Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 185


__ADS_3

Serangan devina lihai sekali pedang di tangannya bergerak susul menyusul makukan serangan sangat berbahaya. Pertempuran kembali berjalan seru Suparta memang hebat tspi menghadapi serangan berantai dari pedang Devina dia sangat kerepotan sekalipun masih bisa mengelak.


Namun jurus devina saat ini terasa berisi dengan tenaga sakti dan dengan gerakan yang indah dan sukar di tebak sasaran nya. Setiap pedangnya membemtur pedang Devina pedangnya bergetar hebat hingga tangannya terasa kesemutan.


Suparta mulai berkeringat dari keningnya sudah mengepul uap putih, pertanda dia telah mengerahkan tenaga dalamnya penuh. Bertahan hanya dua puluh jurus tahulah Suparta bahwa dia tidak akan mampu memenangkan Devina. Gelapnya malam mbuat suparta bertempur menggunakan naluri sementara Devina lawannya seperti tidak terpengaruh sedikitpun oleh gelap nya malam.


"sshhhhh" Suparta mendesis tiba tiba dari lengan baju kirinya keluar uap hitam betacun berbau harum sekali.


"Devina Awas, racun ular laut pantai timur" teriak Albara.


Memang Albara sudah pernah merasakan bagaimana ganasnya racun yang di lepaskan Suparta. Tanpa di sadarinya dia telah melakukan sebuah pukulan jarak jauh ke arah Suparta, sehingga semua uap beracun yang di lepaskan Suparta buyar seketika.


"Kau hebat sekali nona, tidak mengecewakan sebagai putri Davendra, Saat ini saya masih ada urusan mencari calon istri, Lain kali kita lanjutkan" ucap Suparta dari kejauhan.


Saat Devina sibuk menghindari asap beracun, kesempatan ini di gunakan oleh Suparta sebaik baiknya untuk kabur, sehingga setelah asap beracun buyar tubuh Suparta juga telah lenyap, tak kelihatan lagi.


****


Setelah kehilangan musuh mereka Albara dan devina saling pandang seakan minta pendapat masing, mereka harus kemana dan harus bagaimana.


"Hanya dengan menemukan ratu Ledisya kita bisa menemukan Mulan" guman Albara.


"Ya kak.. Devina tau sekarang, untuk menemukan mereka kita harus melepaskan kutukan yang sedang menimpa Daffin si raja Tiraw" ucap Devina mengeluarkan peta yang di buat oleh Katerin.


"Devina benar, itu satu satunya yang bisa membantu, pencarian di lorong lorong goa nantinya" ucap Albara.


Setelah sepakat mencari Daffin mereka mulai berkelebat menyusuri lebatnya hutan, untungnya bulan purnama bersinar terang dengan cuaca yang cerah membuat perjalanan mereka tidak terlalu sulit.


Di sepanjang perjalanan mereka mendengar lolongan serigala, seakan akan hutan sekarang milik mereka.


"ini musim birahi serigala" ucap Devina saat lolongan anjing terdengar dekat di barengi lolongan dan geraman anjing jantan berkelahi memperebutkan serigala betina.


"Mereka tidak mengganggu kita kan?" tanya Albara.

__ADS_1


"Kalaupun mereka mengganggu, kita takut apa kak!!! kita kan bisa keatas pohon" ucap devina.


Tengah malam barulah meteka menemukan titik tolak jalan menuju goa tempat di mana Daffin raja Tiraw dan Jayendra raja bunian sedang menjalani kutukan.


Keterin menggambar peta dengan akurat sekali sehingga mereka mampu menyusuri jalan yang mereka lalui. Dibantu dengan petunjuk adanya bekas pohon pohon kecil yang di rambah oleh pak bukhari membuat perjalanan mereka menjadi lancar.


"Untungnya pak Bukhari selalu merambah pohon pohon kecil pada jalan yang Mereka lalui" ucap Devina.


Albara mengiakan pendapat Devina


"Memang benar.. seperti itu kebiasaan orang tua tua di Kota Tapus saat mereka tersesat di dalam hutan, itu fungsinya untuk menandai tempat, jika mereka di cari seseorang maka orang yang mencari mereka akan tau dengan melihat bekas kayu yang mereka rambah, bahkan orang akan tau arah mereka dengan melihat arah robohnya kayu" ucap Albara.


