Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 157


__ADS_3

Setelah sarapan pagi Albara dan Mulan melihat lihat persiapan Doni, Manto, Laila dan yuni untuk mewawancarai para peserta tes yang telah mendaftar. Tak di sangka sangka setelah mengumumkan peluang pekerjaan untuk di tempatkan di Mall Kota Tapus Indah, Bank Wakaf dan Albara II hotel, pelamar yang tadi mereka perkirakan cuma puluhan orang ternyata membludak hingga ribuan orang.


Dari bahan yang masuk telah di seleksi oleh Laila dan yuni selama tiga hari, sehingga yang tersisa hanya lima ratusan yang akan di seleksi selama dua hari kedepan. Pagi pagi sekali Laila dan Yuni sudah menyiapkan ruangan tempat wawancara.


Albara mengajak Doni ke ruang brankas bank wakap yang telah dia isi uang tunai, setelah memberikan kode brankas pada Doni mereka kembali ke ruang wawancara.


"Don .. di brangkas Ada uang 4 triliun sebagai modal awal, dari uang tersebut berikan pinjaman pada mall kota tapus indah sebanyak satu triliun, bara sudah bicarakan dengan Rolan dan Laila, tugas doni buat kontrak dan cairkan sesuai pengajuan Laila" ucap Albara.


"Ok Bara" jawab Doni singkat.


Seluruh ruangan sudah memiliki cctv yang aktif, cctv yang bisa di akses oleh sucuriti bank wajah, Mall Kota Tapus Indah, Albara II hotel dan sekretariat direktur utama juga oleh Presiden di Rektur.


"Doni kamu kok belum siap juga.. para peserta sudah pada ngantri, sepuluh menit lagi kita akan mulai" ucap Laila saat Doni dan Albara memasuki ruang Wawancara.


Doni kebingungan saat menyadari kalau dirinya masih memakai kaos oblong dan celana jean pendek sebatas lutut.


"Sebentar saya ganti baju dulu" ucap Doni lalu meninggal kan ruangan.


Doni lebih kaget lagi saat memperhatikan ratusan para peserta yang menunggu di luar berpakayan rapi. Mereka memakai kemeja lengan panjang dengan dasi selayaknya pegawai bank. untungnya mereka tidak mengenal Doni, hingga saat Doni melintas kemudian mencoba mengeluarkan motor bututnya semua bersikap acuh tak acuh.


Di belakang motor butut doni telah terparkir puluhan mobil SUV dari berbagai merek dan ratusan motor peserta yang menghalangi jalan keluar Doni. Merasa tidak mungkin mengeluarkan motor bututnya Doni kembali ke ruangan.


"Manto tolong Doni dong... pinjami Doni jas" pinta Doni pada Manto.


"Emang kamu gak bawak jas Don?" tanya Manto.


"Gak punya.. ini juga mau cari pinjaman, tapi motor Doni sudah terkurung oleh puluhan mobil peserta" ucap doni jujur, keringat mulai membasahi dahinya.


"Ya udah .. tapi cuma jas dan dasi doang" kata Manto membuka jas dan dasi nya lalu di serahkan pada doni.


"yah... Manto masak doni pakek jas dan dasi dengan celana jean selutut" kata Doni protes.


"Biasanya celana Manto selalu pinggangnya sempit di pinggang Doni" kata Manto.


"Yah.... Doni harus bagaimana?" tanya Doni sambil mengenakan jas dan Dasi dari Manto.


Yuni menjeliti Doni, saat melihat doni dengan kaos oblong dengan celana jean sebatas lutut mengenakan jas dan dasi.


"Yang benar aja Don... masak dengan kostum begini kamu mau mewawancarai peserta tes yang busananya necis seperti pegawai bank" ucap yuni keberatan dengan kostum Doni.


Yuni ingin mengajukan diri menggantikan posisi Doni tapi Albara sudah menuntun Doni ke meja dan mendudukkan Doni di sana.

__ADS_1


"Sudah jangan di masalahkan... kan gak keliatan celana dan sandal jepit Doni oleh peserta, penglihatan mereka terhalang oleh meja" ucap Albara.


"Doni mau naya apa pada peserta?" tanya Doni dengan keringat makin deras mrngucur dari dahinya.


"Tanya aja identitas mereka, tempat tinggal dan kenapa mereka mengajukan lamaran kesini, lalu kamu tinggal pilih orang yang kamu yakin bisa bekerja dan bisa bekerja sama dengan kalian" ucap Albara.


