Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 191


__ADS_3

Keteta melaju makin cepat, tujuannya adalah kembali ke Kota Rindu Hati, untuk menjumpai penyihir putih dari timur ibunya Anggiliana. Putri Hena tidak membantah karena dia telah mengambil keputusan untuk menemui adik seperguruan ayahnya untuk minta petunjuk membebaskan kutukan pada ayahnya, atau kalau perlu dia akan berguru pada adik seperguruan ayahnya memperdalam ilmunya.


Setelah merasakan pengalaman pahit yang dia derita, ia harus segera memiliki ilmu kepandaian yang tinggi kalau dia tidak menghendaki gangguan-gangguan di kerajaan Bunian di masa depan.


"Kenapa Anggiliana tidak ambil jalan melalui desa saja, jalan yang umum di lewati?" tanya putri Hena tidak nyaman saat kereta seperti selalu menghindar dari desa desa yang menuju Kota Rindu Hati.


"Maaf saudari ... kerajaan Bunian saat ini sedang kacau, peperangan terjadi di mana-mana untuk keamanan kita harus mencari jalan yang sepi" ucap Anggiliana.


"Perang saudara yang terjadi antara Penyihir putih dan Penyihir hitam adalah akibat perebutan mahkota setelah Raja Jayendra ditumbangkan. Ketika itu panglima perang raja Jayendra yaitu Jendral Rajendra mengklim diri sebagai kaisar mewakili penyihir putih, sedangkan Rahajinia yang berjuluk Hantu Blau penyihir hitam merasa lebih berjasa dalam menumbangkan kekuasaan raja Jayendra juga mengklim diri sebagai kaisar, di sisi lain Jendral Kahlien menginginkan, mewariskan tahta kerajaan kepada Putri Hena anak dari raja Jayendra" Anggiliana mulai berkisah.


"Di bawah perlindungan dan dukungan para pembesar yang mempergunakan kesempatan untuk mengangkat diri sendiri mencapai kedudukan tinggi dan berenang dalam kemuliaan duniawi, setahun sesudah Raja Jayendra terkena kutukan, Rajendra naik tahta dan menjadi Kaisar Kerajaan Bunian" ucap Anggiliana.


"Peristiwa inilah yang mengakibatkan perang saudara karena Raja Rajendra dengan Jendral Kahlien panglima yang lain dari kaisar Jayendra yang pada waktu itu bertugas mempertahankan keluarga raja, dia membawa pengikut raja Jayendra yang masih setia pada putri Hena ke Kota Rindu Hati. Mereka bertahan dari serbuan Raja Rajendra yang marah karena tak mau menerima pengangkatan kaisar baru itu" ujar Anggiliana.


"Terus apa yang terjadi dengan jendral Kahlien?" tanya putri Hena dengan air mata menetes di pipinya.


"Setelah peperangan demi peperangan antara raja Rajendra dan jendral Kahlien, membuat meteka makin lemah sehingga dengan mudah penyihir hitam yang sudah banyak berjasa menumbangkan raja Jayendra, mereka bergerak memukul tentara Rajendra ataupun Kahlien, sehingga sampai saat ini penyihir hitam menguasai hampir 70 persen kerajaan Bunian". ucap Anggiliana.

__ADS_1


"Demikianlah saat ini, Raja Muda penyihir hitam membawa bala tentara dan menyerbu ke Kota Rindu Hati hingga timbullah perang di sekitar kota Rindu Hati'


"Telah menjadi kenyataan dalam catatan selama terjadi perang, apa lagi perang saudara sesama bangsa, maka rakyatlah yang menderita. Yang memperebutkan kekuasaan demi kemuliaan diri sendiri hanyalah beberapa gelintir orang besar, akan tetapi yang dijadikan sasaran kutukan sihir, makanan golok dan pedang adalah prajurit-prajurit, anak anak rayat jelata" keluh Anggiliana


Perjalanan makin rumit Ada kalanya Anggiliana harus mengambil jalan memutar, ada kalanya harus kembali lagi kalau terhalang oleh perang yang dahsyat.


