Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 164


__ADS_3

Gairah hidup Albara yang tadi sirna sekarang hidup kembali setelah mendengar Devina mengetahui kemana Mulan dibawa. Harapan untuk bersama Mulan kembali bersemi dengan penuh harap dan penuh semangat Albara bangkit mengikuti ajakan Devina.


"Benarkah kamu tau ke mana Mulan dan Ibunya di bawa.. Dev?" tanya Albara girang.


"Cuma menduga kak, kebetulan Devina pernah mnguntit ratu Ledisya dan putri Mulani" ucap Devina singkat.


Sebelum Albara sempat bertanya lagi Devina sudah berlari cepat sekali bagaikan seekor burung yang sedang terbang. Tentu saja Albara tidak mau ketinggalan dengan mengerahkan seluruh kemampuannya Albara menyusul Devina.


"Aduh cepatnya" seru Albara heran saat dia sudah berada di samping Devina.


"Peringan tubuh kak Bara juga tidak jelek" kata Devina.


"Apa kita tidak mengunakan kendaraan saja?" tanya Albara.


"Tidak usah kak... bangsa Tiraw memiliki tempat di dalam tanah, belum ada kendaraan di dunia manusia yang di rancang untuk menjelajahi goa kan" kata Devina.


Tak lama kenudian Devina memperlambat larinya saat mereka mendekati gerbang Kota Tapus. "Devina benar juga walaupun tanpa kendaraan toh mereka bisa sampai di kota tapus lebih cepat dari pada mengenderai kendaraan" Albara membatin.


"Lewat sini kak" ujar Devina kembali lari cepat mengambil jalur memutar di pinggir Kota Tapus.


Albara hanya mengikuti instruksi dari Devina, lalu menambah kecepatan larinya hingga bisa menyusul Devina. tak berapa lama kemudian Devina berhenti di sebuah jalan menuju ke sebuah desa di pinggir Kota Tapus


"Di sini mobil dinas sekda yang membawa Mulan dan keluarganya di temukan" ucap Albara saat Devina kembali melanjutkan perjalanan.


Devina kembali melambat saat memasuki gerbang kota tapus.


"Kalau begitu tak salah dugaan Devina, pasti mereka di bawa ke sini" ucap Devina mulai menyusuri lorong ke arah rumah ki Jaka Baya.


"ini jalan ke rumah ki Jaka Baya, kita mau apa kesini dev?" tanya Albara keheranan.


"Nanti kak Bara akan tau sendiri" ujar Devina terus berjalan menuju rumah ki jaka baya.


Devina menghentikan larinya saat di pintu masuk tiga orang berseragam hitam berdiri memandangi mereka dengan tajam.

__ADS_1


"Kenapa kalian memandang kami seperti itu" kata Devina ketus.


Seorang di antara mereka maju seperti sengaja ingin menghalangi mereka masuk.


"Kami tidak bermaksud apa apa, kami hanya merasa heran ada perlu apa kalian kemari?" tanyanya sopan.


"Bukan urusan kalian, minggir kalian kami ingin bertemu tuan rumah" ucap Devina.


"Dev.. jangan buat keributan" bisik Albara di samping Devina.


Kembali salah satu dari mereka berucap. "Maaf saat ini tuan rumah sedang tidak ada, kami hanya di tugaskan Andree Lee untuk menjaga rumah sampai mereka kembali, dan selama mereka pergi kami tidak memperoleh kan siapa pun masuk" lelaki tersebut lalu berdiri dengan sikap menantang.


"Kalian minggirlah, saya hutung sampai sepuluh jika ki Jaka Baya tidak keluar kami akan memaksa masuk" ucap Devina.


"Satu.." ucap Devina lalu menjeda ucapannya beberapa saat.


"Dua...." ucap devina lagi.


Albara agak cemas takut kalau Devina akan buat keributan, sekalipun saat Albara terdampar di zaman raja sulaiman dia terbiasa melihat kekerasan dunia persilatan dari perkekahian, pembunuhan bahkan peperangan. Tapi di zaman trendi ini dunia medsos maju pesat, jika mereka membuat keributan maka bisa jadi berita mereka akan di baca seluruh dunia, hal inilah yang membuat Albara tidak ingin ada keributan.


Berpikir akan terjadi hal hal yang tidak di inginkan dan posisi mereka adalah orang yang melanggar hukum jika mereka buat keributan di rumah ki Jaka Baya, sehingga Albara mengambil sikap damai.


"Kapan kami bisa bertemu ki Jaka Baya?" tanya Albara.


Lelaki yang tadi maju menghalangi jalan mereka, menoleh kepada Albara dengan pandangan yang mengancam.


