
Dari kejauhan terdegar senandung seorang wanita yang terdengar seperti sedang kesepian, senandung lagu seorang wanita yang merindukan kekasihnya. Makin lama terdengar makin asyik lebih asyik dari senandung artis terpopuler saat ini. Senandung yang membuat semua orang ingin mendekatinya.
"Senandung buluh perindu" guman Riki.
"Saya pernah dengar dari orang tua tua jika di lembah timbun tulang, tumbuh buluh perindu yang di miliki oleh Dewi Kecantikan, dalam mitos barat dewi kecantikan di kenal dengan dewi venus" kata Riki.
"Dewi yang kecantikannya akan membuat seseorang tidak ingin bergerak saat menatapnya, sehingga semua mahluk baik manusia, hewan ataupun bangsa jin, yang datang ke sini akan mati pelan pelan menatap wajahnya atau cuma mendengar senandungnya" lanjut Riki.
"Seperti suara Avril Lavigne dalam lagunya when you're gone" kata Julian.
"Benar yang lagunya saat engkau pergi, berkisah tentang rindunya saat kekasihnya pergi" kata Ardi.
"Semua mahluk yang datang ke lembah timbun tulang, kabarnya tidak ada yang mampu untuk kembali kecuali burung gagak hitam"
"Mereka akan diam di sini hingga tubuhnya tinggal tulang belulang, itulah sebabnya lembah ini di sebut lembah timbun tulang" sambung Riki.
Kembali senandung wanita terdengar
"Saat kau pergi meninggalkan baju yang tergeletak di lantai.
Bauknya seperti bauk tubuhmu yang sangat ku suka.
Bauk yang membuat hatiku makin merindukanmu.
Datanglah wahai kekasih, aku sangat merindukanmu."
"Dewi venus? apakah itu suara Dewi Venus, saya ingin lihat" kata Julian lalu melangkah begitu saja seakan lupa dengan teman temanya.
"Julian.. kembali" kata Riki.
"Siapapun dia pasti sangat kesepian" guman Julian.
__ADS_1
Julian yang terlanjur maju berjalan dengan santai sambil bersenandung, seolah membalas senandung wanita yang sayup sayup terdengar seolah berasal dari tengah lembah.
"Aooo Aooo Aooo Aooooo" Aditya tiba tiba mengaum aneh terdengar seperti kucing jantan yang sedang mendengar kucing betina yang sedang birahi.
"Aooooo Aoooo Aooo Aoooo" sayup terdengar bunyi yang sama.
Sekitar sepuluh meter memasuki lembah tambun tulang terlihat Julian terdiam mematung, di depannya berdiri tegak sebuah tembok besi sepanjang lima meter, setinggi tiga meter, entah dari mana datangnya telah menghalangi jalan Julian. Pada saat yang sama Riki dan teman temannya telah terperangkap dalam sebuah gelembung yang tembus pandang hingga mereka tidak bisa ke mana mana.
"Aku akan menyusul Julian" ucap Claira tapi langkahnya terhenti terhalang gelembung yang membungkus mereka.
Aditya di luar gelembung terlihat semakin liar dan bringas saat terdengar suara suara, seperti kucing jantan birahi.
"Aooo Aooo Aooo Aooo" suara yang sama seperti yang di keluarkan Aditya terdengar ramai dari berbagai tempat.
Mata Aditya makin memerah dia seperti kucing jantan yang tak ingin di saingi kucing jantan lain dalam memperebutkan betinanya yang birahi. Tubuh Aditya mulai di tumbuhi bulu bulu, dari jari tangan dan jari kaki keluar cakar cakar runcing dan dari mulutnya keluar empat taring taring tajam. Hanya hitungan detik Aditya telah berubah sepenuhnya menjadi harimau belang putih yang sangat besar. Harimau putih memandang Riki dan teman temannya dengan ganas, lalu menggigit gelembung di mana Riki dan teman temannya terperangkap di dalamnya.
Di kejauhan terlihat tembok besi yang menghalangi jalan Julian berlahan mulai meleleh seperti es yang mencair. mencairnya tembok besi di ikuti mencairnya tubuh Julian. Tanpa ada suara atau keluhan, tubuh Julian mencair menyisakan tengkorak yang masih berdiri tegak.
"Julian Julian Julian Julian Julian" jerit mereka histeris.
Aditya menyeret gelembung yang berisi tubuh Riki dan teman temannya, seperti mennyeret karung kosong yang ringan saja. Berlari cepat hingga ke puncak bukit, Aditya berhenti saat melihat jurang terbentang di depannya. Dari sela sela lebatnya pohon mereka masih bisa melihat lembah yang memutih berisi tulang belulang.
