Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 141


__ADS_3

Sekalipun kecantikan Mulan masih terlihat tapi pesona Mulan yang di idolakan penduduk kota tapus kini turun drastis hingga empat puluh persen di banding biasanya, Jiwa Albara seperti menjerit ingin sekali memeluk Mulan.


Albara menarik napas dalam hingga beberapa kali, lalu menyesap kopi yang tadi di buatkan Mulan. Sementara itu Mulan telah menghabiskan santapan malamnya, lalu dengan keringat masih bercucuran Mulan membereskan peralatan yang sudah kosong tak tersisa.


Mereka saling tatap lama sekali tanpa bicara, maklum sudah sangat lama tak bertemu. Rindu yang mereka pendam selama ini seakan lepas setelah saling menatap, kecemasan mereka hilang setelah melihat kekasihnya baik baik saja.


"Sudah lama ya kita tidak berduaan seperti ini" kata Albara memecah kebisuan.


"Ya kak sudah lama sekali, tepatnya tujuh bulan dua puluh dua hari" kata Mulan.


"Masak iya, kamu memang ngitung atau cuma menerka nerka" Kata Albara.


"Mulan itung kak, semenjak kakak ke jakarta sudah dua bulan 4 hari, kemudian selama Mulan terkurung di goa Tiraw Mulan juga hitung dengan membuat coretan di dinding goa jumlahnya seperti yang Mulan sebutkan" ucap Mulan dengan ekspresi serius.


Albara makin terharu mendengarkan tuturan Mulan, bagaimana tidak Mulan menghitung hari demi hari bahkan mungkin detik demi detik. Terbayang oleh Albara bagaimana menderitanya Mulan menunggu hari berganti tanpa ada teman untuk di ajak berbicara, apa lagi suasana goa yang cukup menyeramkan, sepi tanpa ada komunikasi dengan dunia luar.


"Kasian sekali, bidadari ku turun ke bumi malah menderita seperti ini" ucap Albara prihatin.


"Kalau gak ada kak Bara rasanya Mulan sudah gak pengen hidup, apalagi orang tua Mulan sudah tidak mengakui Mulan anaknya" curhat Mulan air matanya meleleh di pipinya.


"Jagan terlalu larut dalam kesedihan dek, nasib kakak tidak lebih baik dari dek Mulan, semenjak SD sudah di tinggal orang tua, tapi karena itu kakak mengerti akan hidup. Susah tak akan selamanya senang juga tak selamanya, orang miskin atau orang kaya juga punya kesusahan dan punya kesenangan, yang penting kita harus selalu bersyukur"


"Yakinlah Tuhan tidak akan memberi kita beban yang tidak sanggup kita pikul. Yakin kalau semua orang tercipta untuk tujuan yang sangat mulia tidak ada yang tercipta untuk di sia siakan" ucap Albara mensehati Mulan.


"Iya kak" angguk Mulan.

__ADS_1


"Sekarang adek jangan sedih lagi ya, kan ada kakak yang akan selalu benemani adek Mulan" hibur Albara.


"Benaran ya kak Bara" ucap Mulan pengen memastikan.


"Kalau adek mau, kalau gak mau ya gak usah" ucap Albara.


Mulan langsung menghambur kepelukan Albara.


"Senang Mulan dengannya kak" ucap Mulan seperti anak kecil Mulan tak ingin lari dari pelukan Albara.


*****


Udara malam makin sejuk mulai berhembus merayap ke dalam goa dimana Albara masih duduk bersender ke dinding goa, dia tidak berani bergerak takut membangunkan Mulan yang sudah terlelap di pelukannya.


Mulan yang sangat kekelahan bercampur bahagia, tanpa sadar telah terlelap di pelukan Albara. Sementara itu Albara merasakan panas yang sangat nyaman dalam tubuhnya, hingga udara dingin yang memasuki goa tidak terasa olehnya.


Makin lama Albara merasa makin gerah lalu memindahkan tidur Mulan di pelukannya sekarang membantali pahanya. Di tatapnya wajah Mulan dalam keremangan cahaya lilin, di belainya rambut Mulan dengan perasaan iba yang sangat. Wajah Mulan berkesan meyiratkan penderitaan yang luar biasa.


"Maafin kakak sayang" ucap Albara terus mengelus rambut Mulan, mengelus pipinya yang memperlihatkan penderitaan bathinnya.


