Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 45


__ADS_3

Setelah mengantar Albara ke kuil batu diri, Kha Cang To Jin segera melesat ke lembah Kera Putih yang terletak di barat Koto Tapus. Lembah kera putih terbentang dari barat Sumatra sekarang hingga Sri Langka, di sini bala tentara ratu Balqis menghadang bala tentara Samiri yang meyerbu dari Daratan India.


Tetapi setelah Raja Sulaiman menemukan cincinnya dia memiliki kekuatannya kembali mengendalikan angin dan bangsa jin, saat melihat Raja Sulaiman berdiri di hadapan pasukan Samiri maka sebagian besar pasukan Samiri dan beberapa jin Sekte pengikut Iblis mengundurkan diri kembali ke ibu Kota Kerajaan Sulaiman. Sedangkan Ratu Balqis di jemput oleh Raja Sulaiman menggunakan pesawat angin, pasukan ratu Balqis bubar tanpa ada pertumpahan darah, sebagian besar pasukan Ratu Balqis kembali ke Kota Raja Kerajaan Sulaiman dan sebagian kembali ke Koto Tapus dan kota kota lain asal mereka di Daratan Hindia.


****


Iblis dan pengikutnya yang setia masih meneruskan misinya, sekarang berencana menggempur pasukan Kha Cang To Jin Ketua Sekte Pengikut Tuhan yang Maha Esa. Kembali Lembah Kera Putih akan menjadi tempat pertempuran sengit Pasukan jin pengikut iblis di bawah komando Iblis sudah berhadapan dengan pasukan jin Sekte Pengikut Tuhan yang Maha Esa di bawah komando Kha Cang to Jin dan Cin Ceng si Jin.


Iblis maju ketengah arena menantang Kha Cang To Jin untuk berduel. Kha Cang To Jin pun maju ke tengah arena menerima tantangan Iblis.


Perkelahian serupun terjadi seperti seekor singa lagi bertarung dengan macan putih bertarung mati hidup, mereka saling terkam, saling banting, Terkadang mengirimkan pukulan jarak jauh, bola api terlihat saling hantam mengakibatkan dentuman dahsyat, pohon pohon berterbangan, hutan belantara rusak porak poranda.


Kedua monster ini terus mengamuk hingga kedua pasukan menjauh dari arena pertempuran, Cin Ceng Si Jin memerintahkan pasukan jin Sekte Pengikut Tuhan yang Maha Esa mundur ke bukit barisan.


Setelah ratusan jurus Kha Cang To Jin mulai terdesak hebat, untungnya saat yang sangat kritis, Tuhan yang Maha Esa memerintahkan Malaikat Maut menangkap Iblis, sebelumnya Tuhan yang Maha Esa juga menutup telinga Malaikat Maut supaya tidak mendengar raungan Iblis yang dahsyat. Melihat Malaikat Maut berdiri di antara mereka Iblis menjadi ketakutan lalu berbalik arah mencoba melarikan diri, Namun kecepatan Malaikat Maut lebih cepat, belum jauh Iblis pergi Malaikat Muat telah memcengramnya dengan cengkraman yang sangat kuat. Iblis merasa kesakitan yang amat sangat merasa seperti nyawanya akan tercabut, saat rasa sakit dan ketakutannya sampai pada puncaknya dia meraung sangat dahsyat, tapi kali ini Malaikat Maut tidak mendengar raungannya.


Iblis berusaha meronta dari cengkraman Malaikat Maut, hingga separuh Daratan Hindia seperti terguncang gempa hebat, tanah yang di injak iblis terbenam kedasar laut, Iblis terus meronta hingga sebagian besar daratan Hindia terbenam ke samudra hindia menyisakan pulau pulau terbentang dari Sumatra, Kalimantan, Jawa, sulawesi dan ribuan pulau di nusantara yang membentang dari laut Cina Selatan hingga Samudra Hindia. Akhirnya iblis hanya pasrah di cengraman Malaikat Maut, Iblis yang sudah tertangkap akhirnya di kembalikan malaikat maut ke kurungannya.

__ADS_1


*****


Setelah Kha Cang To Jin meninggalkan Albara di kuil batu diri, dalam satu kedipan mata Albara merasa pemandangan di depannya sudah berubah, dia tidak berada di siang hari akan tetapi dia berada saat hari mulai terang di pagi hari. Albara tidak berdiri menatap batu diri tapi dia lagi berdiri di dalam kemah menatap dinding kemah persis saat dia ingin mengintai pak Sulaiman yang sedang bermeditasi.


Albara merasa baru saja bangun dari mimpi hampir tak percaya dengan apa yang di alaminya tapi, saat Albara meraba raba jari manisnya, dia sangat gembira saat mendapatkan jari manis kirinya benar benar mengenakan cincin pintak pinto. Untuk meyakinkan kalau dia bukan sedang bermimpi, Albara menggigit ujung jarinya, Albara mengaduh sendiri karna rasa sakit di ujung jarinya.


