
Bagi bangsa Tiraw kesempatan untuk menguasai dunia manusia sangat tergantung pada putri Mulani, makanya menyelamaatkan putri Mulani adakah tujuan utama mereka. Sekalipun mereka sudah menyadari kalau Albara dan Devina sudah menjadi penghalang, namun untuk saat ini mereka perlu menyelamatkan putri Mulani untuk dibangkitkan kembali.
Pada saat dua manusia kerdil menghadapi Albara dan Devina, saat itu dua manusia kerdil lainya telah membawa jasad putri Mulani melesat meninggalkan halaman pondok lalu menghilang dalam kegelapan malam. Sementara itu usaha dua manusia kerdil menghalangi Albara dan Devina tak bertahan lama hanya dalam satu gebrakan satu manusia kerdil sudah roboh terkena senjatanya sendiri.
Albara begindik ngeri melihat tubuh Tiraw yang terkena abu pasir beracun, mengepulkan uap putih, mukanya seperti mengelegak sebelum akhirnya menghitam hangus, seperti luka bakar.
"Ahhhhhhhggggggg" jeritnya masih berusaha bangkit, namun cuma lima langkah dia kembali tersungkur, lalu diam tak bergerak.
"cik cik cik... alangkah ganasnya pasir beracun lembah timbun tulang" decak Devina.
"Keparat kalian ... aku akan membasmi kalian jika terjadi sesuatu pada Mulan" Albara makin geram saat membayangkan racun pasir lembah tambun tulang saat mbakar muka Mulan.
"Hiiiiiii alangkah menderitanya Mulan saat terkena pasir timbun tulang" keluh Albara ngeri.
Melihat temannya tewas terkena senjatanya sendiri manusia kerdil yang berusaha menghalangi Albara dan Devina, segera balik badan lalu mencelat pergi meninggalkan halaman pondok menyusul temannya yang membawa jasad putri Mulani.
"Hai jangan pergi kau" teriak Albara melesat kearah mana manusia tersebut menghilang.
Manusia kerdil terus berlari tanpa mempedulikan Albara dan Devina yang mengejarnya. Dia lari sangat cepat memasuki hutan belantara menyelinap dari pohon kepohon dalam kegelapan malam.
"Kak bara pakai ini" ucap devina memberikan sebuah kaca mata saat menyadari kalau Albara kesulitan melihat jalan di kegelapan.
Sebuah kacamata yang di rancang untuk melihat dalam kegelapan, juga dirancang untuk di pakai saat lari cepat atau berkenderaan. Dengan kaca matanya Albara bisa melihat jelas sosok manusia kerdil jauh di depannya menyelinap diantara pohon pohon. Lari cepat mahluk kerdil tersebut sangat cepat, seperti sedang di kejar setan.
Albara mengerahkan segenap kemampuannya hingga bisa menyusul devina yang juga telah mendahulinya.
"Kamu malah gak pakek kaca mata, apa kamu busa lihat jalan, Dev?" tanya Albara setelah melihat Devina tidak nengunakan alat bantu apapun.
__ADS_1
"Devina bisa lihat dengan jelas tanpa kaca mata kok, kak Bara" ucap Devina juga terlihat lincah menyelinap mengikuti manusia kerdil di depan mereka.
Setelah berkejaran hingga dua jam lebih barulah manusia kerdil dapat tersusul. Di sebuah tempat yang cukup lapang Devina melesat mendahului manusia kerdil berhenti menghadang di depan. Melihat Devina telah menghadang di depannya manusia kerdil terpaksa berhenti, napasnya terlihat memburu mungkin juga sudah hampir kehabisan nafas setelah mengerahkan seluruh kemampuannya.
"Heh siluman kerdil.. jangan kira kau bisa lari begitu saja dari kami, setelah melakukan penyerangan keji terhadap kami" bentak Albara.
"Ha ha Hahaha, jangan kalian kira begitu gampang membunuh saya, ketahuilah kalau kalian sudah di tunggu ratu Ledisya dan Suparta ketua agama rahasia" ucap manusia kerdil di tangan nya telah memegang cambuk yang ujungnya di beri bandul pasir beracun.
"Sweeer sweer sweer" bandul di ujung ceneti berputar putar mengarah bagian bagian mematikan di tubuh Albara.
Permainan cemeti dengan bandul bola pasir beracun sangat hebat, devina dan Albara harus hati hati jangan sampai terkena bandul yang bisa saja meledak saat membentur bagian tubuh mereka.
"Kak Bara hati hati, jangan sampai bandul bola beracun menyentuh tubuh kak Bara" Devina mengingatkan Albara.
