
Albara merasa heran kenapa ya prof lee Shu Wan dan Dr. Vania memilih tinggal di pelosok yang sangat sepi, di perkebunan di tengah hutan, meninggalkan tempat tinggal mereka di tengah kota besar yang memiliki fasilitas serba lengkap. Mungkin mereka mencari terapan ilmu kebatinan langka yang merupakan ilmu mukjizat zaman dulu atau ilmu ilmu kebatinan sejenis kekeramatan pikir Albara. Prof Lee Shu wan seperti mengerti akan keheranan Albara lalu berucap.
"Om kesini awalnya ingin meneliti jejak jejak kesaktian nenek moyang tempo dulu, tapi tantemu yang sudah jenuh tinggal di kota malah memilih membeli kebon ini, setelah beberapa bulan tantemu malah betah di sini di banding tinggal di Ibukota yang penuh dengan bermacam permasalahan" kata prof Lee Shu Wan.
"Om kok seperti bisa nembak apa yang Albara pikirkan" kata Albara.
"Cara kamu memandang om tadi, sudah mencerminkan keheranan tentang kondisi om, batin om cuma berkata kalau Albara merasa aneh dengan tinggalnya om di sini, itu bukan hal yang aneh seperti seorang pemuda yang jatuh cinta memandang gadis pujaannya, siapapun bisa menebak kalau dia sedang jatuh cinta" kata prof Lee Shu Wan.
"Coba lihat Albara memandang Laila, bagaimana menurut om, apa Albara jatuh cinta?" tanya Albara pada prof Lee Shu Wan.
Prof Lee Shu Wan memandang Laila lalu berkata.
"Biasanya batin perempuan itu lebih sensitif, coba nak Laila yang jawab" kata prof Lee Shu Wan.
Laila narik napas diam sejenak lalu menjawab pertanyaan prof Lee Shu Wan.
"Bara tu semenjak bayi sudah cinta sama Laila om, tapi kalau pandangan matanya sekarang seperti harimau liat mangsanya" kata Laila saat Albara memelototinya dengan mata terbuka lebar sehingga biji matanya seperti akan keluar.
Albara bukan sedang memelototi Laila tapi sedang kaget melihat pemandangan di luar rumah.
"om Lihat, sepertinya banyak orang di depan, bawak parang lagi" kata Albara pada prof Lee Shu Wan.
Laila dan prof Lee Shu Wan serentak memandang kearah yang di tunjukan Albara. Benar saja di halaman prof Lee Shu Wan para buruh kebon prof Lee Shu Wan sedang berkumpul, ada juga yang masih berlarian di jalan menuju ke kediaman prof lee swan dengan parang di tangan.
"Kalian tenanglah biar om yang bicara dengan mereka, ini tidak biasa pasti ada sesuatu yang terjadi" prof Lee Shu Wan bangkit menghampiri mereka.
"Ada apa rame rame seperti mau demo aja" tanya prof lee Shu Wan.
Para buruh kebun prof Lee Shu Wan berdiri di kanan kiri memberi hormat saat prof Lee Shu Wan keluar rumah di ikuti Albara dan Laila.
"Maaf prof.. bukan kami ingin berdemo, tepi juga bukan tanpa sebab kami kesini" kata salah satu dari mereka dengan sopan.
prof Lee Shu Wan membalas dengan sopan pula.
"Ada asap ada api, kalau memang kalian kemari dengan suatu sebab, apa gerangan yang terjadi" kata prof Lee Shu Wan.
__ADS_1
Sebagian mereka banyak yang gemetaran, muka pucat pasi terlihat mereka sedang di cekam rasa takut luar biasa, seperti baru saja melihat hantu.
"Benar prof, kami kesini karena sesuatu sedang terjadi, ada harimau mengganggu kerja kami" kata karyawan yang sedang genetaran.
"Apa...? harimau!" teriak prof Lee Shu Wan.
"Buset kalian, sudah tau bahaya mengancam kalian masih saja berbasa basi, Ayo masuk kita ngopi sampai harimaunya pergi" kata prof Lee Shu Wan.
"Harimaunya sudah pergi prof, dia hanya lewat menuju kebon sebelah" kata karyawan prof Lee Shu Wan sambil menunjuk kebon milik Albara.
