Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 189


__ADS_3

Sudah Hampir sepuluh tahun berlalu sejak Raja Hayendra suami-istri menjalani kutukan hingga saat ini tidak pernah terbangun, sedangkan anaknya putri Hena sudah dua tahun juga terkena kutukan ratu Rania, namun kutukan pada putri Hana telah bebas oleh darah Riki dan teman temannya.


Saat Landar menemukan Putri Hena keponakannya, dalam puing puing kota yang hancur akibat serbuan Ratu Rania dan Raja Rayendra. Landar berusaha sekuat tenaga melindungi Putri Hena. Namun Ratu Rania menemukan mereka di depan pintu, istana. Saat itulah kutukukan menimpa Landar sedangkan Hena hampir tak berubah, seolah kutukan tak pernah bisa menyentuhnya.


Saat mengenang kehancuran kota mereka di mana semua penduduknya, sanak pamali dan teman sejawatnya telah musnah oleh kutukan. Mata Landar kembali basah semuanya lenyap tampa sisa.


"Putri Hena pergilah ke kota Rindu Hati temui adik perguruan ayahmu, minta petunjuknya apa yang harus di lakukan untuk membebaskan kutukan yang menimpa raja Jayendra" ucap Landar.


"Baik paman.... tapi bagaimana Hena bisa menemukannya?, sedangkan Hena belum pernah melihatnya" tanya putri Hena.


"Hmmm... paman juga belum pernah melihatnya, paman hanya tau kalau dia tinggal di kota Rindu Hati" ucap Landar.


"Dia sangat misterius bahkan sangat jarang orang yang bisa menjumpainya, sekalipun dia adalah warga kota Rindu Hati, tapi coba saja putri hena ke kota Rindu Hati mencari keberadaannya" ucap Landar.


"Apa ayah pernah mengatakan siapa namanya?" tanya putri Hena.


"Tidak ... bahkan ayahmu tidak pernah berjumpa dengannya" ucap Landar.


"Lantas apakah ada petunjuk, untuk menemuinya?" tanya Hena.


"Putri Hena cari saja Kahlien sahabat ayahnya" ucap Landar.


"Baiklah paman putri Hena akan ke Kota Rindu Hati, tolong doakan supaya putri Hena berhasil menjumpainya" pinta putri Hena.


Saat putri Hena bersiap meninggalkan goa menuju Kota Rindu Hati, Albara mencoba menghibur putri Hena dan menahan putri Hena untuk tidak pergi sendirian ke kota Rindu Hati.


"Putri Hena tunggu... Kami akan menemani putri Hena tapi, kita beristirahat dan bermalam di sini untuk malam ini" Kata Albara, sambil mencari tempat yang nyaman lalu berbaring di salah sudut ruangan.

__ADS_1


"Sungguh kah kalian mau menemani Hena?" tanya putri Hena.


"Iya kami akan menemani putri Hena" ucap Devina meyakinkan putri Hena.


Akhirnya putri Hena menerima tawaran Albara, putri Hena kembali duduk di samping Devina, sekali kali matanya mirik Albara "Bisakah Albara menjadi cinta sejatinya" pikir putri hena berharap.


"Jika itu itu yang menjadi syarat membebaskan orang tuanya, apa salahnya untuk di coba, bukankah sosok pangeran yang hadir dalam mimpi Hena memiliki kecocokan dengan sosok Albara" Henna membatin


Albara menarik napas panjang memperlihatkan muka duka, bagaimana pun dia kepikiran dengan istrinya Mulan, satu satunya cara menyelamatkan mulan hanyalah dengan membebaskan kutukan raja Jayendra dan raja Daffin.


Albara sudah memejamkan mata dan sudah pula mengumpulkan seluruh panca indra untuk menekan batinnya yang bagaikan air tenang yang mulai diguncang oleh kesedihan yang sangat mendalam. Semalam suntuk Albara berbaring melamun, di samping terkenang pada istrinya dia juga memikirkan keadaan kakeknya yang juga menghilang entah kemana. 


*****


Keesokan harinya seperti janji Albara dan Devina untuk menamani perjalanan putri Hena menuju kota Rindu Hati. Untuk penghabisan kalinya Hena berlutut dan minta doa restu ayah ibunya, lalu berkomat kamit ke arah empat penjuru sambil menyebut nama Ayah nya, kemudian menyelipkan Sebuah tongkat sihir di sebelah dalam bajunya.


