
Doni, manto, pak Bukhari dan Katerin kembali bisa bergerak, mereka semua takjub dengan pemandangan di depan mereka.
Semua meja di sekeliling ruangan sesak penuh oleh orang orang yang berpakayan mewah layaknya orang orang penting dari kerajaan. Entah dari mana datangnya di meja Doni dan teman temannya juga sudah duduk seorang putri yang sangat cantik berpakayan sebagaimana layaknya putri raja dalam kisah kisah kerajaan zaman dulu kala. Sang putri juga di temani beberapa pengawal berdiri di belakangnya.
"Kalian ini siapa datang dari mana?" tanya sang putri pada Katerin yang duduk lebih dekat denganya, sikap sang putri terlihat sangat tidak suka dengan kehadiran mereka, matanya menatap Doni, Manto, dan pak Bukhari satu persatu dengan pandangan kurang bersahabat.
"Maaf nona, kami hanyalah penduduk desa di pinggir hutan, yang kesasar ketempat ini, bolehkah kami mengenal nona yang cantik" kata pak Bukhari dengan sopan.
"Hmmmmm... saya putri Hena anak tunggal raja Jayendra, kalian pasti datang dari dunia manusia ya?" tanya putri Hena datar.
"Benar tuan putri" jawab pak Bukhari.
Ratu Rania berdiri dengan anggun di samping raja Jayendra mempersilahkan semua orang menikmati makanan yang telah tersedia.
"Hari ini kami telah menyediakan hidangan untuk kalian semua, mari kita rayakan hari kebangkitan kalian, ayo semuanya silahkan menikmati hidangan yang telah di sediakan" ujar Ratu Rania.
Mendapat komando Ratu Rania semua orang mulai berdesakan mengambil hidangan di meja prasmanan, termasuk pengawal putri Hena. Anehnya sekalipun semua orang berdesakan mengambil makanan, tetapi semua hidangan di meja prasmanan seperti tidak berkurang sedikitpun.
Saat semua orang sibuk dengan makanan mereka Putri Hena melirik Ratu Rania di depan sedang duduk di samping Raja Jayendra. Melihat Ratu Rania sedang sibuk dengan santapannya di samping Raja Jayendra ikut berpesta pora. Putri Hena mendekati Katerin lalu berbicara dengan berbisik seperti takut kedengeran seseorang.
"Lebih baik kalian tinggalkan tempat ini, terlalu berbahaya bagi kalian bangsa manusia di sini" putri Hena memperingatkan.
Doni, Manto, pak Bukhari dan Katerin yang sudah ketakutan sememenjak melihat Ratu Rania mengambil darah mereka, makin ketakutan wajah wajah mereka pucat pasi, keringat bercucuran dari dahi meraka karena rasa takut yang sudah menguasai mereka.
"Kami harus kemana?" tanya Katerin gemetaran.
"Ayo" kata putri Hena.
Putri Hena berdiri lalu menjulurkan tangannya ke arah Katerin. Katerin menerima uluran tangan putri Hena, lalu putri Hena membimbing Katerin di ikuti pak Bukhari, Doni dan Manto meninggalkan aula perjamuan. Semua orang seperti sibuk berpesta pora, hingga tak perduli lagi dengan putri Hena yang berjalan meninggalkan ruangan di ikuti Katerin, Doni, Manto dan pak Bukhari.
Putri Hena terus membimbing mereka meninggalkan Aula tempat pesta, menuju koridor panjang lalu menelusuri labirin aula lainnya hingga keluar menuju halaman istana yang bertaburan batu permata berkilauan. Di halaman istana juga di penuhi banyak tentara dan penduduk yang sedang berpesta pora.
__ADS_1
Putri Hena membawa katerin dan teman temamnnya kesebuah bangunan yang seperti menpel dengan sebuah bukit di belakang istana, namun sebelum mereka sempat memasuki bangunan tersebut, Ratu Rania telah menghadang di depan mereka.
"Penghianat Hena... kalian hendak kemana" bentak Ratu Rania yang entah kapan datangnya sudah berdiri di depan mereka.
Putri Hena menjadi pucat dan ketakutan segera berlutut.
"Ampun bunda ratu, biarkan kami pergi, Hena tidak akan mengganggu Sang Ratu" ucap putri Hena memelas.
Ratu Rania hanya tersenyum sinis menatap Hena
"Kamu boleh pergi tapi tidak dengan ke empat manusia itu, darah mereka masih diperlukan untuk kebangkitan pasukan penyihir" Ucap Ratu Rania menunjuk Doni dan teman temannya.
