
"Baik pak saya akan pikirkan. Bapak dari melayu riau ya?" tanya pemilik warung.
"Tidak kami bertiga dari negri sebrang Malaisya dan Thailand" ucap pelanggan yang tadi menyerahkan uang pada pemilik warung.
Pelanggan Asing tersebut membetulkan maskernya, lalu mengajak teman temannya melanjutkan perjalanan.
"Hati hati bang saat ini bayak orang hilang di culik orang misterius" kata seorang warga yang juga sudah menghabiskan sarapannya.
"Kalian jangan terlalu termakan isu hoax, ini akibatnya semua orang di usir, jika mereka lebih menjanjikan apa salahnya di pikirkan" ucap pemilik warung.
"Iya juga sih, tapi hati hati itu perlu bang... iya kalau di kasih kerjaan, coba kalau di culik lalu organ kita di ambil dan di jual" kembali warga tadi mengingatkan.
"Bukan satu tapi banyak media yang menyiarkan kejadian orang hilang, lalu di temukan mayatnya tidak utuh lagi semua organ sudah di curi. Saya cuman mengingatkan tidak semua berita harus di percaya tapi tidak juga harus di tolak dan di anggap hoax" ucap warga tersebut lalu membayar sarapannya.
"Saya permisi bang.. mau lihat lihat apa yang akan di lakukan warga di rumah Sultan Murod" ucap warga tersebut lalu meninggalkan warung menuju rumah sultan Murod.
****
Sesuai prediksi Abu Musa jika ayahnya akan di tolak warga jika di rawat di rumahnya. Itulah yang terjadi pagi hari ini puluhan warga mendatangi rumah Sultan Murod, warga tidak berani mendekat karena sangat takut tertular kopid, terlihat seorang warga yang mewakili warga lainnya dengan menggunakan masker berjalan menuju rumah Sultan Murod lalu berdiri di halaman rumah Sultan Murod.
"Abu Musa. keluar kau" teriaknya.
Tak lama kemudian terlihat Abu Musa keluar dengan parang di tangan siap dengan semua kemungkinan.
"Ada apa pagi pagi begini kalian sudah bikin keributan di rumah orang" kata abu Musa mulai Emosi.
"Pak Musa, kami sudah lihat hasil sweb Sultan Murod, dan sudah di tayangkan di media sosial sebagai pasien kopid. Kami semua warga keberatan jika Sultan Murod di rawat di rumah" teriak utusan warga tak kalah galaknya.
"Demi keselamatan warga, kami minta pak Musa segera memindahkan sultan Murod ke tempat yang jauh dari permukiman" teriak warga yang lain.
"Jangan khawatir saat ini kami hanya menunggu petugas rumah sakit, memindahkan ayah saya untuk di rawat di rumah sakit Provinsi" ujar Abu Musa.
__ADS_1
"Saya harap itu benar... jika hari ini petugas rumah sakit tidak datang kami warga akan memindahkan Sultan Murod ke daerah perkebunan, bagaimana teman teman" ujar utusan warga minta persetujuan warga yang hadir.
"Setuju setuju" teriak yang hadir serempak.
Sebuah mobil pajero sport terlihat menuju tempat tinggal Sultan Murod, semua warga memberi jalan, mobil melaju pelan memasuki perkarangan rumah Sultan Murod, seorang lelaki setengah baya di ikuti tiga orang turun dari mobil.
"Semua warga harap tenang kami akan memindahkan Sultan Murod untuk di rawat di tempat yang lebih aman" kata lelaki setengah baya pada warga.
Tanpa ada pertanyaan dari warga dan Abu Musa, lelaki setengah baya di bantu dua orang temannya membawa Sultan Murod ke dalam mobil, lalu mobil bergerak meninggalkan rumah Sultan Murod.
Warga merasa lega saat Sultan Murod di pindahan, namun saat mereka akan meninggalkan tempat sebuah ambulan memasuki pekarangan rumah Sultan Murod.
"Ada apa rame rame?" tanya petugas kesehatan pada warga yang masih berkerumun.
"Warga ingin perawatan sultan Murod di pindahkan dari rumahnya" kata seorang warga.
"Semua warga harap tenang, jangan terlalu takut terapkan saja protokol kesehatan, jaga jarak sekalipun dengan orang yang sehat, justru berkerumun begini tanpa masker lebih berpotensi menyebarkan wabah" kata seorang petugas.
"Pak Musa.. permisi kami pihak rumah sakit akan segera membawa Sultan Murod ke provinsi" kata salah satu petugas rumah sakit.
"Tapi .…." ucapan Abu Musa terputus.
"Tapi kenapa pak, bukankah bapak sudah menandatangani surat persetujuan?" tanya petugas.
