Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 137


__ADS_3

"Barang kali benar, mari kita coba" kata putri Hena, lalu melangkah hati hati sekali mendekati kunang kunang yang hinggap di dinding agak jauh di depan mereka.


Kunang kunang kembali terbang menjauh saat putri Hena berada dekat, cahahaya kunang kunang yang terbang di atas mereka cukup membatu menyinari ruangan yang gelap gulita. Mata mereka yang sudah mulai bisa beradaptasi dengan kegelapan dengan batuan cahaya kunang kunang sudah bisa memeriksa keadaan ruangan.


Ruangan itu seperti ruangan tak berujung, banyak sekali pintu pintu di sisi kiri dan kanan. Dari pintu pintu yang hanya berupa jari jari besi terlihat ruangan yang agak sempit. Memang ruangan ruangan tersebut digunakan untuk tahanan bawah tanah, tentu jika ada penghuninya pastilah mereka orang orang penting.


Putri Hena memeriksa setiap ruangan sempit di kiri dan kanan, namun semua kosong. Mereka masuk semakin dalam hingga berakhir di sebuah ruangan yang sangat lebar tapi di sini juga kosong.


"Ya ampun" teriak putri Hena saat menabrak sesuatu.


"Ruangan ini tidaklah kosong, lihat di kiri kanan kita banyak sekali patung patung berjejer rapi" putri Hena mperlambat langkahnya.


Setelah lama di perhatikan ternyata patung patung tersebut sangat mirip manusia sungguhan, di tengah ruangan memang kosong seperti di biarkan sebagai jalan untuk di lewati mereka. Kesemua patung baik di kiri dan dan kanan menghadap kearah jalan saling berhadapan dibatasi jalan yang mereka lewati.


"Mereka bukan patung tapi lebih mirip manusia benaran" ucap Katerin yang berjalan dekat putri Hena.


Terdengar isak tangis putri Hena saat memeriksa semua patung patung terdepan di kiri kanan mereka.


"Mereka bukan manusia tapi sebangsa bunian" ujar putri Hena dalam isak tangisnya.


"Mereka adalah pengawal khusus Raja Jayendra yang sangat setia, mereka semua sudah di kutuk menjadi patung oleh Ratu Rania" lanjutnya.


"Bukankah Raja Jayendra yang berkuasa, tapi kenapa membiarkan Ratu Rania mengutuk para pengawalnya?" tanya Doni heran.

__ADS_1


"Tidak ... yang kalian lihat di ruang pesta bukanlah raja Jayendra, tapi bekas panglima ayah saya Raja Jayendra"


Putri Hena melanjutkan langkahnya dan terus bercerita.


"Dulu negeri bunian sangat damai hingga datang seorang manusia bernama Lord of Cip Man dari dunia kalian dan seorang manusia suku Jarjud dari Dunia Kristal. Mereka menawarkan kerja sama untuk menguasai dunia dan alam semesta, salah satu keinginan mereka adalah supaya Raja Jayendra bekerja sama dengan Lord of Cip Man, menghapus semua agama manusia, hingga manusia menyembah Lord of Cip Man sebagai tuhannya, lalu memindahkan sebagian bangsa Jarjud ke bumi kalian" cerita putri Hena.


"Lalu apakah ayahmu setuju?" tanya Manto.


"Tentu saja tidak, karena ayah saya Raja Jayendra merupakan penganut agama ketuhanan yang Maha Esa" jawab putri Hena


"Walaupun ayah menolak tawaran mereka, namun mereka tidak putus asa mereka menghasud panglima perang ayah paman Rajendra dan ahli ahli sihir untuk memberontak melawan raja Jayendra" ucap putri Hena.


"Sejak saat itu kerajaan bunian mulai bergejolak, kerajaan terpecah menjadi dua kekuatan, yaitu pemerintahan yang sah di bawah pimpinan Raja Jayendra dan kekuatan pembrontak di bawah pimpinan panglima Rajendra"


"Di setiap pertempuran para pembromtak yang di bantu oleh bangsa Jarjud selalu menemui kekalahan, Akhirnya mereka membujuk seorang selir Raja Jayendra yang sekarang menjadi Ratu Rania" kata putri Hena.