"Waduhhh, Albara pulang dulu om, teman teman Albara masih ada di taman" kata Albara buru buru membawa Laila kembali kerumahnya.
"Ya.. hati hati" kata prof Lee Shu Wan.
****"
"Lai kamu tunggu di rumah ya, Albara mau jemput yang lain di taman" kata Albara.
"Gak Laila ikut, Laila takut kamu kenapa napa kayak bang Ardi" ucap Laila mengkawarikan Albara.
Albara dan Laila merasa lega setelah sampai di taman tidak terjadi apa apa dan menemukan teman teman mereka masih asik ngobrol menikmati keindahan taman.
"Kalian sudah kembali, bagaimana kabar prof Lee Shu Wan?" tanya Doni.
"prof Lee Shu Wan baik baik saja" jawab Albara.
"Kami kembali karena ada sesuatu terjadi dan Albara sangat kwatir dengan kalian" kata Albara.
"Syukurlah kalian baik baik saja" lanjut Albara.
"Kejadian apa emangnya hingga kalian menghawatirkan kami?" tanya Doni.
"Di kebun prof Lee Shu Wan baru saja melintas dua ekor harimau, hingga buruh kebun prof Lee Shu Wan tidak berani melanjutkan pekerjaannya, yang kami kuatirkan harimau itu menuju kesini" ucap Albara.
"Harimau ihh sena takut, sekarang memang musim harimau turun gunung hingga ada yang berkeliaran di pinggir desa, kata pengawas hutan lindung duduga karena mereka sudah kekurangan makanan dan tempat tinggal mereka sudah banyak tergusur menjadi lahan perkebunan" kata Yuni
__ADS_1
"Iya Laila juga sangat takut kita pulang aja yuk, takut terulang lagi kejadian yang menimpa kak Ardi" kata Laila.
"Albara bagaimana?" tanya Manto.
"Albara juga pulang deh, kembali aja ke Kota Tapus sampai suasana benar benar aman" ucap Laila cemas.
"Kalian gak usah kuatir Albara paling dua hari juga, banyak kesibukan di Kota Tapus melihat persiapan gedung pusat perbelanjaan Kota Tapus, jangan lupa kalian ikut daftar ya setidaknya ini peluang kerja kita sebelum memperoleh pekerjaan yang di inginkan" kata Albara.
"Mas Manto, sena juga jadi takut kita pulang yuk" pinta Sena pada Manto.
"iya Yuni juga takut Don, pulang yuk" pinta Yunita.
Doni dan Manto saling pandang seolah ingin mendengar pendapat masing masing.
"Ok" kata Manto mengangguk pada Doni.
"Maaf Albara sepertinya kami harus pulang ngantar nyonya nyonya ini dulu, nanti Doni dan Manto kesini lagi" kata Doni.
Albara maklum akan ketakutan teman temannya, tidak keberatan jika teman temanya kembali.
"Baiklah kalau begitu, Albara minta maaf atas ketidak nyamanan di sini" kata Albara mengatrar teman temannya yang sudah tak sabar ingin kembali ke Kota Tapus.
"Oya Bara jangan lupa minggu depan kita ketemu di kampus, nonton pertunjukan Anita Sabah" ucap Doni.
"Anita sabah itu cantik lo, jangan sampai kalian tergoda oleh kecantikannya" timpal Sena yang sepertinya ngepan berat sama Anita Sabah.
"Kalau cuma pingin lihat Anita Sabah kalian gak usah repot ke Universitas Kota Tapus, dia pasti akan menemui Albara nanti dia kan kesini kangen sama Albara" ucap Albara.
"Alah ke ge er an kamu Bara, mana ada orang yang kangen sama tukang kebon" kata yunita.
"Oh iya kamu juga ajukan lamaran ya Lai, alangkah senangnya jika kita bisa berkumpul lagi di tempat kerja" pinta Albara.
"Ya, kamu hati hati di sini, Laila sangat tidak ingin kejadian yang menimpa kak Ardi terjadi sama Bara" pinta Laila.
"Don... kamu serius kan, kalau nanti akan kembali ke sini bersama manto?" tanya Laila.
__ADS_1
"Iya Lai manto juga janji akan kembali ke sini, nemani Albara sehari dua hari sekalian panen kurma he he" kata manto saat mobil mereka mulai meluncur meninggalkan kediaman Albara.