Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 117


__ADS_3

prof. Lee Shu Wan dan tante Vania menggantar Albara dan Doni ke teras rumahnya. Kembali prof Lee Shu Wan menasehati Albara.


"Kerjakan saja semua Aktivitas harian nak Bara seperti biasanya. jangan terlalu terpengaruh dengan perasaan. Bisa jadi apa yang di rasakan nak Bara merupakan gejala jiwa orang banyak. Dalam ilmu kebatinan ada intuisi kebatinan yang di sebut gejala jiwa orang banyak seering di alami tokoh Nasional, tokoh politik, atau seseorang yang menjadi figur publik"


"Dimana mereka merasakan saat saat yang sangat sulit hingga merasakan sesuatu yang tak tertanggungkan, saat itulah mereka merasakan gejala jiwa yang berasal dari berbagai sumber, tekanan dari musuh mereka atau sanjungan dari pengikut mereka. Sehingga sulit menentukan siapa pemilik gejala jiwa tersebut"


"Bisa jadi gejala kejiwaan yang terasa berasal dari sahabatnya, keluarganya, tapi dia rasa seperti kekasihnya" ucap prof Lee Shu Wan.


"Misalnya kesedihan yang nak Bara rasakan bisa jadi perasaan kakek, atau teman teman Albara yang kasian dan peduli dengan Albara, tapi terasa bagi nak Bara sebagai Mulan kekasih nak Bara yang dominan dan sering terasa dalam batin nak Bara" kata prof Lee Shu Wan.


"Terima kasih om, nasehat om akan selalu jadi perhatian Albara" kata Albara saat meninggalkan rumah prof Lee Shu Wan saat meninggalkan kediaman prof Lee Shu Wan.


****


Doni, Laila, Manto, Yuni dan Sena telah menyelesaikan ujian sarjana mereka. Hari ini mereka nengunjungi Albara di perkebunan tempat tinggal Albara untuk merayakan kelulusan Albara yang dua hari lalu telah dinyatakan lulus sekarang bergelar Sarjana Management. Semenjak dua hari yang lewat Albara sudah resmi bergelar SM, atau di sebut Albara SM.


Jam delapan pagi mereka sudah sampai di kediaman Albara. Devina, Laila, Yunita dan Sena terlihat sibuk di dapur mempersiapkan sarapan pagi mereka, Budiman sibuk membuatkan kopi untuk Albara, Doni dan manto.


Albara mengajak Doni dan Manto duduk di sebuah taman yang terletak di pinggir telaga bening, sekitar seratus meter di belakang rumahnya. Pemilik terdahulu rupanya memiliki jiwa seni yang tinggi, dengan arsitek kekinian, mata air di belakang rumahnya di bendung menjadi telaga yang luasnya kira kira dua ratus lima puluh meter persegi. Di beberapa sudut dan sisi telaga terdapat pondok yang di rancang dengan fasilitas untuk bersantai keluarga, sebuah bangunan utama terdapat di salah satu sisi agak menjorok ke dalam telaga sehingga terlihat seperti berada di atas telaga.


Telaga terlihat seperti sebuah oase di tengah gurun pasir yang di kelilingi pohon kurma. Dari telaga air di alirkan ke sebuah kolam ikan lalu dari kolam tersebut, mengalir air yang membentuk anak sungai kecil yang membelah perkebunan kurma milik Albara.


Albara membawa Doni dan manto ke bangunan utama yang terletak di atas telaga bening. Sebuah bangunan dengan kerangka baja yang cukup luas, di lengkapi fasilitas yang terkesan mewah. Pemilik sebelum Albara sepertinya merancang bangunan ini sebagai kantin di masa depan.


"Laila sepertinya kurusan ya Man" kata Albara pada manto saat mereka duduk di sebuah meja yang tadi sudah di bersihkan Budiman.

__ADS_1


"Benar Bara, kasian Laila tiga bulan terakhir sangat menderita di tinggal kekasihnya Ardi" ucap Manto.


'Emang Ardi menikah dengan wanita lain, lalu Laila di campakkan?" tanya Albara geram.


"Bukan Bara, Doni kamu aja yang kasih tau Albara" ucap Manto pada Doni.


"Ooo iya Bara, sebenarnya dari kemaren kemaren Doni sudah ingin ceritakan pada Albara, tapi belum punya waktu yang tepat. Tapi hari ini seperti ada takdir yang menngerakkan, tadi pagi kami saya dan Manto diminta orang tua Laila menseritakan keadaan Laila pada Albara" ucap Doni.