"Cik cik cik" Devina berdecak kagum


"Bagaimana mereka membacanya kak?" tanya Devina.


"Coba perhatikan kayu bekas rambahan pak Bukhari ada di kiri kita, robohnya jelas kekiri jalan kan?" tanya Albara.


"Iya benar kak" jawab Devina memperhatikan bekas rambahan pak Bukhari.


"Iya ya benar juga" ucap Devina mengerti.


Mereka akhirnya sampai di sebuah tempat di mana banyak terlihat batu batu besar seolah meja meja tempat duduk. tidak jauh dari tempat tersebut terlihat sebuah pondok batu.


"Kita sudah sampai harusnya kak" ucap Devina.


"Iya sepertinya ini pondok batu yang di maksud dalam peta" Devina menunjukkan dua buah batu besar terhubung dengan tebing sebuah bukit di belakangnya, di atasnya ada batu lebar berfungsi sebagai atap.


"Tapi tidak ada goa di belakangnya ucap Albara.


"Ya aneh, jika kita tidak keliru pondok batu ini seharusnya terhubung dengan goa di belakangnya" ucap Devina mengamati peta.


"Coba kakak periksa" ucap Albara menuju pondok batu di depannya.

__ADS_1


"Benar tidak ada goa di belakang pondok" guman Albara.


"Haiiiit" Albara melompat mundur saat merasakan kakinya tersandung sesuatu yang lembut.


"hik hik hik Selamat malam, apakah kalian Manusia?" bunyi ketawa seperti ketawa nenek nenek sihir.


Entah kapan dia datang tau tau seorang wanita berpakaian serba putih sudah berdiri di depan pitu pondok.


Albara sempat merinding melihat penampilan mahkluk di depannya, perempuan dengan rambut panjang sepinggang terburai acak acakan, dengan mukanya hampir seluruhnya tertutup rambut.


"Iya kami manusia nek" suara Albara agak gemetar.


"hik hik hik hik ... Iya saya tau kalian manusia, saya sudah pernah lihat manusia sebelumnya" ucap wanita di depan pondok dengan suara tawa nyaring membuat buku kuduk Albara merinding.


"Hik hik hik, perlu apa malam malam kesini?" tanya wanita di depan pondok.


"Kami mencari Daffin raja Tiraw, menurut teman kami tinggalkan di goa di belakang pondok ini" ucap Albara.


"Hik hik hik.. kalian lihat di sini tidak ada goa, dan ini pondok penghuninya saya seorang, tidak ada Daffin di sini tidak ada orang di sini" ucap wanita di depan pondok di sela tawanya.


Albara jadi salah tingkah, merasa memasuki rumah berpebghuni tanpa permisi.


"Wah maaf nek kami salah alamat, ayo Devina sebaiknya kita pulang saja" ucap Albara.


"Tunggu kak" ucap Devina mendekati wanita di depan pondok.


"Bolehkah kami mengenal nini yang cantik?" tanya Devina.


"Siapa kalian dan ada perlu apa mencari Daffin?" tanya wanita tersebut menghentikan tawanya saat devina sudah berdiri sangat dekat di depannya.


"Saya Devina, dan ini kakak saya namanya Albara, kami mencari Daffin untuk minta bantuannya untuk menemukan ratu Ledisya penguasa Tiraw yang sedang menawan teman kami, nini siapakah bisakah menolong kami?" tanya Devina.


'Siapakah teman kalian yang memberi tahu tempat ini" ucap wanita di depan mereka dengan wajah mulai serius.

__ADS_1


"Sebaliknya urungkan niat kalian sebelum berurusan degan Ratu Rania si penyihir putih" ucap wanita tersebut.


"Devina tau, mereka putri Hena, Daffin si raja Tiraw, Jayendra raja Bunian dan Qirani si ratu bunian ada di sini, tanpa bantuan nini kami juga akan berusaha membebaskannya walaupun akan berhadapan dengan penyihir putih atau hitam" ucap Devina menantang.


__ADS_2