
Setelah menceritakan hubungan anaknya Mulan dengan Albara, sekda kota tapus dengan wajah yang mencerminkan kecemasan yang luar biasa menatap al Mukarom Ustsdz Soleh, seolah meminta pendapatnya dan Setelah mendengarkan dengan seksama apa yang di paparkan pak sekda ustad menarik nafas berat kemudian memberi pendapat.
"Ya saya akan coba mengobati Mulan, jika itu perbuatan setan insyaallah mereka akan dapat di pisahkan" kata pak ustadz Soleh.
"tapi jika pak sekda tidak keberatan menerima pacarnya apa salahnya mereka di nikahkan saja, setau saya Albara itu anak baik cuma nasibnya saja kurang beruntung belakangan ini" lanjut ustadz Soleh.
Ustaz menyampaikan beberapa dalil tentang peran orang tua untuk menikahkan anak, jika anak sudah dewasa sebaiknya segera di nikahkan. Pak Sekda termenung sejenak kemudian mengatakan isi hatinya pada ustadz Soleh.
"Sebenarnya yang saya cemaskan adalah anak saya terjebak dalam pergaulan bebas. Di mana muka saya jika anak saya hamil di luar nikah" keluh pak Sekda.
"Ustadz... Berapa umur anak perempuan sebaiknya di nikahan?" Tanya pak Sekda.
Ustadz menjawab dengan agak diplomatis.
"Kalau dari kajian ilmu pengetahuan sebaiknya setelah umur 25 tahun keatas, setelah pemikiran dan mentalnya matang" kata Ustadz Soleh.
"Tapi umur tidak menentukan kematangan pemikiran, jika tingkat pendidikan nya cuma sd, ya umur 40 tahun juga pemikiran nya tetap mentah, kalau saya pribadi ukuran pendidikan anak lebih penting mereka sudah mengetahui baik dan buruk, dan sudah merasa agama sebagai kebutuhan dalam tuntunan hidup berumah tangga, setamat sma itu juga sudah bisa dikatakan matang" lanjut ustadz Soleh.
"Tapi dalam kajian agama jika anak sudah haid maka sudah di anggap dewasa dan layak berumah tangga. Beberapa ulama berpendapat usia anak perempuan sebaiknya berumah tangga adalah umur 19 tahun hingga 25 tahun" ustadz Soleh menjelaskan.
"Pada usia 19 tahun sampai 25 tahun merupakan usia keemasan bagi wanita, saat itu siapa saja pasti mau jadi suaminya, beda jika sudah berumur tiga puluh tahunan, mahasiswa pasti sudah nolak untuk menjadi suaminya apalagi jika umurnya sudah di atas empat pupu tahum, apa masih ada yang mau jadi suaminya?". Tanya pak ustadz Soleh.
"Benar pak ustadz Soleh" kata pak Sekda mengangguk setuju.
"Salah satu kewajiban orang tua adalah menikahkan anaknya setelah dia dewasa. Orang tua berhak memilihkan calon menantu dengan syarat anak nya tidak nolak, orang tua juga berhak menolak pilihan anak jika calonnya kurang baik ahlaknya atau beda keyakinan" kata ustadz Soleh.
"Tuhan memerintahkan untuk menikahkan anak, dan tuhan berjanji jika mereka miskin, tuhan akan mampukan mereka setelah berkeluarga" kata pak ustadz Soleh lagi.
Pak Sekda dan ibu Susanti merasa sangat lega Setelah mendapat beberapa nasehat dari ustadz Soleh yang sangat mengena di hati pak Sekda, mulai. Saat masuk waktu isya pak ustadz Soleh mengejak pak Sekda sholat berjamaah dan Setelah sholat isa ustadz soleh mendo'akan Mulan supaya di beri jodoh yang baik bagi dunia dan akhiratnya.
__ADS_1
Saat izin undur diri pak Sekda memerintahkan ajudanya mengantar ustadz pulang, kemudian memanggil seorang pelayan.
"Saat Mulan dan Albara pulang katakan bapak menunggu mereka di ruang tamu" kata pak sekda sambil kembali ke ruang tamu.
****
Saat bersamaan Mulan dan Albara juga sudah bersiap untuk kembali kerumah, lima belas menit kemudian mereka sampai, pelayan segera menyapa mereka dan mengatakan bahwa mereka sedang di tunggu bapak di ruang tamu. Mulan segera membawa Albara menjumpai ayahnya yang menunggu di ruang tamu khusus.
Mendapat hasutan dari berbagai pihak Sekda Kota Tapus tadinya sangat emosi dan ingin marah, tapi setelah dapat nasehat dari ustadz Soleh emosinya sudah turun. Apalagi setelah dia ingat saat dia melamar ibunya mulan dia juga pengangguran, bekerja sebagai buruh lepas untuk menafkahi keluarga, tiap sore jual es tebu di pinggir jalan. Ejekan dari tetangga sudah makanannya tiap hari, dia selalu ingat orang kampungnya bilang "kasian sekolah tinggi tinggi hingga es satu, eee setelah tamat cuma jualan es tebu".