Ratu Rania yang tadi terlihat anggun sekarang berdiri dengan sorot mata tajam, tampilannya sangat mengerikan menggambarkan jiwa yang sedang haus darah.
"Pengawal tangkap mereka" perintah Ratu Rania.
Beberapa orang pengawal mengepung mereka dengan senjata terhunus diarahkan pada mereka berlima.
"Allohu akbar" pekik Pak Bukhari saat beberapa sengaja di todongkan ke arahnya.
Putri Hena memanfaatkan keadaan ini kembali menarik tangan Katerin berlari menuju sebuah bangunan yang terhubung dengan terowongan bawah tanah di belakang istana.
"Mantra apa ini, panas sekali" ucap Ratu Rania bangkit berdiri.
"Kejar mereka jangan sampai lolos" perintah Ratu Rania pada para pengawal.
"Yang mulia Ratu Rania, Mereka memasuki bangunan kuil suci" kata pengawal ketakutan, dia berdiri dengan ragu untuk mengejar atau tidak.
Ratu Rania mendekati bangunan yang masih terbuka, terlihat sebuah ruangan cukup luas penuh perabotan pemujaan, di tengah ruangan terdapat meja batu seperti tempat persembahan dalam agama agama kuno.
Di dinding samping kiri depan gerbang masuk kuil, terlihat Putri Hena dan teman teman memasuki sebuah gerbang terbuka memasuki lorong yang yang panjang.
__ADS_1
"Ha ha ha ha" Ratu Rania tertawa sangat nyaring.
"Rupanya kalian sudah tak sabar menunggu hari persembahan" ucap ratu Rania terus tertawa.
Ratu Rania berdiri di depan gerbang melengkung yang baru saja di masuki oleh Putri Hena dan teman temannya, sambil komat kamit Ratu Rania mengambil segenggam pasir dari kantongnya.
"Sim sa la bim" ucap Ratu Rania lalu tangan nya bergerak menaburkan pasir kearah gerbang melengkung di depannya.
"Bruuuuuk" bumi terasa bergetar seolah di timpa batu yang beratnya ribuan ton.
Sepanjang terowongan telah tertutup oleh bebatuan padat seolah alami, gerbang melengkung tidak lagi berongga tapi berupa tebing bebatuan yang sama rata dengan dinding bangunan kuil suci. Ratu Rania mengusap permukaan bebatuan di depannya, kembali terjadi keajaiban gerbang melengkung kini tak terlihat lagi, semua rata serupa tembok diding belakang bangunan, seolah tidak pernah ada terowongan sebelumnya.
"Ha Haha Haha Haha" kembali ratu Rania tertawa nyaring.
"Hena akhirnya kau menyusul ayah ibumu, terkubur di bukit kutukan"
Setelah puas tertawa memandangi terowongan yang telah buntu tertutup bebatuan, sekarang hanya menyisakan dinding yang rapi tanpa ada bekas. Ratu Rania berjalan meninggalkan ruangan dengan penuh kepuasan.
****
Putri Hena dan teman temannya meninggalkan lorong memasuki sebuah ruangan bawah tanah yang cukup luas, bersamaan dengan jatuhnya mantra Ratu Rania yang menutup terowongan. Lantai ruangan terasa bergetar, seluruh ruangan seketika menjadi gelap gulita.
"Oooh kita akan terkubur di sini" Putri Hena berbalik meraba raba terowongan yang telah rata dengan dinding ruangan.
"Tempat apa ini" tanya Doni tubuhnya tak berani bergerak takut menabrak sesuatu.
"Ruangan depan merupakan kuil suci tempat persembahan, yang terhubung dengan penjara bawah tanah, oleh terowongan yang baru saja kita lewati" ucap putri Hena.
"Saya hanya tau hanya ada satu akses keluar masuk melalui terowongan ini, entah bagaimana caranya kita akan keluar setelah terowongan ini tertutup" ucap putri Hena.
Tiba tiba di depan mereka terlihat cahaya berkedip kedip seperti terbang mengitari mereka. Cahaya yang terus bergerak seperti seekor kunang kunang dalam gelap gulita. Cahaya tersebut terus bergerak terkadang mendekati putri Hena, lalu menjauh, mendekat lagi kemudian menjauh lagi, seolah meminta Putri Hena mengikutinya.
__ADS_1
"Saya pikir kunang kunang ini meminta kita mengikutinya" kata pak Bukhari.
"Barang kali benar, mari kita coba" kata putri Hena, lalu melangkah hati hati sekali mendekati kunang kunang yang hinggap di dinding agak jauh di depan mereka.