Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 66


__ADS_3

Setelah prof Husen dan ajudanya terbang ke New York, Albara juga meninggalkan bandara. Sebelumnya Albara menghubungi Rolan mau nginap selama beberapa hari di Jakarta, tapi Rolan katanya sedang di Kota Tapus dalam urusan penyelesayan kontrak pembangunan pusat perbelanjaan dan bank wakaf miliknya, empat hari lagi akan kembali ke Jakarta.


Sebenarnya Albara bisa saja meminta Abang Rolan menghubungi anak buahnya, untuk menjemput Albara dan mengatur tempat menginap bagi Albara selama menunggu kembalinya abang Rolan, tapi Albara masih ingin bebas menikmati suasana Ibukota tanpa pengawalan. Akhirnya Albara memutuskan mencari penginapan sederhana tak jauh dari Bandara.


Sambil menunggu Rolan kembali ke Jakarta Albara mengeluarkan satu keping emas dari cincin pintak pinto, lalu mendatangi beberapa tempat pelelangan emas seperti pt Antam dan lain lain.


Setelah memperlihatkan bebetapa contoh keping emas miliknya, semua pihak sangat terarik, karena keping emas Albara sesuai standar dinar fine gold 99,99 persen atau dinar dengan kandungan emas 99, 99 persen (24 karat). Untuk beratnya tersedia dari bobot 1 dinar (4,25 gram), ½ dinar, ¼ dinar, 2 dinar, dan 4 dinar dan 1 taheil (Bobot 37,8) gram. Untuk koin 1 dinar 91,7 persen dan berat 4,25 gram di beli seharga Rp 3.582.007. Sedangkan untuk satu tahlil emas satuan ukuran berat 37,8 gram di beli seharga Rp. 35.116.200.


Untuk penjualan 1000 keping emas dengan uang tunai Albara terpaksa mendatangi banyak tempat. Dari hasil penjualan 1000 keping emas termpul uang sebanyak Rp. 35.116.200.000.- yang di simpan dalam cincin pintak pinto. Demikian selama tiga hari Albara berhasil menjual 3000 keping emas, selama tiga hari pula Albara kembali ke penginapan hingga larut malam.


****


Karena sangat lelah Albara tidur kembali setelah sholat subuh dia berencana istirahat total hari ini, Albara bangun kesiangan setelah mandi dan sarapan Albara keluar hotel menelusuri pertokoan tidak jauh dari penginapannya.


Di salah satu sudut pertokoan dia melihat kerumunan, di mana seorang dengan tubuh sedang sedang berorasi. Orang orang pada berkeliling membentuk lingkaran. Lelaki tua berumur sekitar 56 tahun, dengan kepala di ikat menutupi rambutnya yang sudah separo berwarna putih. Separo wajahnya di tutup kain berwarna coklat terang sehingga hanya memperlihatkan matanya yang bersinar.


Albara seperti pernah melihat laki laki ini tapi tak ingat di mana, Albara sangat terkejut saat mendengarkan orasi pak tua tersebut menyebut nama kakeknya Sultan Murod.


Setelah mengucapkan salam lelaki tua tersebut memulai orasinya.


"Kenalkan saya Bernama Adzriel kelahiran Kuala Lumpur malaysia, saya berjualan obat si raja obat mengobati macam macam penyakit, seperti darah tinggi atau struk ringan dan berat, juga mengobati penyakit yang di sebabkan racun dari berbagai jenis".

__ADS_1


"Saya berjualan hanya untuk cari makan saya harap yang orang orang berilmu jangan mengganggu"


"Saya akan ceritakan dari mana asal obat, yang saya jual yaitu asli dari indonesia tepatnya dari hulu sungai Tembesi pulau Sumatra" Kerumunan orang mulai bertambah sehingga lingkaran penonton sudah berlapis lapis.


"Zaman dahulu kala di hulu sungai Tembesi hiduplah seorang sakti berjuluk Si Tajam, menguasai berbagai ilmu kesaktian yang sangat tinggi, si Tajam bermenantu seorang Depati yang juga memiliki banyak keahlian, khususnya dalam ilmu obat dan memiliki sebuah keris sakti bernama si Raja Obat".


"Menantunya Adipati si Raja Obat hanya memiliki anak tunggal bernama Ratu Mas. Dikisahkan bahwa Ratu mas merupakan putri cantik jelita, disayang sanak keluarga, hingga semua kesaktian si Tajam kakeknya dan keahlian pengobatan ayahnya si Raja Obat di turunkan padanya. Ratu Mas yang cantik jelita di pinang oleh seorang Jendral sebuah kerajaan, jendral yang sakti mandra guna masih terhitung cucu Nabi Yusuf yang tampan rupawan".