"Tiga bulan yang lewat Pak Ardi tunangan Laila, bersama kak Riki mengikuti expedisi penelitian mahasiswa dari Swis yang akan meneliti pilar pilar peninggalan belanda ratusan tahun silam" cerita Doni.


"Terus" tanya Albara tidak sabar saat Doni berhenti bercerita.


Budiman masuk membawa termos kopi dan gelas lalu meketakkannya di meja mereka. Di belakang Budiman Devina membawa cemilan untuk mereka.


"Terima kasih" kata Manto.


"Terus bagaimana ceritanya?" tanya Albara setelah Budiman dan Devina berlalu.


"Cantik juga tetangga kamu bara malah lebih cantik dari Mulan, sepertinya dia ada hati sama kamu Bara" kata Manto.


"Buat kamu aja" kata Albara.


"Akukan sudah punya sena" jawab Manto.


"Lanjutkan ceritanya Doni" kata Manto tak mau memperbincangkan Devina lagi.

__ADS_1


"Terget mereka paling lama hanya tiga minggu, tapi setelah satu bulan mereka belum kembali, selama sebulan juga sanak family dan masyarakat kota tapus, di bantu aparat kepolisian menyusuri hutan mencari keberadaan mereka" ujar Doni.


"Setelah tidak ada tanda tanda atau jejak mereka berada, akhirnya tim pencari orang hilang menghentikan pencarian. Sanak family pak Ardi dan kak Riki juga menghentikan pencarian setelah kejadian mereka hampir saja celaka di serang sekor harimau untung waktu itu ada petugas kepolisian membantu mereka" ucap Doni.


"Kami juga mencemaskan kondisi Laila saat ini, semenjak hilangnya Ardi, Laila tidak mau di ajak bicara, dia lebih banyak berkurung di kamar" kata Manto memyela cerita Doni.


"Omong omong bagaimana hasil penyelidikan kamu di goa Tiraw?" tanya Doni pada Albara.


"Tidak ada petunjuk dan tidak ada harapan, Albara sudah menelusuri berbagai tempat tapi tidak menemukan jalan ke goa Tiraw, mungkin benar kata prof Lee Shu Wan kalau Albara harus menyerah pada kenyataan, apapun rasanya inilah kenyataan hidup yang seharusnya Albara terima" ucap Albara.


"Begini Bara Saya dan Manto tadi pagi saat menjemput Laila, orang tua Laila meminta kami membicarakan nasib Laila juga dengan Albara, kami di minta bicara dengan Albara. Bagaimana jika kalian berdua di jodohkan menurut mereka kalian itu sudah akrab semenjak kecil, memiliki nasib yang sama, jika Albara setuju kami akan bicara dengan Laila" kata Manto.


Albara tidak menyangka dengan apa yang di katakan Manto, terpaku diam tak menjawab hingga waktu yang cukup lama barulah Albara bicara.


"Hati Albara itu hanya untuk Mulan, demikian juga Laila hatinya hanya untuk Ardi, kami hanya memiliki rasa persahabatan" ucap Albara


"Iya Bara, Doni tau itu, tapi Doni juga berpikir sama dengan orang tua Laila, kalian itu serasi bangat, kalian sudah akrab semenjak kecil, sekalipun di antara kalian hanya punya rasa persahabatan. Tapi Doni yakin dengan modal persahabatan rumah tangga kalian akan sangat harmonis" kata Doni bersemangat.


"Doni pikir ini adalah kenyataan yang layak di syukuri, jangan jangan seperti yang di ungkapkan prof Lee Shu Wan tentang gejala jiwa orang banyak. bisa jadi perasaan sedih yang Albara rasakan merupakan perasaan Laila, kalian kan sangat akrab sekalipun hubungan kalian cuma sebatas persahabatan" kata Doni.


"Tapi karena jiwa bara lebih sering dan dominan merasakan jiwa Mulan, hingga semua jadi terasa seperti Mulan" Kata Doni.


"Entahlah don, tergantung Laila saja, tapi kita lihat hingga beberapa bulan kedepan kami akan mencoba menjejaki pribadi masing masing" kata Albara.


"Siip ini baru sahabat kami" kata Doni dan Manto serempak.

__ADS_1


__ADS_2