Mereka memasuki desa Ciancung yang terletak di kaki gunung Rindu Hati, di lembah sungai Ciliang. Oleh karena sungai Ciliang ini mengalirkan airnya ke sungai Langkiup yang merupakan jalan perhubungan yang terbaik dan tercepat menuju ke pedalaman, maka dusun Ciancung ini cukup ramai. Tanpa mereka ketahui secara tepat, mereka sudah makin dekat dengan Kota Rindu Hati yang berada di sebelah barat Gunung Rindu Hati.


Semakin ke barat, semakin berkuranglah perang, karena bala tentara kedua pihak hanya memperebutkan daerah-daerah antara pinggiran kota Rindu Hati. Biar pun demikian, wilayah barat ini tidak dapat dikatakan tenteram sama sekali. Meskipun jauh dari pusat tempat perang itu sendiri, Namun di sini timbul kekacauan-kekacauan dan para penjahat merajalela, berpesta-pora seolah-olah segerombolan tikus yang berada di rumah kosong, ditinggal pergi oleh kucing-kucing yang mereka takuti.


Ketika mereka memasuki desa Ciancung di sore hari itu, mereka sudah melihat akibat kekacauan yang melanda di mana-mana. di pintu masuk desa itu sudah ada orang berkelahi. Memang semenjak mereka menuju Kota Rindu Hati di sepanjang perjalanan mereka sering kali melihat orang bertempur.


Yang membuat Albara terheran-heran dan penasaran adalah pada waktu dia melihat bahwa di situ tak ada orang yang berani mendekat, apa lagi melerai perkelahian, bahkan rumah-rumah dan warung-warung terdekat juga telah menutup pintu dengan tergesa-gesa. Tampak olehnya ada empat orang laki-laki tinggi besar yang sudah roboh berlumur darah, juga seorang pemuda remaja terduduk di atas tanah memegang pundaknya yang terluka terkena bacokan.


Ilmu pedang gadis itu lihai, akan tapi menghadapi pengeroyokan dua belas orang laki-laki kasar itu, si gadis menjadi repot juga. Apa lagi karena para pengeroyoknya mengeluarkan kata-kata yang kasar serta kotor, dengan ancaman-ancaman yang menjijikan, membuat gadis itu makin merah mukanya dan makin kacau gerakan pedangnya.


"He, kawan, jangan sampai gadis itu terluka ayo kita bantu, dia adalah salah satu murid penyihir putih dari timur" Ucap Anggiliana menghentikan keretanya.

__ADS_1


Banyaknya pengeroyok membuat gadis berpakaian serba putih makin terdesak.


"Biarkan dia kehabisan tenaga, tentu akan menyerah sendiri, ha-ha-ha!"


"Wah, kalau tenaganya habis, bagaimana bisa melayani kita?"


"Jangan khawatir, gadis dunia persilatan ini tenaganya kuat, heh-heh-heh!"


"Robek-robek dan tanggalkan semua pakaiannya, berikan padaku lebih dulu!"


"Aku dulu!"


"Aku dulu!"


"Eh, kawan-kawan. Mengapa ribut-ribut? Biar dia kita tangkap dulu, baru kita mengadakan undian siapa yang akan menikmatinya lebih dulu!" para pengeroyok seperti berlomba untuk merobohkan gadis berpakaian serba putih tersebut.


Muka Albara menjadi merah sekali. Dia hendak turun tangan membantu, akan tetapi dia masih belum tahu apa urusanya, dan apa yang menyebabkan mereka berkelahi. Apa bila dia langsung membantu gadis itu, apakah itu adil namanya? Siapa tahu, justru gadis ini yang berada di pihak salah. Maka dia menanti dan memandang penuh perhatian.

__ADS_1


Brettt... aihhhh...!!" sebagian baju gadis berpakaian serba putih robek berikut baju dalamnya sehingga tampaklah leher, pundak dan sebagian d4da kiri yang berkulit putih halus seperti susu.


Albara tidak dapat lagi menahan kemarahannya. Dia meloncat maju dan membentak, "Orang-orang kurang ajar! Mundur...!"


__ADS_2