
Cukup lama mereka main kucing kucingan dengan bala tentara penyihir hitam yang telah mengepung kota Rindu Hati, untungnya mereka menggunakan kereta kuda hingga deru mesin kendaraan tidak terdengar sama sekali. Menjelang pagi mereka sudah berada di jalan raya menuju gerbang Kota Rindu Hati.
Anggiliana memacu kecepatan kereta dengan melecut bagian belakang kuda penarik kereta, kuda kuda meloncat lalu berlari kencang membuat kereta berguncang mengikuti irama lompatan kuda penarik kereta.
"Berpeganglah kuat-kuat!" kata Anggiliana saat kuda itu sudah meloncat ke depan. Albara memegangi tempat duduk kereta dengan kaku, tubuhnya terguncang dan miring-miring.
"Ehhh, awas, kalian nanti jatuh. Berpeganglah padaku," kata Anggiriana pada Devina dan putri Hena saat Anggiliana yang membalapkan keretannya lebih cepat lagi.
"Hi hi hi hi beberapa kali Anggiliana terkekeh dan sengaja melecut kuda hingga kereta makin bergoyang goyang. sehingga tubuh mereka merapat berhimpitan, Bahkan kadang-kadang, kalau kuda meloncat, tubuh mereka juga melambung dan terjatuh dengan keras.
"Pelan pelan Anggiliana... lihat para penjaga kota sedang mengarahkan panah pada kereta" teriak Anggiriana menyadarkan Anggiliana.
Anggiliana memperlambat laju kereta saat melewati penjagaan gerbang Kota Rindu Hati. Para penjaga pintu gerbang barat tadinya menghadang kereta, akan tetapi setelah kereta mendekat maka terlihat Anggiliana mengemudikan kereta, maka segera para penjaga gerbang memberi hormat dan tertawa lalu membukakan pintu gerbang.
__ADS_1
"Oh ternyata nona Anggiliana yang datang" ucap penjaga membiarkan kereta mereka lewat tanpa gangguan sedikit pun.
Sesudah memasuki pintu gerbang, kereta kembali membalap dengan cepatnya, melewati jalan yang masih sepi, lampu lampu jalan terlihat belum di matikan. Tidak lama kemudian, tibalah mereka di sebuah gedung dengan tembok berwarna merah keuangan yang indah dan diterangi lampu-lampu dengan teng berkembang.
Melihat kereta memasuki halaman gedung, tiga orang pelayan yang bertubuh tinggi besar segera menyambut, seorang menerima menerima kereta, dan dua orang lagi mengiringi Anggiliana yang menyeret tangan Albara di ikuti Anggiriana, putri Hena dan Devina memasuki gedung megah dengan tembok terbuat dari batu permata berwarna merah keungu unguan.
"Waw semua tembok di bangun dengan batu permata yang indah" Mata Albara terbelalak kagum menyaksikan bangunan yang sangat megah.
Lebih terbelalak lagi saat melihat isi gedung yang ternyata sangat mewah dan serba indah. Di dalam mereka memasuki sebuah ruangan dan di situ tampak sebuah pintu terbuka, memperlihatkan sebuah Ruang tamu yang mentereng dan bau harum semerbak keluar dari kamar tamu yang terbuka. Di dalam ruangan terdapat sebuah meja dengan kursi perabotan yang terbuat dari emas, di atas meja terlihat hidangan yang masih hangat mengepul sudah tersedia.
Albara mengerutkan alisnya sebentar, akan tetapi dia mengangguk dan duduk di atas bangku terbuat dari emas, di ikuti putri Hena dan Devina. Tak lama kemudian seorang wanita setengah baya dengan gaun serba putih masuk lalu mengambil tempat duduk berhadapan dengan Albara, di ikuti Anggiliana dan Anggiriana mengbil tempat duduk di kiri dan kanan nya.
Dua orang pelayan yang kelihatan kuat dan sigap tadi mengiringi mereka lalu keluar dari ruangan setelah menutupkan pintu ruangan. Sambil tersenyum ramah Anggiliana menuangkan teh panas ke dalam cawan tamu mereka dan cawan mereka.
__ADS_1
"Anak muda, mari kita minum sebelum membicarakan sesuatu" Wanita setengah baya mempersilahkan tamunya minum.
Albara mengangkat cawannya dan minum tehnya hanya sekali teguk dia memang sudah sangat haus. Anggiliana tertawa melihat cara minum Albara yang terkesan tidak sopan.
"Nyonya sungguh amat baik, suka menjamu kami yabg kasar dalam kehausan yang sangat" ucap Albara malu.
"Wah-wah-wah, Tuan tidak usah terlalu sungkan, saya sendiri juga sangat haus" Anggiriana juga meneguk tehnya sekali teguk.
Melihat ini Puri Hena, Devina dan Anggiliana melakukan hal yang sama. kemudian Anggiriana kembali menuangkan teh dari guci ke dalam cawan mereka masing masing.
"Silakan minum.. ehhh tidak usah sungkan sungkan …, Anggap saja rumah kalian sendiri" Wanita setengah baya mengerling maklum akan keadaan mereka.
"Saya mewakili dua teman saya mengucapksn tetima Kasih banyak, saya sangat terharu ternyata Penyihir putih dari timur yang sangat tersohor di negri bunian berkenan menyambut kami secara langsung" Putri Hena menjura lalu membungkukkan badan memberi hormat ala penduduk bunian.
__ADS_1
Saat mereka sedang minum teh di ruang tamu, sambil bercakap cakap dengan penyihir putih dari timur. Penjagaan di sekitar gedung kediaman Penyihir Putih dari timur sepertinya sedang di perketat.