Bahkan mertuanya sendiri memanggilnya suatu hari mengatakan sesuatu yang tak pernah dia lupakan
"Sudah tiga tahun kau menikah tak sebatang kopipun kau tanam, sudah tiga kali lebaran jangankan membelikan baju baru untuk anakku bh nya pun tak pernah kau ganti"
Pak Sekda dan ibu Susanti akhirnya dengan lapang dada bisa menerima Albara sebagai menantu.
Melihat Mulan dan Albara masuk pak sekda mempersilahkan mereka duduk. Mulan dan Albara duduk berhadapan dengan pak Sekda, setelah duduk mereka di jejali pertanyaan.
Albara menunduk sebelum dia menjawab Mulan sudah menjawab.
"Mengahadri undangan teman ulang tahun pa" kata Mulan.
"Emang acara ulang tahunnya dari siang hingga malam?" tanya pak Sekda lagi.
"Engak la pa... Kita ngobrol ngobrol dulu" lanjut Mulan sementara Albara masih diam.
"Mulan dan kamu Albara kalian sudah dewasa. Bapak mau tanya apa kalian memang serius dengan hubungan kalian" tanya Sekda lagi matanya masih menatap Albara.
"Ya ... Om" jawab Albara pasti.
__ADS_1
"Ingat ya berkeluarga itu bukan enak enaknya saja, banyak susahnya apalagi saat beras habis, gas habis sedangkan uang tidak punya. Kamu Albara masih kuliah apa rencanamu untuk masa depanmu?" tanya pak sekda.
"Saya masih fokus menyelesaikan kuliah dulu om, jika ada peluang saya berniat mendirikan bank Wakaf dan sedekah, salah satu sumber modal bisa dari infak dan sedekah masyarakat kemudian di salurkan kepada masyarakat yang membutuhkan" jawab Albara.
"Waah ... waah mimpi kamu.... Apa kamu mau kasih makan anak saya dengan uang sedekah? tanya sekda lagi.
Albara ingat nasehat raja sulaiman dalam urusan yan diluar jangkawan pemikiran "bertawakkallah pada Tuhan yang maha esa"
"Untuk urusan rezki saya cuma bertawakkal pada tuhan, dan saya akan beriktiar dengan segala peluang yang ada" jawab Albara.
"Coba kalian pikirkan, Mulan sepertinya sudah waktunya untuk berumah tangga, sedangkan kamu Albara, om rasa lebih baik cari kerja dulu" kata pak Sekda.
"Pa kami bisa menikah setelah tamat kuliah, kami bisa berjuang bersama jika kakak Albara belum punya kerjaan Mulan masih bisa bersabar hingga kak bara atau Mulan yang punya kerja" protes Mulan.
"Baiklah kalian bapak kasih waktu satu bulan, bapak tidak mau tiap hari kalian jadi gosip di masyarakat, jika kalian sepakat untuk berkeluarga, Albara harus melamar Mulan. Jika setelah sebulan Albara tidak melamar Mulan bapak akan carikan Mulan calon suami yang layak. Kamu Mulan jika Albara tidak melamar dalam waktu yang bapak berikan, kamu harus rela melepaskan Albara dan menikah dengan laki laki pilihan papa dan mama mu" kata pak sekda kemudian meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.
Setelah sekian lama saling diam Albara membuka pembicaraan.
"Bagaimana menurut dik Mulan, jika kak bara melamar dik Mulan?" tanya Albara.
"Mulan siap kak Albara, tergantung bagaimana dengan kakak" jawab Mulan.
"Ya karena om sudah bicara begitu, kak bara harus siap. Apapun kesusahan dan rintangan nanti sekalipun kakak tewas dalam urusan ini kakak akan mencobanya" kata Albara.
"Benar kah kak bara?... Katakan kita akan bersama selamanya." pinta Mulan.
"Kakak sudah sangat bersyukur di beri peluang menjadi suami dik Mulan, tidak ada alasan untuk berkeluh kesah apapun kesulitan dan rintangannya. Ya kita akan bersama selamanya" kata Albara.
Setelah jam sepuluh malam Albara pamit pada Sekda untuk pulang.
__ADS_1
"Dari sore kalian belum makankan, Mulan ayo ajak Albara makan dulu" kata pak Sekda.
Mulan membawa Albara ke meja makan hidanngan makan malam sudah di siapkan oleh pembantu pak sekda. "Alanglah enaknya jadi orang kaya, makan sudah ada yang menjanjikan" pikir Albara sambil menyantap makanannya dan setelah makan malam barulah Albara pamit pulang di antar Mulan hingga teras rumahnya.