"Benar benar saya tidak bermimpi" guman Albara pada dirinya sendiri.


Saat bersamaan kakeknya Sultan Murod dan Cagub Sulaiman masuk kekemah.


"Ini hari ke empat, saatnya kalian kembali hayo berkemas" kata kakek memerintah saat melihat Albara yang berdiri kebingungan.


Albara diam tak mampu bicara dia juga baru merasa kemarin ke tempat ini, disisi lain dia meresa sudah mengembara selama satu tahun lebih, sedangkan kakeknya bilang sudah tiga hari dan ini hari ke empat. Pengalaman yang di alaminya membuat Albara shock masih antara percaya dengan tidak.


Albara akhirnya sadar dengan keadaan mereka segera dia berkemas, semua alat dan perlengkapan masih utuh tidak terpakai kembali di bawa pulang. Mereka bertiga kembali ke Kota Tapus, dalam perjalanan pulang Albara merasa ada perubahan pada fisiknya, perjalanan kembali terasa enteng sekalipun dia di bebani dengan barang barang yang sangat berat menempuh hutan lebat terkadang mendaki atau menuruni puncak bukit yang sangat curam , tidak ada kelelahan hingga sebelum waktu sholat zuhur mereka sudah sampai di rumah kakek Sultan Murod. Albara terlihat segar bugar sedangkan pak Sulaiman dan kakek Sultan Murod terlihat dalam kecapean yang amat sangat.


Setekah cukup istirahat dab minum kopi Cagub Sulaiman segera berpamitan dan menyerahkan uang 2 Juta rupiah ke kakek Albara dan menyerahkan 3 juta ke pada Albara. Saat memandang cincin di tangan Albara dia sangat tertarik, pak Sulaiman merupakan penggemar berat batu akik. Melihat cincin dengan batu merah delima di ikat perak murni, batu sebesar jagung berwarna merah dengan asahan mirip diamond, dua per tiga batu terbenam dalam ikatan perak segi empat, hingga terlihat mirip kubah masjid.

__ADS_1


"Boleh saya lihat cincin mu Bara" tanya pak Sulaiman.


Albara juga bingung dengan perubahan warna batu cincin pintak pinto di tangannya, tadinya berwarna hijau zamrud, sekarang berwarna merah ruby. Raja Sulaiman tidak pernah mengatakan kalau cincin akan berubah warna jadi merah, tapi hanya pernah mengatakan jika perubahan warna menjadi ungu maka saat itu Albara akan punya 1 doa yang Makbul.


"Boleh pak de" kata Albara memberikan cincinnya pada pak Sulaiman.


Pak sulaiman mengamamati batu cincin di dalam batu terlihat seprti warna khusus hampir tak terlihat kuning, merah, ungu dan hijau membentuk seperti pelangi berbentuk hurup v terbalik.


"Ini seperti sejenis ruby dengan lambang pangkat berbentuk hurup v, sering di sebut batu Sulaiman" guman pak Sulaiman.


"Batu Sulaiman?" tanya Albara setengah kaget.


"Maksudnya lambang v pada cincin adalah lambang pangkat Raja Sulaiman, kahasiatnya untuk meningkatkan wibawa, cocok untuk pejabat, apa kau mau menjualnya?" tanya pak Sulaiman.


"Saya menghargai batunya 5 juta, perak pengikatnya 1 juta, ditambah 2 juta sebagai hadiah untuk Albara" jika kau setuju saya akan bayar kontan kata pak Sulaiman.


Albara mengelengkan kepala "tidak pak de, cincin ini pemberian seseorang yang sangat berarti dalam hidup saya bagaimanapun tidak akan saya jual" katanya.

__ADS_1


Pak Sulaiman akhirnya menyerah setelah Albara tidak akan melepas cincinnya, lalu kembali ke rumah Dinas Sekda Kota Tapus meninggalkan Albara dan kakek Murod yang masih penasaran ingin mendegar pengalaman meditasi pak Sulaiman.


Setelah Cagub Sulaiman pergi, Albara juga bersiap kerumah pak Sekda Kota Tapus menjemput Mulan, hari ini mereka ada janji memenuhi undangan Laila, yang lagi merayakan ulang tahunnya ke 21 di warung pojok kopi jangkat. Albara sangat bersemangat untuk berjumpa Mulan kekadihnya, Albara merasa terpisah sangat lama dengan Mulan. Rasa kangen di dadanya bergejolak hebat seperti ingin meledakkan dadanya yang hanya bisa terobati dengan pertemuan dengan Mulan.


__ADS_2