
Diam-diam Albara mengutuk, "Wah, gadis setan! gadis itu benar-benar seperti iblis-iblis betina, sungguh tadi terlihat sangat ramah taunya setelah di kereta dia terlalu jauh berbeda. Nona ini terlihat alim dan pendiam, akan tetapi sikapnya terhadap Albara terlihat dingin dan mengandung kebencian."
Albara yang duduk diam menenangkan diri di tempat duduk belakang kereta, sekarang dapat melihat keadaan di kanan kiri kereta sampai jauh di depan. Mereka sedang melalui jalan sunyi di pegunungan, jauh dari dusun-dusun.
Diam-diam dia berpikir dan ingin sekali mengetahui apakah nona pembawa kereta punya niat baik atau sebaliknya, kenapa dia membawa kereta melalui jalan yang sepi dan sunyi? kenapa tidak membawa mereka melalui dusun dan kota?.
Apakah dia takut mereka akan menjadi tontonan, seperti turis asing yang masuk kampung? jika dia melakukan sesuatu yang tidak baik tentu penguasa setempat akan turun tangan, pikir Albara seolah dirinya seperti masih di dunia manusia.
Tiba-tiba Albara melihat di depan sebelah kiri muncul dua orang penunggang kereta kuda, yakni dua orang laki-laki tinggi besar berusia lima puluh tahun yang menghadang kereta dengan senjata tongkat sihir di tangan, memberi isyarat dengan tangan agar kereta dihentikan. Nona baju putih menghentikan kereta itu dan memandang dengan alis berkerut marah.
"Kalian ini mau apakah? Apakah perampok-perampok buta?"
"Hemm, Anggiliana! Masih berpura-pura tidak mengenal kami, Sepasang setan Bumi Langit? Kami memenuhi perintah guru kami penyihir lembah neraka, untuk minta tawananmu. Memandang muka guru kami, harap kau suka mengalah kepada kami!" Jawaban ini keluar dari mulut pria yang sebelah kiri.
Setelah kini berhadapan, barulah Anggiliana melihat jelas betapa muka kedua orang kakek itu serupa benar. Teringatlah dia akan murid kembar dari Penyihir lembah neraka, maka dia tertawa mengejek.
"Hi-hi-hik, jangan hanya kalian Setan bumi dan langit yang maju meminta tawanan, walau pun gurumu sendiri si setan neraka yang datang takkan kuberikan. Kalian mau apa?"
"Hah, Anggiliana! Kami masih memandang muka gurumu maka masih bicara dengan baik-baik, akan tetapi engkau sombong. Turunlah dan mari kita lihat siapa yang lebih unggul di antara kita. Yang unggul berhak membawa pergi mahluk asing ini!"
"Bagus, kalian sudah bosan hidup rupanya!"
Anggiliana meloncat turun dari kereta sambil mencabut tongkat sihirnya. Akan tetapi begitu meloncat dan membaca mantra lalu mengucapkan.
__ADS_1
"Sim sa la bim" Anggiliana mengarahkan tongkat sihirnya ke arah dua orang pria yang nenghadang jalannya. dari tongkat sihirnya sudah bekelebat bayangan, seekor ular sebesar pohon kelapa melesat ke arah dua pria yang juga sudah bersiap dengan tongkat sihirnya.
"Sim sa la bin ti" ucap pria di depannya setelah membaca mantra barengan, dari tongkat sihirnya juga berkelebat dua sosok yang sangat besar menghadang ular raksasa.
"Anggiliana ... Nih senjatamu, terimalah!"
Dua mahluk raksasa sudah menggulung ular raksasa yang seketika menciut seperti nenggulung sabuk saja, lalu melemparkannya ke arah gadis berbaju putih yang mengeluarkan suara heran akan tetapi cepat menyambar ularnya yang istimewa
"Sim sa la bim". ucap Anggiliana melemparkan kembali ularnya, seketika ular tersebut membesar dengan sisik warna keperakan, bersayap dan dari mulutnya menyemburkan api, Hebat bukan main gerakan naga api Anggiliana.
Tampak sang naga bergerak sinar putih bergulung, sangat tebal menyilaukan mata laksana pelangi berwarna putih perak dan dalam tiga putaran saja sang naga sudah melibat salah satu raksasa yang tadi nenggulungnya.
"Ahhhhhhk" seorang di antara dua penghadang mulai gemetaran dan tonggkat sihirnya terjatuh, dan detik berikutnya tubuhnya pun sudah terjatuh diam tak bergerak.