"Peserta no 001 masuk" ucap Albara.


"tapi ..." yuni tidak melanjutkan ucapannya saat peserta no 001 telah memasuki ruangan.


Albara menuntun peserta no. 001 ke depan meja Doni lalu mempersilahkan dia duduk di kursi yang telah si siapkan.


"Ehhhheeeemmm" Doni berdehem menghilangkan canggungnya.


"Siapa nama kamu" taya Doni.


"Futri yani... pak direktur" jawab peserta no 001.


"Kenapa melamar di sini?"Tanya Doni.


"Saya punya anak, saya butuh pekerjaan tetap untuk menafkahi meteka" jawab Fitri Yani.


"Pendidikan S1" doni membaca bio data Fitri Yani.


Peserta 002. setelah selesai di teruskan pada peserta berikutnya.


Peserta no 009. kembali terdengar panggilan.


Sena peserta 009 masuk dan duduk di depan Doni, yang sedang kebingungan mau bicara apa.


"Kamu gugup dan keringatan Don" ucap Sena.


"Ah ... jangan liat liat gua" kata Doni gugup.


"Habis dari tadi aku gak di wawancarai" kilah Sena.


"Udah... kamu lulus" kata Doni menyeka dahinya yang basah oleh keringat.


Peserta no. 0012


Seorang pemuda dengan pakaian necis memasuki ruangan sebelum duduk di depan doni, tiba tiba mulan berteriak memanggilnya.

__ADS_1


"Bang Sarlie" panggil Mulan.


Pemuda yang di panggil Sarlie menoleh lalu memandang Mulan dengan pandangan kosong.


"Mulan adik abang kan?" tanya Sarlie


"Iya Bang... ini Mulan adik bang Sarlie" jawab Mulan.


"Abang Sarlie boleh bekerja di sini tak perlu wawancara lagi" Kata Albara membimbing Sarlie ke tempat Mulan, lalu membisikkan sesuatu pada doni tentang posisi pekerjaan Abang Sarlie.


Saat Mulan dan Sarlie berpelukan, Albara menyerahkan micropon pada Manto untuk melanjutkan tugasnya.


"Mulan ayo bawa Bang Sarlie ke hotel" kata Albara pada Mulan.


"Bang Sarlie kapan pulang, Abang kok seperti melihat Mulan dengan pandangan aneh gitu" Ucap Mulan dan Sarlie saat duduk di lobi hotel.


"Abang mengundurkan diri dari pekerjaan di Jakarta, atas permintaan ibu dan bapak mereka ingin Abang bekerja di Kota Tapus, mereka juga bilang kalau dik Mulan tidak lagi seperti Mulan anak mereka dulu" ucap Sarlie.


Mulan maklum atas pengaduan ibunya pada Sarlie.


"Bang ayo liat kamar Abang" ucap Albara menyerahkan kunci kamar untuk Sarlie.


"Abang bisa gunakan kamar ini selama bekerja di Kota Tapus, atau sampai perumahan untuk karyawan siap di bangun" kata Albara setelah mereka berada di kamar yang di siapkan Albara.


"Terima kasih dik Bara" ucap Sarlie.


"Abang cuma sedang bingung, di rumah ibu sama bapak seperti tak mengenal Bang Sarlie, juga kamu seperti cuek sama abang Sarlie, makanya abang memilih nginap di hotel Kota Tapus tadi Malam" kata Sarlie.


"Bang Sarlie datang jam berapa?" tanya Mulan.


"jam sembilan malam" kata Sarlie.


"Waduh kak... jam sembilan ibu dan bapak ada di rumah sakit, bahkan pagi ini Mulan dan kak Bara masih membezuk ibu masih di rawat di rumah sakit" ucap Mulan.


"Lantas yang kakak lihat di rumah itu apa? emang hantu apa?" tanya Sarlie bingung.


"Nanti aja Mulan jelasin, abang istirahat aja dulu" ucap Mulan panik.


"O ya bang kenalkan juga ini kak Bara suami Mulan" ucap Mulan.


"Haaah, sejak kapan kalian menikah" ucap Sarlie.

__ADS_1


"Nanti Mulan cerita bang, Mulan tinggal dulu" ucap Mulan membawa Albara keluar kamar.


"Kita kerumah sakit kak, Mulan yakin dengan ucapan Devina kalau misi ratu Ledisya menyingkirkan kami sekeluarga tidak main main" ucap Mulan.


__ADS_2