"Albara .... kamu punya telinga tidak ... saya kan sudah bilang ki Jaka Baya sedang pergi.... tunggu saja dia kembali, atau saya harus nenendang pantat mu supaya kau mengerti" teriak pengawal Andree Lee mengancam Albara.


"Delapan.. Sembilan ... Sepuluh" ucap Devina.


Tepat hitungan ke sepuluh Devina telah menyambar lelaki di depannya, tangannya dengan cepat membuat gerakan memukul ke arah kepala lelaki yang menghalangi jalan mereka.


Pengawal Andree Lee bukanlah orang lemah mereka di rekrud karena ketinggian ilmu bela diri mereka. Lelaki yang berdiri di depan Devina adalah yang paling tinggi ilmu kesaktiannya melihat Devina dengan gerakan ringan memukul kepalanya, dia mundur selangkah tapi alangkah kagetnya ketika pukulan Devina seperti mengejarnya sehingga terpaksa dia memiringkan kepala, sehingga yang terkena pukulan Devina adalah pundaknya.

__ADS_1


"Buuk, krakk" terdengar bunyi gedebuk di susul bunyi tulang patah.


"Ahhhhhk" terdengar lelaki tersebut mengerang kesakitan. tubuhnya terlempar hingga lima meter membentur pintu rumah ki Jaka Baya. Lelaki tersebut tak menduga kalau pukulan Devina yang terlihat pelan ternyata mengandung tenaga dalam tinggi sehingga tulang pundaknya patah dan sambungan bahunya terlepas.


"Wanita ******... kau berani memukul teman kami, rasakan ini" dua orang pengawal Andree Lee serempak menyerang Devina.


Akan tetapi sangat mudah bagi Devina untuk menghindar lalu dengan gerakan terkesan lembut dua pukulan telak telah mendarat di dada mereka. Kembali mereka terbanting tumpang tindih memasuki rumah Jaka Baya. Devina menyerbu masuk menangkap salah satu mereka.


Tangan Devina yang telah tumbuh cakar, dan taringnya terlihat tajam, membuat lelaki yang di cengramnya gemetar ketakutan.


"Katakan kemana ki Jaka Baya, atau kurobek robek seluruh tubuh mu" Ancam Devina.


Lelaki di cengkraman Devina semakin takut saat dia seperti tak berdaya melepaskan cengkraman cakar Devina di lehernya.


"Mereka keruang praktek ki Jaka Baya" jawab lelaki tersebut sangat ketakutan.


"Dengan siapa dia pergi?" tanya Devina makin memperkuat cengkramannya, sehingga kuku Devina yang telah berubah menjadi cakar telah melukai kulit kulit leher pengawal Andree Lee.


"Ampuni saya nona.. mereka pergi membawa pak Sekda" ucap lelaki tersebut makin gemetar, dari lehernya telah mengalir darah segar bekas cengramam Devina.


"Bagus ... " kata Devina lalu melemparkan tubuh pengawal Andree Lee.


"Kak bara... ayo kita kejar mereka" ucap Devina.


Albara tersadar dari apa yang baru saja di dengarnya kalau Sekda benar benar mendatangi ki Jaka Baya.


"Buat apa mereka menemui ki jaka baya" pikir Albara keheranan saat menyusul Devina yang telah memasuki ruang praktek perdukunan ki Jaka Baya.


"Sepertinya sudah terjadi pertempuran hebat di sini kak" ucap Devina setelah memperhatikan isi ruangan yang porak poranda.


"Auuuu" pekik Albara saat merasa menginjak sesuatu.


Dalam ruangan yang cukup gelap Albara agak kesulitan untuk melihat dia mencoba memperhatikan suatu yang dia injak namun penglihatannya tetap kabur. Albara mengambil senter yang tersimpan dalam cincin pintak pinto. Setelah mengarahkan senter kearah benda yang dia injak, kembali Albara kaget setelah bisa melihat dengan jelas.

__ADS_1


"Ini ada mayat ... Dev" ucap Albara.


Devina mendekat lalu memperhatikan mayat tersebut, mukanya seperti hangus terbakar dengan kulit bolong bolong, mukanya hapir tak berdaging hanya menyisakan kulit pembalut tulang, matanya tak bisa terpejam bibirnya kakku tak bisa menutup memperlihatkan gigi giginya. Hidungnya terlihat hanyalah lobang memanjang di dbawah tulang hidung yang meruncing. Semua orang yang melihatnya pasti akan merasa ketakutan lihat muka mayat tersebut sangat menyeramkan bahkan lebih menakutkan jika mukanya hannya berupa tengkorak.


__ADS_2