Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 97


__ADS_3

"Sekalipun kami di bekali chief gen harimau, jangan dikira setiap manusia harimau adalah bangsa kami, karena semenjak ribuan tahun silam secara alami teknik ini sudah ada, yaitu dengan memberi bayi yang baru lahir extrak hati harimau" ujar Aditya.


"Masuk akal" kata Riki.


"Mungkin" kata Ardi.


Riki, Alan, Julian, Ardi, Katerin dan Claira duduk dengan khusuk mendengarkan penuturan Aditya. Sungguh sesuatu yang tidak logis bagi mereka sebuah kristal sebesar telor angsa bisa menjadi menampung satu galaksi. Bagaimana lagi dengan waktu yang di terapkan di sana suatu yang sangat membingungkan.


"Saya masih bingung dengan di mensi Ruang dan waktu yang di terapkan dalam alam semesta kristal tersebut" kata Alan.


"Kristal intan hanya sebuah media yang di gunakan menciptakan ruang, untuk lebih di mengerti saya umpamakan sebagai plasdisk hadwer dari perangkat komputer yang bisa menyimpan 18 giga bite, tentu jika di buat tulisan yang tertampung dalam plasdisk di bandingkan tulisan yang di buat di atas kertas, ya tidak masuk akal jika kertasnya yang di simpan di plasdisk. Tapi dengan teknologi plasdisk yang sangat kecil bisa menyimpan ribuan kata"


"Mengenai waktu ini di tera berdasarkan umur epektif dari kristal, misalnya umur permata tersebut sudah 10 ribu tahun, dengan proses pembentukan 10 seribu tahun, maka waktu yang efektif adalah 20 ribu tahun" ujar Aditya


"Kalam sebagai mesin waktu akan bergerak berputar seperti jarum jam. tiap gerakannya akan mengerakkan semua aktivitas dalam ruang angkasa tersebut, agin akan berhembus, air mengalir, mahluk hidup beraktifitas, jika kalam diam maka semua aktifitas berhenti." Aditya menjelaskan.


"Gerakan kalam juga berputar membentuk spiral dengan pelan dari pangkal menuju ujung kristal, seumpama air mengisi gelas menetes di mulai dari gelas kosong dan berakhir hingga gelas penuh. ini yang menjadi titik awal zaman dan titik akhir zaman. Jika kalam sudah mencapai ujung kristal maka ruang kristal akan penuh dengan sejarah" lanjut Aditya.


"Intinya gerakan kalam ini akan meninggalkan sejarah kejadian di dalamnya, misalnya saat kalam berputar di pangkal kristal dia akan mengukir sejarah kepurbakalaan, saat kalam sudah hampir di ujung maka terukirlah sejarah modren saya pikir itu gampang di mengerti" kata Aditya.


"Jika waktu epektif kalam bergerak selama 20 ribu tahun telah tercapai apa yang akan terjadi?" tanya Ardi.


"Hmmm ini yang jadi permasalahan kami, jika itu sudah tercapai otomatis kalam akan berhenti bergerak, akibatnya seluruh aktifitas akan berhenti semua galaksi akan beku, kami hanya berupa lukisan dalam kristal, dan akan hancur bersamaan dengan melapuknya kristal media ruang dan waktu alam semesta kami" jelas Aditya.


"Makanya saat ini sudah ada wacana dari bangsa kami untuk hidup di alam semesta kalian, menguasai bumi dan langit jika memungkinkan mereka akan menbus alam di luar ruang angkasa kalian, yang pasti lebih besar" ujar Aditya.


"Karena keterbatasan waktu di sistim alam semesta kristal mengharuskan mereka untuk keluar, sekalipun mereka harus bertempur dengan penduduk bumi dan langit, itu salah satu tekad dari pemimpin kami yang baru" tutur Aditya.


"Wah mengerikan sekali, jika penduduk seribu planet menyerbu bumi, pasti tidak akan ada tempat terluang di muka bumi" kata Katerin.


"Sudah pasti bumi kalian ini kecil, dengan daya tampung efisien paling paling 6 milyar penduduk, merupakan planet terkecil di alam semesta kami, jadi mereka juga harus menjelajah ruang angkasa mencari planet yang sesuai untuk di tempati" ungkap Aditya.


"Nanti lagi ngobrolnya sudah jam setengah sembilan, kita harus bergerak ke pilar di lembah yang cukup jauh dari sini" Katerin membuka petanya.

__ADS_1


"Ok lets go" kata Akan dan Julian.


"Aditya bagaimana, akan bersama kami atau punya tujuan sendiri" tanya Riki.


"Jika kalian tidak keberatan saya akan bersama kalian" kata Aditya.


"Ok... ayo bersiap" kata Riki sambil mengemasi barang barang yang akan di bawanya.