"Iya pak tapi, ayah saya sudah dibawa petugas untuk di rawat di tempat seharusnya" kata Abu Musa.
"Apa ... Sultan Murod telah di pindahkan, siapa yang mindahkan?" tanya petugas kaget.
"Iya baru lima belas menit yang lalu Sultan Murod di bawa petugas" jawab salah satu warga yang berdekatan dengan petugas.
Petugas yang kagrt segera menghubungi pihak rumah sakit minta klarifikasi, lima menit kemudian pihak rumah sakit memberi klarifikasi kalau yang bertugas memindahkan sultan Murod hanya mereka tidak ada yang lain.
__ADS_1
"Pak Musa, pihak Rumah Sakit tidak pernah memberi tugas pada seseorang menggunakan mobil selain ambulan khusus yang saat ini kami bawa" kata petugas.
"Pak musa harap tenang, pihak rumah sakit akan menghubungi pihak kepolisian untuk menangani kasus ini, dan para warga harap hati hati dan siap siap jika kalian di panggil pihak kepolisian sebagai saksi atau memang terlibat penclikan Sultan Murod" ucap petugas lalu meninggalkan rumah Sultan Murod.
Semua warga jadi pucat lalu meninggalkan lokasi takut nanti malah di anggap terlibat kasus penculikan.
Besoknya kembali masyarakat di hebohkan oleh berita media online hilangnya warga Kota Tapus dengan judul "Seorang pasien covid dan pemilik warung menghilang di larikan orang tak dikenal"
***
Kampus Universitas Kota Tapus terlihat sepi, tak seperti biasanya hanya terlihat satu dua mahasiswa yang lalu lalang di kampus. Memang semenjak mewabahnya virus corona proses perkuliahan di universitas Kota Tapus hanya di laksanakan melalui daring atau zoom meeting, karena itu hanya mahasiswa yang memiliki urusan saja yang datang ke kampus. Demikian halnya dengan Albara mendatangi kampus hari ini untuk urusan pendaftaran ujian sarjananya.
Setelah urusannya selesai Albara duduk di sudut kampus dengan lesu, gairahnya seperti menghilang saat menginjak kampus. Dengan senyum di paksakan Albara membalas sapaan tiap mahasiswa yang lewat. Albara rindu bertemu temannya, rindu ingin berjumpa Mulan, Namun saat dia mencoba ngobrol dengan beberapa mahasiswa yang dia kenal dia kehilangan gairah hidup sama sekali, di depan teman temannya Albara tidak mampu bicara hanya senyum senyum di paksakan, dengan sendirinya Albara akhirnya menjauh mencari tempat yang benar benar sunyi.
Dibukanya handphonenya yang selama ini tak pernah dia buka karena memang di tempat tinggalnya tidak ada sinyal. Banyak sekali pangilan, sms dan wa yang masuk selama dua bulan ini. Di bukanya satu persatu, panggilan paling sering dari kakeknya Sultan Murod, lalu wa dari Doni, Manto, Laila, Anita dan sederet nama lainnya. Semua mereka menanyakan keberadaannya dan menanyakan kabarnya.
"Tak satupun wa dan panggilan dari Mulan" guman Albara tak percaya.
"Bagaimana mungkin perasaan ini seperti nyata kalau Mulan selalu mengikuti langkahnya, rasanya Mulan sedang sangat membutuhkan Albara, rasanya Mulan sedang dalam kesedihan yang tak tertangggungkan, tapi nyatanya Mulan telah melupakan Bara, wa tak pernah di balas, telepon tak pernah lagi di aktif kan" Pikir Albara mengeluh.
"Benar benar Albara telah tertipu oleh perasaan" guman Albara sadar lalu tertawa sendiri mentertawakan kebodohannya.
Namun tiba tiba perasaannya kembali berubah Albara merasa Mulan seperti tau apa yang dia pikirkan, Mulan seperti tau apa yang sedang dia keluhjan, Mulan menjadi sedih seolah membantah pikiran Albara.
"Mulan tak pernah melupakan kak Bara, Mulan sangat merindukan kak Bara" jerit mulan lalu menangis pilu.
Kesedihan yang di rasakan Albara seolah nyata melihat Mulan yang sedang meratap pilu, membuat Albara ikut menangis pilu tak sadar Albara sudah berteriak memanggil manggil Mulan.
"Mulan... Mulan..." teriak Albara sambil menangis sesugukan.
Dari kejauhan seorang mahasiswi yang dari tadi memperhatikan Albara yang tertawa sendiri lalu menangis memanggil manggil Mulan. Aza seorang mahasiswi teman Mulan merasa kasian memandangi Albara, setelah sekian lama menghilang tiba Albara muncul dengan penampilan dekil, rambut gondrong, kumisan dan jenggotan.
__ADS_1