Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 198


__ADS_3

Sugesti yang tertanam pada penduduk Rindu Hati akan kemuculan putri Hena dan pasangannya akan menjadi penyelamat Negeri Bunian dari cemgkraman penyihir hitam. Semangat tempur mereka yang telah lemah menjadi kuat kembali saat kemunculan Arziki dan Anggiriana di udara yang mereka anggap putri Hena dan pasangannya.


Sapu terbang yang di kendarai Charlian terlihat berputar hebat sebelum jatuh menukik sangat cepat.


"Ahhhh" Charlian menjerit ketakutan saat sapu terbangnya menukik berlutar lalu menabrak tembok kota, tubuhnya terbanting tak bernyawa lagi.


Detik detik terakhir di udara, Charlian masih memberikan perlawanan sengit dengan menghujani Stigler dengan bola bola api.


"Ahhhhh" teriak Stigler yang sejak tadi juga terluka, sapunya terkena salah satu bola api hingga terbakar.


Tidak ada cara lain bagi Stigler menyelamatkan diri selain melepaskan sapu terbang nya, melihat ini Anggiriana dan Arziki membawa sapunya menukik berusaha menyelamatkan Arziki.


"Stigler pegang tagan ku" teriak Arziki


"Tap" Stigler menyambar tangan Arziki dan melompat ke sapu Arziki.


Arziki berlahan lahan membawa Stigler di tuntun Anggiriana hingga mendarat di rumah penyihir putih dari timur.


"Kamu telah selamat tunggu kami di sini kami akan kembali" ucap Anggiriana.


"Siap ..." ucap Stigler


Anggiriana dan Arziki kembali melesat ke udara membantu Penyihir Putih dari timur, yang sedang menghadapi pormasi barisan enam dewa dari penyihir hitam. Tidak salah jika penyihir putih dari timur sangat populer di dunia Bunian, walaupun di keroyok enam penyihir hitam dia masih sanggup memberikan perlawan sengit, hingga barisan enam dewa penyihir hitam kocar kacir.


"Putri Hena" Ucap Stigler berlutut saat mengenali putri Hena.

__ADS_1


"Jangan terlalu sungkan.. siapa anda?" tanya putri Hena.


"Saya Stigler utusan Jendral Kahlien untuk menjemput putri.


Mendengar di sebutnya jendral Kahlien, putri Hena terlihat girang wajahnya berseri seri harapan untuk menemukan orang yang mampu membenaskan kutukan ayahnya timbul kembali.


"Ayo kita berangkat ucap putri Hena"


Saat itu matahari sudah naik tinggi, tampak putri Hena, Albara dan Devina melanjutkan perjalanan mengikuti Stigler menuju kediaman Kahlien. Setelah pamit pada penjaga rumah penyihir putih dari timur, mereka melangkah keluar menyusuri kota rindu hati yang sudah sepi seperti kota Mati. Sepanjang perjalanan Stigler menuturkan berbagai kondisi terkini kerajaan bunian, mereka hanya mendengarkan dengan sabar dan tenang.


"Beberapa hari lalu beberapa orang pandai dari dunia manusia, dunia kristal dan dunia bunian sendiri seperti berlomba untuk mendapatkan seorang wanita dari dunia manusia yang di yakini adakah titisan bidadari tercantik dari sorga"


"Menurut penuturan orang-orang di dusun Pinggir kota rindu hati, Wanita itu benar benar cantik tapi dia tidak waras" Stigler terus bercerita.


"Ya... wanita tersebut Sedang dalam pengaruh hormon gertak birahi, malangnya di dunia bunian dia malah terkena pelet Dewa asmara yang di lepaskan kaisar penyihir hitam. Dia juga di guna gunai oleh Suparta seorang pria bumi yang tergila gila padanya".


"Bayangkan saja jiwa wanita tersebut di serang oleh tiga racun jiwa yang sangat ganas, Hormon gertak birahi, pelet dewa asmara dan guna guna manusia bumi yang kesemuanya sangat ganas"


"Dia benar benar seperti gila penampilan nya acak acakkan sudah tak terurus, berantakan sekalipun dia masih berpakayan tapi gerak gerik dan ucapannya, selalu mendesis seperti orang sedang bermesraan" ucap Stigler.


"Tiap melihat laki laki mimiknya seperti menggoda untuk bermesraan, akan tetapi setiap ada lekaki yang nencoba mendekat dan menyentuhnya dia berteriak memanggil nama seseorang"


"Albara tetiaknya lalu lari sekencang kencangnya"


Devina yang dari tadi diam akhirnya berkomentar.

__ADS_1


"Hemm, untung dia masih bisa melarikan diri. kita harus menemukannya kalau pengaruh hormon gertak birahi Devina bisa membebaskannya" ucap Devina.


"Kasihan sekali dia. Kita harus dapat cepat-cepat menemukannya, kalau tidak Devina khawatir istri kak Bara akan mengalami bencana. Dia masih terlalu hijau untuk merantau seorang diri, sekslipun kepandaiannya sudah cikup untuk dipakai melindungi diri sendiri"


"Tentu saja kita akan mencarinya sampai dapat. Aku tak kan mengampunai siapapun yang mencelakai isteriku" ucap Albara sudah sangat emosi dari tibuhnya sudah keluar percikan arus listrik tegangan tinggi.


...TAMAT...


****


Sampai di sini kisah petualangan Albara dan Mulan penulis akhiri, karena kisah mereka yang endingnya insyaallah akan lebih romantis dan menegangkan akan penulis gagas pada novel berikutnya dengan judul:


Bidadari Turun ke Bumi (Serial cincin pintak pinto II) dan Fhadlan Generasi Milinium Trendi.


Jangan lupa kasih semangat penulis dengan Like, hadiah, vote dan paporit.


Jangan lupa komentar untuk memperbaiki ending cerita.


......Terima kasih dukungan semuanya......


Selanjutnya dapat di ikuti di novel :



__ADS_1


__ADS_2