Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 116


__ADS_3

"Devina bikin kopi buat mereka, biar ceritanya lama" pinta tante Vania.


"Baik bu, ini juga sudah dibikinin" kata devina muncul dari dapur.


Devina membawa kopi buat Albara, Doni dan prof Lee Shu Wan. Dengan sopan Devina meletakkan gelas berisi kopi di meja di depan masing masing mereka.


"Sebelum om jawab permasalahan nak Bara, bagaimana kalau kita bereksperimen dulu kamu bersedia?" tanya prof Lee Shu Wan.


Albara jadi penasaran pengen tau eksperimen apa yang akan di buat prof Lee Shu Wan, tanpa bertanya dia langsung saja setuju.


"Ok om Albara bersedia" ucap Albara.


Prof Lee Shu Wan menatap Albara, doni, Devina dan tante Vania mengisaratkan untuk ikut memperhatikan.


"Coba perhatikan dan katakan apa yang baru saja di letakkan Devina di depan nak Bara" pinta prof Lee shu wan.


Albara memperhatikan gelas kopi yang baru saja di letakkan Devina di atas meja di depan Albara.


"Segelas kopi om" kata Albara.


"Iya benar... tanpa di beri tau kamu pasti bisa menjelaskan secara detil, sekarang coba tutup mata nak Bara" pinta prof Lee Shu Wan lagi.


Albara nurut lalu memejamkan matanya.


"Depvina kamu tutup mata Albara dengan kedua tanganmu" perintah prof Lee Shu Wan.


Devina lalu berdiri di belakang Albara, kedua tangannya merankul kepala Albara dengan kedua telapak tangan menutup mata Albara. Darah di dada Albara langsung berdesir saat telapak tangan devina menempel di matanya yang terpejam, napas devina terasa berhembus di kepalanya, tiba tiba Albara di kagetkan oleh suara prof Lee Shu Wan.


"Sekarang sebutkan apa yang ada di depan nak bara" pinta prof Lee shu wan sambil memindahkan gelas kopi Albara ke depannya.


"Segelas kopi om" jawab Albara.


"Devina lepaskan tutup mata Albara" kata prof Lee Shu Wan.


Albara membuka matanya tapi dia tidak melihat ada segelas kopi di depannya.

__ADS_1


"ha ha ha salah, Kamu sudah mengatakan sesuatu yang salah, kamu mengatakan sesuatu hanya bedasarkan prasangka" ucap prof Lee Shu Wan.


"Ilmu yang ilmiah haruslah bersih dari prasangka dan kebohongan, islam juga melarang umatnya berbohong dan menjauhi prasangka" lalu prof Lee Shu Wan mengutip sebuah ayat dari kitab suci agama Islam.


“Jauhilah olehmu sebagian besar dari prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah keburukan (dosa)” 


Prof Lee Shu Wan kembali meletakkan gelas kopi Albara, di depan Albara.


"Albara bisa tau ini segelas kopi karena melihatnya kan?.


Albara mengangguk, Albara bisa melihat kopi ini dengan mata karena ada cahaya, jika dalam gelap gulita tanpa cahaya sedikit pun mata kita tidak akan bisa melihat apa apa kan?" tanya prof Lee Shu Wan lagi.


"Benar om" kata Albara mengangguk lagi.


"Jadi cahaya melalui mata adalah sebuah petunjuk untuk ilmu pengetahuan. dengan cahaya kita bisa memengetahui warna kopi, dengan cahaya bintang orang bisa membuat petunjuk arah pelayaran"


"Kita juga di lengkapi dengan panca indra yang kesemuanya berguna untuk mengetahui. Telinga untuk mendengar, lidah untuk mengetahui rasa, hidung untuk mengetahui bau dan kulit juga untuk merasa"


"Sekarang percobaan ke dua, coba Albara dalam posisi istirahatkan badan dan pemikiran, duduk dengan rilek, pejamkan Mata, abaikan semua yang di dengar, jangan pedulikan kami yang ada di sini, jangan berpikir aktif dan hilangkan semua prasangka, hilangkan semua kehendak dan kemauan Albara" kembali prof lee shu wan meminta Albara.


Seperti di hipnotis Albara tidak melakukan perintah prof Lee Shu Wan. Saat matanya terpejam dia seperti tidak mendengar percakapan antara prof Lee Shu Wan dan doni, tante Vania atau Devina.


"Cukup nak Bara, sekarang buka matanya" pinta prof Lee Shu Wan.


Albara membuka matanya lalu menyeka air mata di pipinya.


