
Setelah belok kiri dari lorong goa yang lebar, Albara dan devina kembali menelusuri lorong sempit dan gelap. Di ujung lorong Albara dan Devina saling tatap, seakan minta pendapat masing masing kemana mereka harus pergi!?. setelah mereka memasuki alam terbuka dimana semua jejak tidak bisa di tusuri lagi, sedangkan di hadapan mereka membentang sungai yang cukup lebar dan dalam.
"Kita nemyebrang dev" ucap Albara.
Devina mengangguk setuju.
"Iya kak Devina juga kepikiran kalau mereka menyebrangi sungai" ucap devina lalu tubuhnya lebih dulu berkelebat.
"Syuuut ... tap tap rap" tubuh Devina melesat bagai anak panah dan hanya tiga kali lompatan tubuhnya sudah berada di sisi sebrang sungai.
""Syuuut..... tap tap tap" Albara tak mau ketinggalan.
"Luar biasa peringan tubuh Kak Bara, air sungaipun tak menciprat saat terinjak kaki kak bara" puji Devina.
"Sama aja Devina juga tidak menimbulkan cipratan air saat mendarat di permukaan sungai" ucap Albara.
Albara dan Devina kembali melanjutkan pencarian jejak di sisi sungai yanag landai dan berpasir. Tidak sulit mereka mencari karna sebentar saja mereka telah menemukan jejak di atas pasir menghulukan sungai. Melihat jejak mereka Albara mempercepat larinya tanpa menghiraukan lelah pada dirinya.
Setelah jauh perjalanan menghulukan sungai di sebuah pulau yabg agak lebar kembali albara memperlambat larinya.
"Seperrinya di suni juga sudah terjadi pertempuran" ucap Albara.
Devina neneriksa beberapa tempat yang sudah porak poranda lalu berteriak.
"Kak ... sepertinya istri kakak benar benar ngamuk dan berhasil membunuh dua Tiraw" ucap Devina menunjukan mayat dua orang Tiraw.
Devina lalu memeriksa mayat yang tergeletak di balik batu cukup besar.
__ADS_1
"Sepertinya ini baru saja terjadi mayat mereka masih panas" kata Devina.
Tiba tiba Devina memberi isarat pada Albara untuk diam dengan menempelkan telunjuknya di bibir. Naluri harimau devina seperti mendengar nafas seseorang yang sedang ketakutan. Benar saja tak jauh dari tempat tersebut mereka menemukan ajudan Sekda dan ajudan ibu Susanti sembunyi di balik batu sebesar kerbau. di dekat mereka terlihat juga pak Sekda dan ibu Susanti yang tergeletak pingsan.
"Albara..." pekik Hasan kegirangan saat melihat yang datang adalah Albara.
"Bang Hasan apa yang terjadi?" tanya Albara setelah melihat Hasan agak tenang.
"Albara ... tolong kami" ucap Hasan lagi dengan tubuh masih genetaran.
"Abang cerita apa yang terjadi" kata Albara.
"Bara kita harus tinggalkan tempat ini sebelum bangsa Tiraw membawa kami" ucap hasan.
"Iya ... kita pulang tapi di mana Mulan?" tanya Albara.
"Mulan sedang mengejar Putri Mulani dan ratu Ledisya yang membawa Andree Lee dan ki Jaka Baya ke desa Kota Rawang" ucap Hasan.
"Kak kondisi ibuk Susanti cukup memperhatikan, kita bawa mereka ke kebun kurma kak Bara biar di urus Budiman dan prof Lee Shu Wan" ucap Devina.
Setelah mengetahui kemana Mulan Albara setuju membawa ibu Susanti dan pak Sekda kerumahnya di perkebunan kurma. Albara memanggul tubuh Sekda yang pingsan dan memggendong Hasan yang juga sudah sangat lelah. sementara devina memanggul ibu susanti dan menggendong ajudan ibu susanti.
"Bang hasan pegangan yang erat" ucap Albara.
"Kita ikuti aliran sungai biasanya pasti akan menuju sebuah desa" ucap Devina lalu melesat pergi di ikuti Albara.