Ketika menyelipkan tongkat sihir ini, dia tersenyum dan menoleh ke pada orang tuanya.


Sebelum matahari terbit Putri Hena membawa Albara dan Devina ke sebuah lorong goa yang cukup lebar, saat mereka keluar lorong mereka tidak berada di hutan seperti pertama kali mereka masuk. Mereka sepertinya berada di sebuah lereng sebuah bukit yang di tumbuhi berbagai jenis tanaman berbunga. Sejauh mata memandang Albara melihat bunga bermekaran, lembah yang seperti di tata rapi, tempat yang lebih layak di sebut sebagai kebun bunga.


"inilah lembah bukit rindu hati" ucap putri Hena.


Mereka menelusuri jalan setapak di tengah kebun bunga, bunga yang etah sengaja di tanam atau tidak tapi sangat layak di sebut kebun bunga. Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah lapangan yang sangat luas di mana sedang parkir beberapa kereta kuda.


Seorang gadis berbaju putih menghampiri mereka.


"Kalian perlu tumpangan ayo ikut kereta saya" ucapnya.

__ADS_1


"Berapa kami harus bayar untuk sampai ke kota Rindu Hati?" tanya putri Hena.


"Ha ha ha nasib kalian sangat beruntung karena hari ini kereta saya tidak memungut bayaran" ucap wanita baju putih tersebut.


Kemudian gadis baju putih itu menggerakkan bibir diruncingkan dan terdengarlah suara suitan melengking yang amat nyaring. Tak lama kemudian terdengar suara roda keteta yang dilarikan kuda, cepat sekali menuju ke tempat mereka.


"Ayo kalian semua naik" perintah wanita berbaju putih.


Setelah mereka duduk dalam kereta, gadis berbaju putih tidak bicara lagi, hanya terdengar dia ketawa dan mencambuk dua ekor kuda prnarik keteta, sehingga jalannya kereta makin kencang bagai terbang. Albara tergoncang-goncang, akan tetapi dia segera dapat mengerahkan tenaga murninya dan kini dia duduk diam tidak bergerak seperti Devina dan Hena di depannya.


Mulailah gadis baju putih itu memandang mereka satu persatu, dan sungguh pun mulutnya tidak menyatakan sesuatu, akan tetapi pandang matanya penuh pengertian bahwa ketiga penumpangnya ini memiliki tenaga dalam dan peringan tubuh yang hebat.


"Nona, boleh saya menanyakan sesuatu... kenapa setelah Nona menolong kami tanpa pamrih, memberi kami tumpangan tanpa minta bayaran." tanya Albara.


"Ibuku yang menyuruhku, aku hanya pelaksana saja," jawabnya sederhana.


"Dan jangan mengira aku sudi menolong kalian apalagi menolong kau lelaki mata keranjang. Apa bila tidak ingin memenuhi perintah ibu, biar kalian bayar sepuluh kali lipat aku tidak sudi, membawa lelaki mata jetanjang macam engkau, aku tidak akan peduli sekalipun tidak dapat upah." ucap gadis berbaju serba putih yang mengendalikan kereta.


Wahhh, pahit benar ucapan ini, pikir Albara, Akan tetapi tak mungkin dia bisa marah menghadapi seorang gadis seperti ini.


"Ibumu? Siapakah dia, Nona?" tanya putri Henna.


"Namanya Rihana orang mengenalnya dengan julukan, penyihir putih dari timur" jawab gadis berbaju putih sambil terus mengendalikan kereta.


"Ohhhh...!" Tadinya Putri Hena sudah mengira bahwa tentu nona ini merupakan murid dari penyihir putih dari timur yang sangat disegani. Kiranya bukan hanya muridnya, malah puterinya! Pantas saja, biar pun disebut kusir nereta akan tetapi nona ini memiliki tingkat ilmu kepandaian yang sangat tinggi.


"Kau sudah mengenal nama ibuku?"

__ADS_1


"Sudah, Nona, Ibumu adalah datuk pertama perguruan Sihir putih dari timur, bukan?" tanya Hena lagi.


Hampir saja putri Henna keceplosan mengatakan kalau ibunya adalah teman Rihana penyihir putih dari timur.


__ADS_2