"Katakan dengan jujur, apa yang nak Bara alami selama nemejamkan mata tadi, hingga meneteskan air mata dan memanggil nama Mulan?" tanya prof Lee Shu Wan.


Albara menarik napas, setelah dia tenang lalu menjawab pertanyaan prof Lee Shu Wan.


"Albara merasa sedih, seolah olah melihat Mulan sedang menangis sedih memanggil manggil Albara, lalu terbersit di pikiran Albara kalau Mulan sedang terkurung di goa Tiraw, om" kata Albara.


"Nah itu dia kajian ilmu bathin" kata prof Lee Shu Wan.


"Terlepas dari benar atau salahnya ini sudah membuktikan kalau ada sumber pengetahuan selain panca indra, yaitu perasaan" kata prof Lee Shu Wan.

__ADS_1


"Gejala seperti yang nak bara rasakan ini sering di sebut ikatan batin. Hal ini sering di alami antara ibu dengan anak, suami dengan istri, atau sebaliknya. Lebih banyak kasus terjadi pada sepasang kekasih yang saling mencintai" ucap prof Lee Shu Wan.


Albara, Doni, Devina bahkan tante Vania sangat fokus mendengarkan penjelasan prof Lee Shu Wan, tak satupun dari mereka yang menyela penjelasan prof Lee Shu Wan.


"Ada peristiwa yang di sebut resonansi batin, dimana getaran batin seseorang akan di ikuti getaran batin kekasihnya pada kondisi yang sesuai, sehingga kekasihnya tau apa yang terjadi pada dirinya atau sebaliknya"


"Misalnya seorang ibu mengetahui anaknya yang jauh di rantau sedang susah. Seseorang mengetahui kekasihnya sedang selingkuh, atau mengetahui kekasihnya sedang bersedih hati" ujar prof Lee Shu Wan.


"Seperti dua potong besi yang di hubungan dengan besi yang lain, jika salah satu di tokok maka potongan yang lain ikut bergetar"


"Sangat mungkin kalau Mulan kekasih Albara sedang dalam goncangan batin yang amat sangat, tapi sangat sulit untuk di buktikan" kata prof Lee Shu Wan.


"Karena standar keilmiahan adalah kenyataan, bagaimanapun kenyataan saat ini bahwa Mulan bahagia dengan kekasih barunya. Kecuali nak Albara bisa membuktikan kalau Mulan terkurung di goa Tiraw seperti yang di rasakan" kata prof Lee Shu Wan.


"Jadi Albara harus bagaimana om?" tanya Albara bimbang.


"Menurut om nak Bara harus pegang kenyataan aja dulu, kalau mau menyelidiki keberadaan Mulan yang di perasaan boleh boleh saja"


"Tapi ingat nak Bara jangan terlalu heran dengan keanehan alam rasa jangan jadikan alam rasa sebagai lapangan aktivitas" kembali prof Lee Shu Wan mengingatkan Albara.


"Perlu nak bara pedomani sampai saat ini tingkat kebenaran dari penelitian perasaan masih di bawah enam puluh persen, sehingga perasaan tidak bisa di pertanggung jawabkan secara ilmiah"


"Nak Bara tidak usah terlalu mengemukakan perasaan, maaf sebelumnya om katakan kalau orang yang terjebak dalam Alam rasa sering mengalami kemunduran Bahkan Gila" kata prof Lee Shu Wan.


"hu hu hu hu" tangis Albara pecah setelah mendengar nasehat prof Lee Shu Wan.


"Terima kasih om, kalau tidak ketemu om entah apa jadinya Albara" ucap Albara.


"Beberapa hari terakhir Albara memang sering tertawa dan menangis sendiri karena perasaan yang tak Albara tau sebabnya" ucap Albara.


"Sekali lagi Albara terima kasih, nasehat om sangat berguna bagi Albara, nasehat yang akan selalu Akbara ingat dan gunakan dalam hidup Albara" ucap Albara lalu bangkit mencium tangan prof Lee Shu Wan.


"Hari sudah larut Albara permisi dulu om, lain waktu Albara minta nasehat om lagi" ujar Albara.


"Baiklah nak Bara istirahat saja dulu jangan terlalu memasalahkan perasaan biar saja, itu juga fitrah yang tak bisa kita hilangkan" kata prof Lee Shu Wan.

__ADS_1


"Baik om, kami pulang dulu" ucap Albara.


"Permisi om" Doni menyalami prof Lee Shu Wan, lalu mengikuti langkah Albara.


__ADS_2