Setelah beberapa saat mereka berlari menghilirkan sungai terkadang melompati jurang yang cukup lebar tibalah mereka di sebuah desa di pinggir Kota Tapus. Hari sudah mulai gelap perjalanan mereka sudah tak sesulit tadi saat mereka melewati jalan raya yang sepi. Sebelum tengah malam mereka sudah sampai di perkebunan kurma milik Albara.
__ADS_1
Pagi pagi sekali ajudan ibu susanti sudah sibuk membuatkan sarapan bagi mereka. Pak Sekda dan ibu Susanti duduk di ruang kelarga di temani Hasan dan Budiman. Albara menyeduh kopi dan teh untuk pak Sekda dan ibu Susanti. Saat itu juga Devina memasuki rumah bersama ibu angkat nya tante Vania dan ayah angkatnya prof Lee Shu Wan. Ibu Vania dan Devina mengambil tempat duduk di samping ibu Susanti.
Sambil menikmati sarapan pagi mereka mendengarkan cerita pak Sekda, saat bagaimana mereka di culik lalu di bawa kebawah ki Jaka Baya yang memelihara Tiraw. Di rumah ki Jaka Baya mereka bertemu ratu Ledisya penguasa Tiraw mereka di bawa menuju sebuah lorong yang sangat panjang.
"Rencananya ratu Ledisya akan membawa kami ke sebuah kota Dwarfania sebuah kota bangsa Tiraw yang terletak di bawah tanah. Sedangkan ratu Ledisya dan anaknya ratu Mulani membawa Andree Lee, Sopir Sekda dan ki Jaka Baya yang sosoknya telah berubah menjadi pak Sulaiman Gubernur terpilih, setelah di pasangi cincin oleh ratu Ledisya" cerita pak Sekda.
Pak sekda meneteskan air mata saat menceritakan keadaan Mulan putrinya.
"Sehari semalam kami menunggu di sebuah pulau, hingga akhirnya putri kami Mulan muncul menyelamatkan kami dari dua Orang Tiraw yang menjaga kami. Mulan ngamuk bagai sedang kerasukan lalu membunuh Tiraw yang menjaga kami" kata Sekda air matanya makin deras mengalir.
"Kami berempat menjerit ketakutan saat Mulan mendekat, bagaimana tidak muka mulan sudah berubah seperti tengkorak yang mengerikan. Ibunya pingsan saat menyaksikan wajah anaknya yang terlihat seperti korban bom atom hirosima di Jepang" kata pak Sekda.
Ibu Susanti ikut menangis mendengar cerita pak sekda.
"Mulan hanya bertanya pada kami kemana ratu Ledisya dan putri Mulani yang menyerupai dirinya pergi"
"Setelah mengetahui mereka pergi ke desa koto rawang, Mulan hanya berpesan supaya Albara tidak usah mencarinnya lagi" ucap pak Sekda memandang Albara.
"Pa Mulan tak ingin hidup dengan wajah seperti ini, tapi Mulan juga belum mau mati sebelum membasmi ratu Ledisya dan putri Mulani yang telah merampas kehidupan Mulan, ucap Mulan lalu pergi meninggalkan kami" cerita pak sekda.
"Pak Sekda dan ibu Susanti sebaiknya istirahat di sini dulu, jangan pikirkan hal lain lain, dan jangan dulu muncul ke kota tapus semua keperluan bapak dan ibu biar nanti di urus Abang Sarli" ucap Albara.
"Juga bang Hasan sama Mila ajudan ibuk Susanti juga di sini dulu, Albara yakin tempat kalian juga sudah di gantikan orang lain yang menyerupai kalian" ucap Albara pada Hasan dan Mila ajudan ibu susanti.
Setelah mendapat kode deri Devina untuk segera pergi Albara pun pamit.
"Pak .... bu... Albara dan Devina akan nyusul Mulan ke Koto Rawang, tetap lah di sini sampai kami kembali" ucap Albara lalu mengajak Devina pergi.
__ADS_1
*****
Perjalanan dari kota tapus ke desa Koto rawang jika di lakukan dengan jalan kaki biasanya memakan waktu dua hari tapi setelah jalan mobil di buka tetap saja harus di tempuh selama delapan hingga sepuluh jam. Hak ini bukan karena jarak tempuh yang jauh tetapi karena kondisi dan medan jalan yang extrim.