Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 188


__ADS_3

Delapan manusia kerdil segera memeriksa ruangan di mana raja Daffin dan raja Jayendra menjalani kutukan lalu mereka membuat formasi berbaris di depan, raja Daffin dan raja Jayendra.


Manusia kerdil berambut putih dengan jenggot sedada berdiri di tengah tengah dua langkah di depan tujuh orang lainnya, seperti komandan upacara sedang menyiapkan pasukannya.


"Semua beersiap .. ikuti mantra yang saya ucapkan" ucap sang komandan.


"Bismillahirrohmanirrohim. Sirrullah, sifatullah, ya kamu merasa, ya aku merasa, aku siap melangkah, yang menolak menangis menghadap sang kekasih" sang komandan mulai membaca mantra di ikuti tujuh orang lainnya.


Mantra di baca berulang hingga tiga kali di ikuti tujuh manusia kerdil lainnya. Setelah tiga kali mereka membaca mantra terasa udara di sekitar ruangan menjadi panas.


"Duaaaar" sebuah ledakan terdengar kedepan orang orang kerdil terlempar seperti sampah di sapu badai.


"Akkkkh Ahkkkkk" jerit mereka serempak tubuh mereka bergelimpangan, dengan darah segar menetes dari bibir mereka. mereka berusaha bangun tapi tak mampu bergerak sedikitpun, seluruh tubuh mereka sudah kaku seperti batu.


"Braak" peti kayu di depan putri Hena, Albara dan devina terbuka, terlihat sosok laki laki setengah baya hampir menerupai tengkorak. Hanya matanya yang bergerak memandang putri Hena.


"Putri Hena mendekatlah" ucap manusia tengkorak di dalam peti kayu, suaranya terdengar sangat lemah.


"Paman Landar" teriak putri Hena setelah melihat siapa yang berada dalam peti kayu tersebut.


"Putri menyingkirlah dari sini, carilah cinta sejati tuan putri" ucap Landar.


"Dia jahat sekali. Bahkan lebih jahat dari pembunuh sadis, jauh lebih jahat daripada koruptor, lebih jahat dari monster sekalipun" ucap Landar


"Namanya... " Landar menelan ludah, tapi tak ada suara yang keluar.


"Siapa namanya?" tanya putri Hena.

__ADS_1


"Tidak aku tidak bisa menyebutkannya" Landar bergidik ketakutan.


"Jangan paksa aku menyebut namanya. Pendeknya, penyihir ini kira-kira dua puluh tahun yang lalu mulai cari pengikut. Beberapa pengikutnya awalnya karena takut, sebagian lagi karena inginkan cipratan kekuasaannya, karena dia memang Menginginkan kekuasaan"


Landar berhenti sejenak dia terlihat sedih.


"Semenjak itu sungguh hari-hari makin suram. Raja Jayendra tak tahu lagi siapa yang bisa dipercaya. Hal-hal mengerikan terjadi. Dia mulai ambil alih kekuasaan. Tentu saja Raja Jayendra berusaha melawan tapi mereka dikutuk dengan sihir terkuat yang hanya di ketahui Raja Jayendra dan adik seperguruanya" Cerita Landar.


"Salah satu tempat yang masih aman bagi pengikut raja Jayendra hanyalah kota bukit Rindu-Hati. Kurasa saat itu Raja Jayendra adalah satu-satunya yang dia takuti kau tahu kenapa" ucap Landar lemah.


"Ibu dan ayahmu adalah penyihir hebat. Dua-duanya Murid berbakat semasa mereka sekolah. Mereka tak berhasil mencoba menarik ibu dan ayahmu ke pihaknya sebelumnya... Karena ayah ibumu terlalu dekat dengan Utusan Tuhan Yang Maha Esa, Ayah dan ibumu adalah orang yang selalu berdiri di atas kebenaran, sehingga pasti tidak tertarik pada Sihir Hitam"


"Karena ayahmu tak bisa dia bujuk... makanya dia ingin ayah dan ibumu disingkirkan. Dia muncul di istana tempat kalian tinggal sepuluh tahun lalu. Kau baru berumur sepuluh tahun waktu itu. Dia datang ke rumahmu lalu... Lalu..."


Landar tiba-tiba menarik keluar tisu yang terlihat kotor lalu membuang ingus dengan bunyi yang menjijikkan.