Albara tak kalah cemasnya dengan Devina, dia tak berani main main dengan pasir beracun lembah timbun tulang. Apalgi setelah menyaksikan bagaimana tubuh Tiraw menggelegak hanya terkena debu pasir ledakan bola pasir lembah timbun tulang. Tak terbanyangkan seandainya bola pasir lembah timbun tulang meledak di tubuh mereka.
"Berani sekali kalian mencampuri urusan ratu dan tuan putri kami, apa kalian kira memiliki seribu nyawa" bentak manusia kerdil makin ganas setelah melihat Albara dan Devina tidak berani menyambut serangannya.
Albara mengerahkan seluruh tenaga dalam nya untuk melindungi tubuhnya dari kemungkinan ledakan pasir beracun dari bandul di ujung cemeti si manusia kerdil.
"Tar tar rar" terdengar suara keras memecah keheningan malam, saat bola bola pasir di ujung cambuk menyambar ke arah kepala Albara.
"Jahanam kalian... selalu ikut campur urusan kami, ayo Nefriti jangan takut aku datang mari kita basmi mereka" ujar ratu Ledisya sudah berdiri di samping Nefriti si manusia kerdil.
Lalu ratu Ledisya ikut menghujani Albara dengan ujung cambuk mengarah ke ulu hati dan pinggang Albara.
Melihat serangan kedua ujung cambuk mengarah ke bagian bagian sangat berbahaya. Albara tak berani sembarangan dia maklum kedua mahluk kerdil ini juga punya keahlian bela diri yang tinggi, apalagi dengan senjata cambuk dengan ujung ujungnya terbuat dari bola pasir timbun tulang.
__ADS_1
"Aiiih " kembali Albara mengeluh lalu melompat ke belakang menghindari hantaman bola bola cambuk ratu Ledisya dan pembantunya.
"Kak Bara gunakan ini" ucap Devina melemparkan sebuah ranting.
Albara menangkap ranting yang melesat kearahnya bagai anak panah.
"Terima kasih Devina, mari kita gempur mereka" ucap Albara.
"Ha haa ha haaa Albara sudah punya kekasih baru rupanya, mungkin sudah bosan dengan istrinya yang bermuka tengkorak" ucap ratu Ledisya.
Devina yang sedang datang bulan, tanpa di singgungpun bawaannya selalu jengkel, mendengar ejekan ratu Ledisya Devina makin meradang.
"Siluman kerdil.. kalian harus mampus, aku akan mengakhiri kekejian kalian" pekik Devina sangat marah, ranting di tangannya bagai pedang menyambar nyambar dengan dahsyat kearah ratu Ledisya dan Nefriti pembantunya.
Jurus cambuk manusia kerdil hebat luar biasa di sertai tenaga dalam tinggi cambuk mereka yang di pasangi pasir beracun, bergerak sangat cepat seakan akan saling melindungi, harus punya latihan yang ulet supaya gerakan serasi dan tidak saling melilit.
Namun gerakan Devina dan Albara dengan ranting di tangan menyambar bergulung gulung bagai sebuah pedang melebihi gerakan kedua manusia kerdil hingga beberapa tingkat. Mereka tidak takut lagi membentur bandul pasir beracun di ujung cambuk, karena perbedaan tingkat mereka, sangat jauh maka dalam tiga gebrakan kedua manusia kerdil mulai terdesak hebat.
"Haaa ha ha ha" mereka sepasang pendekar yang hebat seperti Ratu Mas dan Jendral Alfred" sebuah suara berat terdengar tidak jauh dari mereka.
Seorang lelaki berumur tiga puluhan tahun entah dari mana datangnya telah berdiri tidak jauh dari arena pertempuran.
"Suparta kenapa tidak kekas membantu kami, bukankah kau masih mencinta Ratu Mas, kau hanya bisa memiliki Ratu Mas Mulan jika bisa melenyapkan Albara suaminya" teriak ratu Ledisya.
Suparta kembali tertawa.
"Ha ha ha ha. Ledisya kau telah berbohong wanita ini tidak lah serupa dengan Ratu Mas, orang yang sangat ku cintai" ucap Suparta.
__ADS_1
"hik hik hik, Suparta ternyata kau memang cinta mati pada Ratu Mas, Aku tahu di mana wanita pemilik selendang sutra sorgawi itu berada, pembantu ku baru saja melaporkan kemana dia pergi" ucap ratu Ledisya.
"Benarkah... kamu jangan bohong atau kalian sendiri akan berhadapan dengan pengikut agama rahasia" ucap Suparta.