Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 134


__ADS_3

Anehnya hingga sepuluh menit mereka berlarian, bahkan sinar senter yang menjadi penunjuk jalan juga menghilang di depan mereka, namun tim penyelamat tak juga bisa mereka susul.


"Tunggu nak Doni, nak Manto" teriak pak Bukhari menghentikan langkah Doni dan Manto.


"Kita berhenti di sini nak menunggu pagi" ucapan pak Bukhari gemetaran wajahnya nemucat.


"Coba kalian perhatikan sepertinya ada yang tidak beres dengan jalan yang kita lewati" ucap pak Bukhari.


"Iya ya, manto pikir seperti itu juga jalan yang kita lewati seperti nya sangat bagus, mulus, tapi bukan tanah bukan juga aspal, bukan pula cor beton" ucap Manto memeriksa jalan yang mereka injak.


Pak Bukhari menarik napas dalam.


"Kata orang tua dulu saat senja menjelang malam kerajaan orang Bunian sedang aktif, mangkanya ada larangan orang tua pada anak mereka keluar rumah saat senja hari menjelang malam" kata pak Bukhari.


"Orang bunian itu apa pak Bukhari?" tanya Manto penasaran.


"Orang bunian itu sejenis mahluk halus, di sini sering di sebut orang gunung kehidupan mereka merupakan salah satu misteri di hutan ini, mereka hidup di dimensi alam yang berbeda degan dunia kita, tapi saat senja pintu alam mereka terbuka mereka bisa keluar masuk ke alam kita, tapi juga manusia dari alam kita bisa masuk ke alam mereka saat pintunya terbuka" jawab pak Bukhari.


"Doni sudah dari senja tadi sudah merasakan adanya keanehan" timpal doni.


"Iya benar, semenjak kabut mulai turun dan menyelimuti lembah kan?" timpal Manto.


"Kita harus bagaimana pak Bukhari?" tanya Doni.


"Ayo duduk di sini, usahakan kalian ada di luar badan jalan" pak Bukhari memberi petunjuk.


Doni dan Manto menuruti petunjuk pak Bukhari mereka duduk di luar bahu jalan, Doni duduk di samping kiri pak Bukhari sedangkan, Manto duduk samping kanan pak Bukhari. Beberapa menit kemudian keanehan kembali terjadi kabut mulai menipis sepertinya hari mulai berganti pagi, pajar mulai menyingsing suasana berlahan menjadi terang benderang.

__ADS_1


Kejadian ini berjalan sangat cepat di kejauhan terlihat sebuah Kota yang penuh dengan bangunan bangunan tinggi, suasana hiruk pikuk mulai terdengar. sekitar lima ratus meter di depan mereka terlihat sebuah gerbang kota yang megah. sayup sayup mereka juga mendengar teriakan dan pelkik mengerikan di sertai bunyi letupan senjata dan denting pedang. Jerit ketakutan dan tangis kematian terdengar berasal dari pinggir kota.


"Ini aneh, sepertinya kota yang terlihat di depan kita bukanlah Kota Tapus, kedengerannya sedang terjadi keributan di pinggir kota" ucap Doni.


Pak Bukhari dan Manto hanya diam mengerutkan alis seakan tak percaya dengan kenyataan yang mereka alami saat ini.


"Kita juga meninggalkan lembah sekitar tiga jam yang lewat, dimana senja baru saja berganti malam tapi sungguh aneh hanya dalam waktu tiga jam hari sudah berganti pagi" ucap Doni lagi.


Pak Bukhari makin pucat sementara Manto memandang pak Bukhari tak berkedip, nampak jelas perubahan wajah pak Bukhari mencerminkan rasa takut dan cemas yang amat sangat.


"Kita telah memasuki alam bunian, sangat tidak mungkin untuk keluar dari sini kalaupun ada yang berhasil keluar maka biasanya mereka akan jadi gila" Ucap pak Bukhari makin cemas.


"apa...?" tanya Doni dan manto serempak.


"Seperti itu yang bapak dengar dari kakek kakek bapak dulu, kejadian seperti ini pernah terjadi zaman dulu dimana zaman sebelum kalian di lahirkan, saat ada penduduk kota tapus yang tersesat ke alam manusia bunian dan saat dia kembali dia menceritakan apa yang terjadi pada dirinya di hutan ini. Awalnya orang orang mengejeknya tak percaya, apalagi melihat terjadi perubahan tingkah lakunya kadang tertawa sendiri, bicara sendiri persis orang gila" kata pak Bukhari lagi.