Jam setengah sembilan mereka beranjak menuruni lembah yang sangat curam menuju lembah yang ada di peta. Kembali mereka naik bukit turun bukit menyebrangi beberapa sungai.


Saat menyebrangi sungai Riki sengaja meminta Aditya nenyebrang lebih dulu, setelah aditya sampai di sebrang dan memastikan Aditya tidak berubah ujud menjadi seekor harimau barulah Riki mengajak temannya ikut menyebrang.


"Aman" guman Riki.


Demikianlah setiap kali menyebrang sungai Aditya selalu menyebrang lebih dulu. Setelah melewati medan yang sangat sulit, jam empat sore mereka sampai di daerah pilar kedua. Ada yang cukup aneh, dalam perjalanan mereka hari ini, mereka tidak menemukan jejak binatang yang masih baru, bahkan pacat seperti menghindar dari jalan yang akan di lalui Aditya.


Setelah menemukan pilar mereka mendirikan kemah untuk kembali menginap.


Seperti pilar pertama pilar ini juga berupa bangunan dari beton yang sangat kuat di di cor mati tanpa pintu.


"Sungguh ajaib.. perlu apa pemerintah Belanda membuat bangunan seperti ini di tengah hutan" kata Ardi.


"Dengan melihat isinya barang kali kita bisa mengetahuinya" kata Katerin.


"Tapi bagaimana kita bisa melihat isinya tanpa harus merusaknya" kata Alan.


"Saya bisa" kata Aditya.


Aditya memberi isarat pada Katerin dan Alan untuk menjauh, lalu dia menghampiri pilar. Kuku telunjuk Aditya tiba tiba berubah menjadi cakar harimau.


"Zzzeeeet.... Zzzeeeet.... Zzzeeeet.... Zzzeeeet" terdengar suara tembok di cakar di empat sisi, lalu Aditya mengangkat tembok selebar 1 x 2 meter dengan gampang, tembok pilar di bagian depan sudah berlubang hingga bisa di masuki orang dewasa.


"Wow" semua yang melihat ternganga seakan tak percaya.

__ADS_1


Katerin dan Claira mencoba masuk ke dalam pilar memeriksa isi pilar.


"Seperti kemaren hanya ada, cangkul, linggis, belencong dan ada beberapa sampel bebatuan" kata Claira.


"Bebatuan yang mengandung, emas, perak dan logam lainnya" Claira membaca alat detektornya.


Seperti kemaren alat alat tersebut di periksa dengan seksama dan setelah beberapa sampel di ambil, di dokumentasi lalu di kembalikan ke tempat semula.


"Aditya bisakah kamu tutup kembali pilarnya seperti semula" pinta Katerin.


"Saya bisa" ujar Aditya sambil menghampiri beton segi empat yang bersender di sisi pilar.


Tembok di angkat seperti mengangkat barang yang sangat ringan menempel di tangan kirinya, lalu di pasang kembali ke tembok yang berlubang, di tangan kanannya memegang alat seperti sebuah senjata. Alat di arahkan ke bekas cakaran Aditya, seperti ada cahaya laser tak lama kemudian semua celah telah tertutup lengket seperti semula. Perbuatan Aditya kembali membuat decak kagum Riki dan teman temannya.


*****


Dua minggu sudah mereka berjalan semua pilar yang mereka temukan selalu sama baik bentuk atau barang yang tersimpan di dalamnya. Mereka menyimpulkan jika Belanda membangun pilar tersebut untuk menandai wilayah pertambangan.


Suatu pagi saat habis sarapan mereka ngobrol santai sambil minum kopi. Katerin mengeluarkan peta dan mengamatinya sejenak.


"Semua pilar sudah kita periksa tapi masih ada satu tempat yang di silang tanda x dengan tinta merah seolah ini tempat terlarang. kita punya waktu tujuh hari lagi apa kita langsung pulang atau mau menyelidiki tempat tersebut?" tanya Katerin.


"Saya ingin kesana" kata Julian dan Alan.


"Saya juga" kata Ardi.


"Saya lelah, tapi jika kalian ke sana saya akan ikut" kata Claira.


Akhirnya mereka sepakat menyenlidiki tempat tersebut, setelah setengah hari berjalan mereka sampai di tempat tujuan. sebuah lembah yang luas di apit berbukitan. Anehnya daerah tersebut tidak di tumbuhi tanaman di mana mana terlihat tulang bulang bertumpukan. sejauh mata memandang hanya terlihat tulang belulang.


"Lembah tambun tulang" teriak Riki


"Tunggu... tunggu jangan maju, tetap berada di daerah yang ditumbuhi rerumputan" teriak Riki lalu mundur ke daerah yang ditumbuhi semak belukar.

__ADS_1


__ADS_2