"Panglima Rajendra lalu naik tahta dan menikahi Rania sebagai Permaisuri kerajaan, tapi para penyihir tidak setuju mereka nenginginkan di adakan pemilihan unum memulih penguasa. Raja Rajendra memerintahkan tentaranya memerangi para penyihir dan pengikutnya, Kerajaan Bunian kembali bergejolak, di mana mana terjadi pertempuran hebat di setiap wilayah kerajaan bunian" Putri Hena berhenti sejenak menarik napas dalam dalam.


"Penyihir yang di bantu bangsa Jarjud dengan mudah menaklukan Raja Rajendra dan Ratu Rania dan setelah mereka bertempur dengan menggunakan sihir, kerajaan yang di pimpin oleh Raja Rajendra dan ratu Rania dikutuk jadi abu, hingga hanya tersisa istana yang kalian lihat tadi" tutur putri Hena sedih.


Setelah mereka mendekati ujung ruangan dari kejauhan terlihat sumber cahaya lain yang bukan berasal dari kunang kunang. mereka terus mendekati sumber cahaya tersebut, hingga lima menit perjalanan sumber cahaya tersebut makin jelas berasal dari bola kristal di ruangan lainya.


Putri Hena berhenti di depan bola kristal yang memancarkan cahaya redup di samping pintu masuk. Setelah memeriksa keadaan Putri Hena memasuki Ruangan di ikuti yang lainya, terlihat di sudut sudut ruangan juga terdapat beberapa bola bola kristal yang juga memancarkan cahaya redup. Sekalipun bola bola kristal memancarkan cahaya remang remang tapi isi ruangan sudah dapat di lihat dengan jelas.

__ADS_1


Di sisi kanan pintu masuk terlihat dua orang duduk di kursi singasana, tubuh mereka juga terlihat bercahaya, di kepala mereka terdapat mahkota. Mereka duduk seperti seorang Raja dan Ratu. Patung sang Raja terlihat sangat berwibawa matanya seakan tak lepas memandangi mereka, sedangkan ratu terlihat sangat cantik dan anggun, sosoknya sangat mirip putri Hena.


Di samping patung sang Raja juga terdapat singasana yang sangat megah di mana berdiri patung seorang kerdil tingginya tidak lebih dari satu meter, sosoknya terlihat tua dengan jenggot sebatas dada, rambut dan jenggotnya sudah putih semua. Lelaki tua kerdil juga memakai mahkota di kepalanya sedangkan di tangannya tergenggam sebuah palu yang memancarkan cahaya kemerahan.


Doni, Manto, pak Bukhari dan Katerin menetap ke tiga patung yang memancarkan cahaya, logika mereka bisa menerima saat melihat bola bola kristal memancarkan cahaya, tapi melihat kenyataan patung manusia memancarkan cahaya, logika mereka benar benar tak percaya.


Saat mereka menatap dua patung yang bercahaya tak berkrdip seakan tak percaya dengan apa yang meteka lihat, saat itu putri Hena justru duduk berlutut di depan ke tiga patung tersebut, isak tangisnya makin menjadi jadi.


"Ayah, ibu dan paman Tiraw maafkan Hena baru sekarang bisa mengunjungi yang Mulia" ratap putri Hena.


Kedua patung di depan putri Hena terasa seperti hidup, sekalipun tubuhnya diam tapi pandang matanya seakan memperhatikan putri Hena, bahkan dari patung sang ratu menetes air mata membasahi pipinya.


"Ayah, Ibu juga paman tentu sangat tersiksa oleh penghianat Rania si penyihir putih, maafkan Hena belum mampu membebaskan kalian dari mantra penyihir putih" putri Hena terus meratap di depan patung sang Raja.


Katerin ikut berlutut di samping putri Hena, tangannya membelai punggung putri Hena.


"Putri Hena jangan terlalu larut dalam kesedihan mari kita lihat kenyataan, melihat kemungkinan apa yang bisa kita lakukan" Katerin berusaha menghibur putri Hena.


Putri Hena menyeka air matanya berusaha menenangkan dirinya.


"Terima kasih Katerin" ucap putri Hena setelah agak tenang.


"Siapakah mereka, putri?" tanya Manto.

__ADS_1


"Mereka adakah Raja Jayendra dan permaisuri Qirani, ayah bunda Hena, sedangkan di singgasana sebelah nya adalah sahabat ayahanda paman Dhaffin Raja Tiraw" kata putri Hena memperkenalkan ke tiga patung di depannya.


"Maaf juga kalau putri Hena tidak mampu menyelamatkan kalian, justru putri Hena membuat kalian terkkurung di sini" ungkap Putri hena penuh penyesalan.


__ADS_2