"Semenjak saat itu penduduk Kota Tapus dan sekitarnya tak berani keliaran saat senja menjelang malam" ucap pak Bukhari.


Riuhnya pertempuran seru terdengar makin mendekati mereka, di kejauhan terlihat beberapa orang mengenakan kostum seperti penyihir sedang berduel di udara, satu dari mereka berpakaian serba putih dan satunya mengenakan pakaian serba hitam.


"Duar duar duar" mereka seperti saling melempar bola api, ledakan selalu terjadi saat bola api saling bentur.


"zuuuuut" sebuah bola api yang di lontarkan seorang yang berkostum penyihir warna hitam. Meleset dari sasaran dengan kecepatan luar biasa menuju ke arah pak Bukhari, Doni dan Manto.


"Awas.." teriak pak Bukhari sambil menarik tangan Doni, dan Manto.


"Kita harus pergi" dari sini bisik pak Bukhari sambil menyeret Doni dan manto.

__ADS_1


Mereka lari menjauh memasuki jalan setapak yang dipenuhi rumput dan semak berduri di kiri kanan sisi jalan. Tak ada pilihan lain selain terus berlari melewati jalan setapak di depan mereka.


Di belakang mereka pertempuran terdengar semakin seru, seorang wanita setengah baya sempat mereka lihat dengan jelas melintas. Sosok wanita setengah bays berpakaian putih bersih berlari di udara melintas sangat dekat dengan mereka tepatnya bukan berlari tetapi melayang di udara menyeret seorang gadis berambut pirang.


Kembali mereka berbalik saat sebuah bola api kembali melesat ke arah mereka menghantam semak belukar di kiri jalan tak jauh dari mereka berdiri.


"Duar" kembali terjadi ledakan yang menyebabkan kebakaran hebat di sepanjang jalan di belakang mereka.


Satu satunya cara selamat dari kobaran api hanyalah terus lari kedepan, tanpa menghiraukan semak berduri yang terkadang menghalangi jalan mereka, yang mereka lakukan terus berlari menjauh dari kobaran api.


Mereka terus berlari hingga napas mereka dan kaki mereka tidak sanggup lagi melangkah. Napas mereka terdengar deras saat mereka terduduk lemas, mereka tak mampu bicara yang mereka lakukan hanya mencoba menarik napas yang terasa akan berhenti, dada mereka terasa panas pertanda paru paru mereka bekerja keras.


"Saya seperti pernah lihat wanita yang tadi melayang di seret wanita berpakaian putih" kata Manto setelah napasnya mulai teratur.


"Sangat mirip bule yang memimpin ekspedisi bersama pak Ardi dan kak Riki" kata Doni pada manto.


Tiba tiba pak Bukhari berteriak menunjuk satu arah.


"Lihat di depan kita sepertinya ada rumah" kata pak Bukhari.


Mereka mendekati bangunan yang terlihat di balik lebatnya pohon, setelah mereka semakin dekat mereka lihat bangunan tersebut sangat megah. Pekarangan di kelilingi tembok setinggi orang dewasa, bangunan terkesan aneh tapi sudah tak terawat. Dinding gedung menjulang tinggi dengan jendela jendela kaca dengan arsitektur kuno.


Bangunan tembok pagar terbuat dari semacam bata merah yang ukuran lebih lebar dan lebih tebal di banding bata yang biasa di gunakan pada bangunan zaman sekarang. Bata dengan permukaan yang sangat halus tersusun rapi tak teihat menggunakan senen atau pasir. Di samping tembok terlihat juga sebuah jalan yang cukup lebar menuju lembah, dari lembah terdengar gemuruh sungai yang cukup deras.


"Menurut pak Bukhari ada orang di dalam tidak?" tanya Doni.


"Sepertinya bangunan ini sudah lama di tinggalkan penghuninya, jalan sudah terlihat sangat semak tak ada bekas di lalui seseorang baru baru ini, tembok sudah di balut akar bulu, dan tanaman merambat lainya" komentar pak Bukhari.

__ADS_1


Tanpa komando pak Bukhari di ikuti Doni dan Manto, melangkah hati hati sekali memasuki tembok bangunan.


__ADS_2