Albara mulai keringatan merasakan ada sesuatu yang hangat menjalar di sekujur tubuhnya. Tak tahan Albara dengan hawa panas di tubuhnya di bukanya resliting jaketnya. Di bukanya jaket yang tadi di kenakan lalu di selumutkan ke tubuh Mulan yang sedang terlelap. Rasa sakit di tubuhnya seperti mulai berkurang, tidak begitu sakit saat dia bergerak tidak lagi seperti tadi asal bergerak sakit nya terasa menyentak.


Kaget Albara makin jadi saat melihat beberapa helai rambut Mulan yang terbawa di jarinya. Sekalipun cahaya lilin tidak begitu terang tapi sudah cukup bagi Albara untuk melihat kalau rambut Mulan sudah sangat tipis, kulit kepalanya terlihat membayang di balik rambut tipisnya.


Albara menyelimuti Mulan denger jaketnya, air matanya terus menetes melihat keadaan Mulan, hatinya bagai tersayat sayat memikirkan apa yang di alami Mulan selama di goa Tiraw.

__ADS_1


Dengan posisi semedi Albara menggunakan napas sucinya tak bergerak membiarkan Mulan yang tertidur sangat pulas di pahanya.


*****


Saat fajar mulai menyinsing Mulan terbangun dari tidurnya, Albara yang masih melatih napas sucinya menyadari Mulan sudah bangun, namun dia masih diam tak bergerak berusaha pura pura sedang tertidur lelap.


Mulan membuka matanya, sedikit kaget mendapati dirinya tidur di pelukan Albara. Mulan duduk lalu memperhatikan Albara yang kelihatan sedang tertidur bersender ke dinding goa.


"Maafkan Mulan ya kak, gara gara Mulan kakak harus tidur dengan kondisi seperti ini" guman Mulan lirih.


Mulan melipat jaket yang tadi menyelimutinya, lalu dengan sangat hati hati memanggul tubuh Albara seakan sangat takut menyakitinya, Albara di barinngkan berbantalkan jaket yang baru saja di lipatnya. Seperti tidak ingin membangunkan Albara Mulan diam diam keluar goa.


Setelah sangat lama Mulan meninggalkan goa gerakan atau suaranya tidak terdengar lagi, Mulan seperti menghilang matahari sudah mulai meninggi, sekalipun cahayaya tidak dapat menembus lembah tapi suasana di lembah sudah terang benderang di selimuti kabut putih yang menghalangi pandangan. Menyadari ketidak beradaan Mulan di dekatnya, barulah Albara bergerak membuka matanya, Albara memandang dinding dan langit langit goa lalu memandang ke luar goa mencari keberadaan Mulan.


Albara melihat pemandangan yang sangat indah terlihat di luar goa di tengah lembah ada sungai kecil yang mengalir dari air terjun setinggi lebih dari seratus meter di hulu lembah, terus mengalir ke sebuah tebing di hilirnya. Sepertinya dihilir sungai kecil tersebut mengalir di bawah tanah melalui lobang dibawah tebing yang tinggi tebingnya lebih dari seratus meter. Di kedua sisi sungai merupakan dataran berisi pasir dan batu yang memulau.


Di mulut goa terlihat di sana ada perapian yang yang masih mengepulkan asap. Aroma ikan bakar juga sudah tercium oleh Albara saat sebagian asap memasuki goa. Terlihat juga dua ikan bakar di atas perapian menyenandungkan letupan letupan kecil saat terkena panas api dari perapian.


"Mulan sudah menyiapkan santapan pagi, buat mereka berdua" pikir Albara.


Albara duduk saat merasakan punggungnya tidak lagi sakit, lalu beranjak ke bibir goa matanya terus mencari cari keberadaan Mulan, matanya melihat setiap sudut di luar goa namun Mulan tak terlihat keberadaannya.


"Dek Mulan... " panggil Albara lembut, namun tidak ada jawaban hanya terdengar suara gemuruh air terjun dan gemercik air sungai.


"Mulannnnnn" teriak Albara cukup kencang.

__ADS_1


Juga tidak ada jawaban yang terdengar hanya suara pantulan Albara sendiri, memantul dari goa yang terdapat di tebing sisi seberang sungai. Albara berdiri melangkah keluar goa sambil terus memanggil manggil Mulan.


"Mulannnn... Mulannnn.... Mulannnnn" teriak Albara terus menelusuri pulau di luar goa, namun dia tidak melihat Mulan, tidak juga mendapat jawaban setiap manggilnya.


__ADS_2