Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 108


__ADS_3

Semenjak utusan Pak Sekda kota tapus menyampaikan pembatalan pertunangan Mulan dengan Albara, kesehatan Sultan Murod makin memburuk. Abu Musa anak Sultan Murod terpaksa membawa ayahnya kerumah sakit Kota Tapus untuk di opname.


Meningkatnya kasus covid mengharuskan pihak Rumah Sakit membuat peraturan kalau semua pasien tidak boleh di bezuk apalagi di tunggui keluarga, dalam hal ini pihak keluarga menyerahkan sepenuhnya pasien pada petugas kesehatan rumah sakit. Setiap pasien akan di lakukan tes sweb sebelum di lakukan penanganan selanjutnya. Jika hasil sweb pasien positif maka pasien akan di pulangkan untuk selanjutnya akan di rujuk ke rumah sakit provinsi.


Dwmikian halnya dengan Sultan Murod dirumah sakit tidak begitu saja di tangani, dia harus melakukan tes sweb terlebih dahulu. Setelah melakukan tes sweb terhadap Sultan Murod, petugas rumah sakit memanggil Abu Musa, untuk di tanyai beberapa hal.


"Pak Musa... kelelurga Sultan murod?" tanya petugas.


"Ya saya anaknya" jawab Abu Musa.


"Apakah pak Murod pernah keluar kota selama sebulan terakhir?" tanya petugas rumah sakit.


"Tidak dok" kata abu Musa.


"atau pernah kontak dengan penderita covid" tanya petugas lagi.


"Tidak juga, dok" jawab Abu Musa.


"Pak Musa.. Hasil swep pak Sultan Murod ternyata positif, karena menurut prosedur yang di berlakukan di rumah sakit maka Sultan Murod akan di isolasi dan di rawat di salah satu rumah sakit yang di tunjuk menangani kasus kopid di Ibukota Provinsi, itupun jika pihak keluarga Sultan Murod setuju. Sedangkan pak Musa dan keluarga akan di isolasi mandiri selama tiga minggu di rumah" kata petugas lagi.


"Jika pihak keluarga tidak setuju maka perawatan akan di lakukan di rumah pasien melalui bidan setempat" lajut petugas


"Bagaimana pak Musa?" tanya petugas meminta kepastian Abu Musa.


Abu Musa terlihat berpikir sejenak, jika Di rumah sakit Provinsi ayahnya Sultan Murod akan ditempatkan di sebuah ruangan yang tidak boleh di kunjungi. Sedangkan jika di rawat di rumah akan ada kemungkinan terjadi pengusiran oleh warga seperti yang di alami beberapa warga bahkan ponaannya sendiri di usir warga saat tes swebnya positif.


"Biar di rawat di rumah sakit Provinsi saja dokter" jawab Abu Musa.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, hari ini pak Sultan Murod kita rawat dirumah dulu, besok pagi petugas kami akan menjemputnya untuk di bawa ke Provinsi"


"Silahkan pak Musa teken surat pernyataan kesedian keluarga, biar segera di proses dan di urus keperluan pak Sultan Murod ke Provinsi besok pagi" dokter memberikan belangko untuk di teken Abu Musa.


Setelah dibaca dan di teken Abu Musa, mengembalikan surat pernyataan pada dokter, lalu dokter meminta perawat pasang infus dan memngemas beberapa obat yang harus di berikan di rumah. setelah semua perlengkapan dan obat di kemas, dengan di dampingi perawat yang nengenakan kostum khusus Sultan Murod di bawa kembali kerumahnya.


"Kami tinggal dulu pak Abu Musa, sering dilihat infusnya jika habis segera di ganti" ucap petugas bergegas kembali kerumah sakit.


Sultan Murod di minta istirahat dulu di tunghui Abu Musa di rumahnya. Rumah Sultan Murod di kosongkan, anak dan istri Abu Musa di minta kembali kerumahnya. tingallah Abu Musa dan ayahnya berdua di rumah Sultan Murod. Abu Musa yang tadi gelisah agak mulai tenang setelah panas tubuh Sultan Murod mulai turun.


