
"Owalah cuma demi cincin kau mencariku hingga ke milinum trendy, kalau aku tidak mau memberikan kau mau apa?" tanya Albara acuh tak acuh.
"Kalau kau tak mau aku akan memaksa mu, tapi sekali lagi saya tawarkan untuk menyerahkan cincin pintak pinto pada kami, dan bergabung dengan kami jika kau perlu harta kami akan berikan jika kau mau kekuasaan kami akan berikan, kau boleh memilih bagian bumi mana yang ingin kamu perintah" Khoiril berdiri menantang bertolak pinggang.
"Kalau aku masih tetap menolak tawaran mu bagaimana?" tanya Albara lagi.
"Kau bosan hidup ya, baiklah jika kau menolak berarti kau minta kematian" Khoiril menudingkan telunjuknya pada Albara.
Albara menghentakkan kakinya tubuhnya sudah melesat dengan kecepatan luar biasa menghindari Khoiril, tapi secepat apapun dia berlari khoril tetap bisa menyusulnya, lalu terjadilah perang tanding yang hebat, seperti dua ekor kucing yang berkejaran saling terkam, saling banting, saling cakar. Begitulah keadaan Albara dengan Khoiril mereka hanya terlihat seperti bayangan berkekebatan dibarengi bunyi tulang beradu di susul suara ledakan dua tenaga sakti.
Bayangan mereka terus berkejaran terkedang mereka sudah ada di puncak gedung berloncatan dari gedung yang satu ke gedung yang lain. Pekikikan dari Albara atau Khoiril terkadang menyertai serangan yang di lakukan. Tiba tiba terdengar lengking tinggi yang menyeramkan dari mulut kgoiril, disusul dengan tubuhnya meloncat ke udara, melayang bagai terbang mengitari tubuh Albara.
"Hmmmm kau memang sudah bosan hidup" lalu melesat dengan pukulan dahsyat ke arah dada Albara.
Albara terkejut saat menyadari menyadari tubuh Khoiril melesat dengan kecepatan tinggi, hawa panas sudah tersa sebelum pukululannya mengenai Albara. Dada Albara terasa menggelegak hanya katena hawa panas dari pukulan khoiril. Albara bersiap dengan melintangkan kedua tangannya di depan dada lalu menghimpun hawa dingin dari pusarnya mengerahkan ke kedua tangannya, menyambut pukulan dahsyat Khoiril.
"Duar" ledakan karena bentaran mereka sama sama terlempar kebelakang hingga sepuluh meter. tubuh mereka melesat dari puncak gedung terjun bebas. Mereka sudah menguasai peeingan tubuh tingkat dewa sekalipun tubuh mereka terjatuh dari ketinggian namun mereka mendarat dengan enteng di puncak bangunan di bawahnya. lalu meloncat lagi seperti terbang kemudian hinggap di dinding bangunan lain, merayap seperti cicak dengan kecepatan luar biasa, dalam waktu singkat mereka telah berada di puncak gedung.
__ADS_1
Mereka berdiri saling menatap kali ini mereka sudah berada pada gedung yang berbeda, dimana mereka terpisah oleh jalan yang sangat ramai. Terlihat Khoiril menekuk lututnya, memusatkan perhatianangya mengerahkan hawa panas. Albara membalas dengan gerakan yang sama dengan mengerahkan hawa dingin.
"Duaaaar" suara petir terdengar merobek cakrawala, dari tangan Khoiril menyambar sinar putih menyilaukan melesat secepat cahaya menuju Albara.
"Desss" dari tangan Albara keluar hawa yang sangat dingin menimbulkan kristal butiran es yang melaju dengan kecepatan luar biasa ke arah Khoiril.
"Duaaaar" kembali terjadi ledakan dahsyat saat kedua kekuatan bertemu.
Khoiril terpental mundur hingga tiga langkah sementara Albara juga terlempar hingga tiga langkah.
"Ahhhhh" tubuh Albara ambruk hilang kontrol sesaat, merasakan seperti kesetrum arus tegangan tinggi.
"Bagus... Aku tidak cuma memperoleh cincin pintak pinto tetapi juga akan memperoleh panah api neraka" Khoiril sudah berdiri di depan Albara di puncak gedung di mana Albara nyaris pingsan.
