mitra mereka, Dia mendapat kuota pengembangan kurma di indonesia"


"Mekalui mitra mereka juga dia sempat membeli 10 ha kebun kurma di daerah pedalaman sumatra tidak jauh dari Kota Tapus yang kini mulai berbuah, kebetulan bersebelahan dengan kebon sawit om" kata prof Lee Shu Wan.


__ADS_2