Abu Musa merenung memikirkan nasib Albara yang telah terusir saat sakit, mungkinkah Albara akan sembuh dari covid tanpa perawatan?, dimana Albara sekarang? berbagai pikiran negatif mulai timbul pada dirinya.


Timbul penyesalan dalam diri Abu Musa kenapa dia harus ikut mengusir Albara saat itu. Kenapa tidak di bawa kerumah sakit kalau memang positif kopid. Semalaman Abu Musa tidak bisa tidur saat berpikir tentang pengusiran Albara.


Berita positifnya tes sweb Sultan Murod sudah dirilis di internet, dengan judul "satu lagi warga Kota Tapus terpapar kopid". Hingga dalam waktu cuma satu malam masyarakat sudah heboh, tetangga pada mulai ketakutan.


Jam setengah delapan pagi secara spontanitas warga bergerak mendatangi beberapa warung sarapan pagi tak jauh dari rumah Sultan Murod. Puluhan warga berteriak meminta pemilik warung menutup warungnya.


"Tutup... tutup.... tutup" teriak warga bersamaan.


"Kami himbau pada pemilik warung, untuk sementara hanya melayani pelanggan via telepon" teriak salah satu warga.


"Jangan membahayakan warga, dengan menerima penggunjung yang akan menyebarkan virus copid, apalagi pelanggan dari luar kota" kembali warga berteriak mengingatkan pemilik warung.


"Pak tutup aja warungnya warga sedang takut, mereka juga akan mengusir Sultan Murod yang tes swebnya di nyatakan positif kemaren" kata seorang pelanggan yang baru saja memesan sarapan.


"Kalau tutup kami mau makan apa bang?" tanya pemilik warung.

__ADS_1


"Dari pada bapak di usir dan warungnya ditutup paksa oleh warga, kan lebih baik di tutup sendiri" kata pelanggan yang lain.


Melihat warga mulai bringas pemilik warung tak ingin ribut segera menutup warungnya.


"Baik bapak bapak saya akan segera tutup cuma menunggu pelanggan menghabiskan sarapan dan kopi mereka" ucap pemilik warung.


"Benar ya, kalau setelah kami kembali dari rumah Sultan Murod warung belum tutup maka jangan salahkan warga" teriak salah satu warga.


Setelah mendapat kepastian kalau pemilik warung akan menutup warungnya, sebanyak lebih kurang 20 warga bergerak menghampiri rumah Sultan Murod.


Di warung masih ada warga yang sedang sarapan dan dua meja pelanggan sepertinya orang asing, yang kebetulan lewat dan berhenti.


"Saya dengar mereka akan mendatangi rumah Sultan Murod, ada masalah apa ya bang" tanya salah satu tamu pada seorang warga di meja sebelahnya.


"Kabarnya Sultan Murod sakit kovid, makanya warga tidak mau sultan murod di rawat di rumahnya" kata salah satu warga.


"Hmm, luar biasa menakutkan wabah copid bagi warga sini" tamu yang sepertinya berasal dari luar Kota Tapus menimpali, lalu berdiri menghampiri pemilik warung setelah membayar sarapannya, dia meninggalkan warung di ikuti dua orang temannya.


"Bang kalau begini lebih baik abang kerja di tempat saya aja" kembali tamu di meja sebelahnya lagi bicara dengan pemilik warung.


"Serius pak" tanya pemilik warung.


"Benar kalau abang setuju hari ini abang langsung kerja" katanya lagi.


"Kalau hari ini tidak bisa lah pak" kata pemilik warung.


"Kalau setuju sore nanti saya lewat sini abang kangsung berasama kami ke perusahaan, tapi kalau gak bisa ya gak pa apa" kata tamu tersebut sambil mengeluarkan lima juta uang seratus ribuan dari tasnya.

__ADS_1


"Ini anggap saja ganti rugi abang tidak buka warung hari ini" ucapnya menyarahkan uang lima juta pada pemilik warung, lalu meninggalkan warung di ikuti tiga temannya.


__ADS_2