Selama pertempuran mereka Albara selalu terdesak di mana semua jurus yang di keluarkan Albara cuma berasal dari si Tajam Hulu Tembesi. Sementara Khoiril menguasai berbagai jurus yang telah di curinya dari berbagai perguruan besar di benua Hindia dan benua Asia. dalam ilmu petingan tubuh bisa di katakan Khoiril lebih unggul darinya, dalam hal tenaga dalam mereka bisa dikatakan seimbang, tapi dalam pukulan jarak jauh Albara juga belum mampu membendung pukulan Guntur Petus Merobek Cakrawala yang di lepaskan Khoiril. sekalipun tubuhnya tidak hangus terbakar tetap saja Albara merasa kesetrum oleh tegangan tinggi yang menghilangkan kontrol dirinya sejenak.
"Khoiril kau memang hebat, tapi jangan kira aku begitu saja menyerahkan cincin pintak pinto pada mu, selagi yawaku masih ada aku akan berusaha mempertahankannya" Albara lalu mendahului menyerang Khoiril.
__ADS_1
Albara menyadari kalau menggunakan jurus si Tajam Hulu Tembesi, tidak akan mampu mengatasi Khoiril. Makanya Albara mengeluarkan panah api neraka milik Raja Sulaiman dari cincin pintak pinto. Dengan busur panah di tangan kiri dan anak panah di tangan kanan Albara menyerang Khoiril dengan jurus panah api neraka yang di ajarkan Raja Sulaiman.
"Kau belum mampus" Khoiril berdiri dengan kuda kuda menyambut serangan Albara.
Hawa panas mulai terasa saat Albara memainkan jurus panah api neraka dengan mengerahkan hawa sakti panas dari tubuhnya. Permainan busur di tangan kiri dan anak panah di tangan kanannya seperti dua aliran yang sangat berbeda membuat Khoiril terdesak hebat.
"Khoiril bukan aku tetapi engkaulah yang akan mampus" Albara seperti bertempur dengan kekuatan dua orang busur panah di tangan kirinya lebih banya di gunakan untuk menangkis dan menghalau serangan Khoiril tetapi sesekali menjadi serangan yang sangat berbahaya. Sementara anak panah di tangan kanan Albara merupakan senjata yang sangat berbahaya terkadang menusuk seperti tombak terkadang menebas seperti pedang.
Kembali mereka bertempur hebat, kali ini Albara berada di atas angin dengan jurus yang tak di kenal Khoiril. kali ini mereka menggunakan tenaga sakti yang sama sama panas. Khoiril mengeluarkan kipas dan belati pendek sekalipun gerakan jurus mereka sangat berbeda tapi prinsip kerjanya adalah sama. Beberapa kali mereka terlempar keras saat belati bertemu busur panah atau sebaliknya amak panah di tangan Albara bertemu kipas di tangan Khoiril.
Mereka mulai saling menggempur dengan sangat hati hati, masing mading menyadari bahwa lawan tidak bisa di anggap enteng. Mereka mengerahkan seluruh tenaga dalam mereka, jika mereka lengah maka sekali saja mereka terkena pukulan lawan maka resiko maut akan mendatangi mereka. Makin lama lewat lima puluh jurus kembali Khoiril mulai terdesak.
Khoiril bukan orang sembarangan dia punya gudang pengalaman tempur sampai seratus jurus dia masih bisa menahan serangan Albara. Pertpuran mati matian sulit di terka siapa yang akan jadi pemenangnya. siapapun yang menang bisa di pastikan tidak akan keluar utuk tanpa luka luka parah.
"Khoiril bersiaplah untuk menerima azab tuhan melalui tangan ku ini" teriak Albara, sambil mutar anak panah yang sudah berubah menjadi sinar biru yang terkadang meliuk liuk bagaikan pedang. dibarengi cuitan angin yang sangat nyaring. Melihat serangan yang begitu hebatnya Khoiril sangat kaget hingga berseru keras.
"Aiiih"
__ADS_1
Tubuhnya terlempar terjengkang kebelakang lalu bergulingan saat anak panah telah menyerempet bahunya. Khoiril merasakan panas luar biasa dadanya terasa terbakar. Nyawanya terasa hampir putus karena hawa panas di bahunya. "Panas sekali padahal cuma terserempet" pikir Khoiril.