"Sim sa la bin ti" ucapnya setelah nembaca mantra sambil nengacungkan tongkat sihirnya.
"Angggggggg" raksasa yang masih tersisa berubah ukurannya lebih besar dua kali lipat dari semula, lalu menerjang lebih dahsyat lagi, akan tetapi dilayani oleh naga api milik gadis baju putih itu dengan tak kalah ganasnya.
Pertarungan makin menjadi seru mereka saling lilit saling banting, saling gigit. sementara tubuh Anggiliana maupun lawannya bergetar hebat, dengan tongkat sihir masing masing megarah ke tubuh satu sama lain. Tubuh lawan Anggiliana terlihat makin lemah, asap putih mengepul dari multnya, sekujur tubuhnya mulai membiru seperti sedang keracunan hebat lalu diam tak bergerak seperti patung.
"Lekas masuk kereta. Kita melanjutkan perjalanan!" teriak Anggiliana pada Albara yang sudah menonton pertarungan mereka di luar kereta.
"Kalau saja ibu tidak menghendaki kau hidup-hidup! Ehhh, laki laki ******. Engkau sendiri akan ku tinggalkan di sini untuk apa menyelamatkan jiwamu" Ucap Anggiliana dengan nada permusuhan.
__ADS_1
Wajah Albara menjadi merah sekali dan dia mengepal tinjunya setelah Anggiliana kembali memakinya, namun tatap saja memasuki kereta.
"Sudahlah, jangan memaki maki terus jika tidak sudi membawa kami biarlah kami cari jalan sendiri" Setelah berkata demikian Albara kembali berdiri lalu berjalan mau kekuar kereta.
Anggiliana gadis baju putih itu memandang Albara seketika wajahnya yang cantik jelita itu menjadi merah sekali. Matanya yang jelita terbelalak pada saat dia melihat ke arah tubuh belakang Keng Hong. Pakaian bagian belakang Albara yang berdebu itu masih tidak dapat menyembunyikan sebuah punggung yang tegak dengan lengkung kuat di bagian bawah seperti terbuat dari pada baja. Bahu yang bidang, punggung dan pinggang yang berotot dan sepasang pinggul yang bulat membayangkan otot-otot yang dipenuhi tenaga di atas kaki yang kuat.
Cepat-cepat dia memejamkan mata, tidak mau memandang lagi dan mulutnya kembali mencela. "Laki kaki mata keranjang duduklah jangan banyak tingkah, aku tidak sudi memperhatikan pria seperti mu!" Gadis ini membuang muka dan setelah Albara duduk di kereta.
Kemudian Anggiliana melompat ke atas kereta di sebelah depan dan segera membalapkan kuda dengan sikap acuh tidak acuh.
Barulah dia berkata,
"Jika kalian butuh minum atau makanan kalian tinggal ambil di bawah tempat duduk kalian...," kata Angiliana kembali ramah.
Sikap nona ini membuat Albara tidak berani untuk menyebut namanya begitu saja, melainkan menaruh sebutan nona di depannya. Nona ini sikapnya seperti seorang puteri istana saja, begitu halus, tapi angkuh namun dingin, sangat berbeda dengan putri Hena.
"Awal berjumpa dengan putri Hena sikapnya juga tak kalah anehnya denga Anggiliana" pikir Albara.
Tapi menghadapi sikap Anggiliana cukup membuat Albara bingung, juga ngeri, sukar baginya untuk mebebak niatnya membawa mereka baik atau buruk.
Sementara itu Devina juga sangat sensitif melihat sikap putri Hena dan Anggiliana terhadap Albara, sudah bisa menduga kalau mereka berdua sudah jatuh cinta pada Albara. Putri Hena yang telah lebih dulu mengenal Albara terkadang berusaha merayu Albara, sekarang benar-benar menghedaki Albara menjadi kekasih sejatinya untuk selamanya.
Bukan hanya karena Albara seorang pemuda yang tampan dan gagah, tapi juga karena mereka bisa mendeteksi kalau Albara mempunyai ilmu kepandaian yang tinggi dan memiliki senjata mukjijat pewaris pusaka peninggalan Raja Sulaiman. Jika dia dapat memiliki pemuda ini, atau paling tidak masa depannya akan terjanmin apalagi jika sampai dia dapat mengoper semua ilmu dan pusaka yang di punya Albara.
__ADS_1