"Karena aku sedih sekali aku kenal ibu dan ayahmu, tak ada orang lain sebaik mereka. Pendeknya... Tidak ada yang tahu siapa pengutuk mereka. Dan kemudian dan ini misteri yang tak tejawab, dia mencoba bunuh kau juga, tapi semua mantranya tak ada yang mampan"


"Pernahkah kau bertanya-tanya bagaimana kau dapat di kutuk? Itu Pun bukan kutukan biasa. Itu yang kau dapat saat kau sangat .... kau sangat emosi dan menganggap enteng kekuatan sihir jahat seorang pelayan mu sendiri yang akhirnya menjadi selir ayahmu"


"Maksud paman, Ratu Rania?" tanya Hena.


"Ia dia sangat licik pula, Dia berhasil memusnahkan kekuatan ayahmu. sehingga musuh berhasil mengutuk ibu dan ayahmu, bahkan menghancurkan kota mu menjaadi puing puing yang tak dapat di kenali lagi, tetapi tidak mempan untukmu. Itulah sebabnya kau sangat dia takuti, Putri Hena"


"Tak seorang pun bisa hidup setelah dia putuskan untuk membunuhnya. Tak seorang pun, kecuali kau, dan dia telah berhasil bunuh penyihir penyihir terbaik pembantu ayahmu, padahal kau ?masih kanak kanak waktu itu tapi kau hidup." cerita Landar.


"Carilah cinta sejatimu putri Hena karena hanya cinta sejatimu yang akan mampu melepaskan kutukan yang di alami Raja Jayendra dan pengikutnya, Jangan mencoba mantra mantra apapun sebelum memperoleh cinta sejatimu, jika tidak ingin kutukan berbalik pada kalian seperti apa yang baru saja terjadi terhadap delapan penduduk Dwarfa barusan" Landar mengingatkan putri Hena.

__ADS_1


Sesuatu kenangan menyakitkan kembali terbayang dalam benak putri Hena, ketika cerita Landar hampir selesai.Putri Hena terkenang kembali mimpinya saat dia berumur tujuh belas tahun, dia melihat cahaya hijau menyilaukan, lebih jelas daripada yang selama ini di ingatnya. Lalu seseorang menjelma dalam mimpinya seorang pangeran yang sangat tampan, seorang pangeran yang telah mencuri hatinya, sangat jelas dalam benaknya.


Putri Hena sangat kaget saat dia perhatikan Albara, tidak salah lagi seperti inilah sosok pangeran yang ada dalam mimpinya, sisok pangeran yang selama ini ada di benaknya.


"Mungkinkah Albara cinta sejatinya?" pikir putri Hena.


Putri Hena juga ingat sesuatu yang lain, untuk pertama kali dalam hidupnya tawa nyaring, dingin, dan bengis seseorang yang berusaha mengutuknya bahkan berusaha membunuhnya.


Landar menatap putri Hena dengan sedih.


"Aku sendiri yang mengambil Putri Hena dari rumahmu yang hancur, lalu mencoba melawan dia hingga paman harus berakhir dalam kutukan seperti ini" Landar mulai meneteskan air mata.


"Keparat kau ratu Rania" kata Putri Hena melompat, dia nyaris lupa kalau Albara dan Devina ada di situ.


Putri Hena kelihatannya sudah mendapatkan kembali keberaniannya. dia sangat marah lalu melihat kepada paman Landar tangannya terkepal.


"Dengarkan aku, paman Landar" geramnya.


"Kuakui kau memang pahlawan bagi Putri Hena, Putri Hena akan membalas apa yang mereka lakukan pada paman, mungkin mereka hanya bisa dibereskan dengan perlawanan. Tanpa kekasih pun Hena akan melawan mereka paman" ucap Putri Hena sangat marah.


"Jangan terbawa emosi putri Hena, sihir nereka sangat manjur terhadap orang yang sedang emosi. Selamatkan kedua orang tuamu, suatu yang tak bisa dibantah, kalau menurutku dunia Bunian lebih baik di pimpin mereka" Landar menasehati putri Hena.


"Semua yang terjadi itu salah mereka yang gila kekuasaan, yang memberi peluang penyihir hitam, Mau apa lagi mereka telah merusak syariat suci yang selama ini berlaku di dunia Bunian, mereka telah melemahkan kekuatan penyihir putih, sudah tentu mereka yang harus putri Hena lawan lebih dulu..."


"Hena tidak peduli paman, siapapun yang telah menyimpang dari syariat Suci akan Hena lawan" kembali putri hena mengepalkan tangannya.


"Bagus paman bangga padamu putri Hena kau tak ubahnya seperti Ayah, ibumu teguh berdiri di atas kebenaran dan tak pernah gentar memperjuangkan kebenaran" puji paman Landar.

__ADS_1


__ADS_2