Senandung wanita yang kesepian sudah tak terdengar lagi, Aditya mulai terlihat tenang lalu duduk di sisi gelembung matanya masih menggbarkan kebuasan. Tak lama kemudian harimau jelmaan Aditya sudah kembali ke sosok aslinya.
Di depan aditya terlihat kilatan semacam sinar yang membentuk layar monitor seukuran laptop. Terlihat ada tanda telepon masuk, Aditya menekan tombol ok, lalu terdengar suara seseorang.
"Hallo kapten Aditya apa anda baik baik saja!" ujar suara di telepon.
"Baik kamu bagaimana Bhalendra?" tanya Aditya.
"Sedang ada masalah tapi saya yakin masih bisa mengatasinya, sekarang apa perintah komandan Aditya?" tanya Bhalendra.
__ADS_1
"Saya sudah mendapatkan target, sepertinya target tidak memiliki program, saya akan bisa atasi sendiri kalian tunggu perintah selanjutnya" kata Aditya melirik Riki dan teman temannya dalam gelembung.
"Siap komandan, kami akan mengirim bantuan jika di butuhkan" kata Bhalendra.
"Zzzzzzzzt syuuuuuuuuuuuuuut" suara sesuatu terdengar nyaring.
Aditya menutup teleponnya saat sesuatu terdengar nyaring. Dari arah sebrang lembah terlihat sebuah pesawat seperti piring terbang melesat dengan sangat cepat ke arah mereka.
"Apa..., kalian menemukan ku!" Teriak aditya mengarahkan sebuah senjata yang belum pernah di lihat di muka bumi. Aditya seperti siap menembak piring terbang yang melesat cepat ke arahnya.
"Syuuuuuuuut" bunyi piring terbang berhenti saat berada di atas lembah tambun tulang, seperti air hujan menetes seluruh bagian piring terbang mencair berguguran ke lembah tambun tulang. Seluruh bagian piring terbang mencair kecuali menyisakan lima sosok tengkorak yang terus melesat dan jatuh tak jauh dari Aditya.
Pemandangan ini makin membuat riki dan teman temannya ketakutan apalagi Aditya memperlihatkan pandang mata yang sangat menakutkan. Mereka mencoba untuk kabur tapi tidak mampu keluar dari gelembung jikapun mereka bisa keluar mana mungkin bisa menghindar dari Aditya yang selalu siap siaga di luar gelembung.
****
Kita kembali lagi ke Ibukota melihat keadaan Khoiril dan Albara, di bab terdahulu kita sudah ceritakan bagaimana Khoiril yang bahunya tergores panah api neraka. luar biasa sekali wajar kalau di katakan panah api Neraka, hanya tergores sedikit Khoiril merasakan panas bukan main otaknya menggelegak saat panas menjalar ke kepalanya.
Khoiril terjun ke sebuah sungai sehingga air yang di lalui di sekitar bahunya mendidih. Khoiril kelepar klepar di sepanjang sungai hanyut sejauh lima ratus meter hingga diam takbergerak. Saat itu seseorang berseragam hitam bersulam benang emas di dada kirinya, berdiri di pinggir sungai menatap Khoiril. Terlihat dia menggerakan tangannya seketika tubuh Khoiril terbang ke udara mendarat tepat di depannya.
"Hmmmm korban panah api neraka" gumamannya setelah melihat tubuh Khoiril sudah masak seperti ikan di rebus.
"Benar benar kuat dia, jantungnya masih berdetak sekalipun lemah" lalu tangannya di tempelkan di bahu Khoiril yang tergores anak panah api neraka.
"Ceeeees" terdengar suara seperti besi panas yang di celupkan ke dalam air.
Ajaib tubuh Khoiril yang terlihat sudah seperti daging rebus, pelan pelan seperti berubah hidup lagi. Perubahan di mulai dengan menutupnya luka di bahu Khoiril lalu menjalar kesekujur tubuhnya. Saat perubahan sampai di ujung kepalanya Khoiril membuka matanya berusaha untuk bangkit.
"Tunggu dulu... kaki mu belum pulih" kata lelaki di samping Khoiril.
"Oooh " keluh Khoiril.
__ADS_1
"Ketua engkau datang" lanjut Khoiril.
"Tuan Samiri, engkau benar benar Tuhan" kata Khoiril yang telah duduk dan memperhatikan kakinya berangsur angsur mulai pulih.