"Dari perkawinan mereka lahirlah kakek kakek dan ayah saya. jadi jelek jelek begini saya adalah cucu Nabi Yusuf. Salah satu ciri khas keturunan mereka adalah kulit yang halus berwarna coklat terang dari kuning langsat hingga sawo matang, seperti kulit Anak muda yang tampan ini." pak tua tersebut menunjuk Albara di dekatnya.


"Adapun Keahlian pengobatan dari Raja obat turun temurun di keluarga saya hingga sampai ke tangan saya".


"Salah satu keturunan pewaris mereka bernama Sultan Murod lahir di suatu desa di Hulu Tembesi pulau Sumatra. Sultan Murod seorang pemuda yang sangat berbakat dalam ilmu kanuragan dan ilmu pengobatan peninggalan leluhur. Dia juga orang yang cerdas menguasai adat istiadat dan ilmu agama. hingga Adzriel di juluki si Pandai dari Hulu Tembesi".


"Suatu hari si Pandai dan saudaranya di suruh orang tuanya untuk mondok di sekolah Arab mengaji ilmu agama. Namun Sultan Murod hanya bertahan selama empat bulan. Saat pulang ke kampungnya orang tua Sultan Murod sangat murka melihat anaknya melarikan diri dari pondok pengajian, murka orang tuanya tidak padam padam hinga sebulan di Kampung halamannya, karena beraksi keras tak mau kembali kepondok pengajian, Sultan Murod si Pandai di usir dari rumah".


"Wahai ayah karena Ayah telah mengusir ananda tolong berikan kitab pustaka kakek dan keris si raja obat untuk bekal ananda merantau. Si Pandai memohon pada ayahnya"


"Pergilah si pandai meninggalkan rumah berbekal keris si raja obat dan kitab kesaktian kakeknya. Dengan berderai air mata si Pandai pergi meninggalkan kampung halaman, pergi merantau turun dari gunung Masurai menghilirkan sungai Tembesi menelusuri renah panjang kemudian menyebrangi sungai Merangin".


"Suatu hari setelah mendaki berbagai bukit dan jurang yang dalam sampailah di kediaman si Bintang yang bergelar si Cerdik. Karena sudah hampir magrib si Pandai numpang nginap di rumah si Cerdik. Saat akan masuk waktu magrib si Pandai pergi ketepian mandi si Cerdik, di sebuah sungai tak jauh dari rumah si Cerdik, setelah mandi dan mengambil whudu si pandai berniat melaksanakan sholat magrib."

__ADS_1


"Si Cerdik sangat tertarik dengan keris si Raja Obat milik si Pandai, di perhatian sarungnya kemudian kerisnya sangat mempesona timbulah keinginan si Cerdik untuk memilikinya. Dengan kecerdikannya dan akal licik dilaporkanlah si Pandai ke pengadilan Negri sebagai Pencuri Keris oleh si Cerdik."


"Setelah sholat magrib alangkah kagetnya si Pandai karena di rumah si Cerdik, sudah hadir nenek-mamak dan hakim Negri ingin mengadili si Pandai dengan tuduhan pencuri keris saktinya si Cerdik."


"Hakim mempersilahkan si Cerdik menyampaikan kronologisnya. si Cerdik pun berbicara di hadapan hakim Negeri"


"saya punya keris sakti bernama si Raja Obat sudah lama menghilang di curi orang, ciri cirinya demikian ...... Demikian ... Demikian. Hari ini saya melihat keris itu ada pada si Pandai. Ujar si cerdik menyebutkan ciri ciri keris, sesuai dengan yang telah di lihat nya saat si Pandai ketepian mandi".


"Hakim pun memeriksa keris si Pandai, ciri cirinya benar seperti yang di sebutkan si Cerdik. Hakim pun minta penjelasan si Pandai."


"Si Pandai pun bicara memberi pembelaan di hadapan hakim Negeri"


"Saya merantau dari Hulu Tembesi memang bermaksud mencari yang punya keris ini. Keris ini saya temukan saat rumah paman saya di rampok orang, saya temukan paman saya meninggal dengan keris ini tertancap di dadanya. Saya mau minta pertanggung jawaban yang punya keris sesuai adat yang berlaku HUTANG EMAS DI BAYAR EMAS HUTANG NYAWA DI BAYAR NYAWA"


"Si cerdik sontak kaget mendengar tuntutan balik si Pandai dan mengakui kesalahan dan kebohongan nya, hakim pun memutuskan si Cerdik di denda seekor kambing dan beras 20 gantang (hukum adat) ditambah 100 keping emas"


"Si Pandai terus melakukan perantauan hingga ke singapura, malaysia kemudian menikah dengan gadis melayu Malaysia, dialah orang tua saya"


"Tiap kali ayah saya bercerita tentang ini pada saya, dengan maksud menekankan bahwa hidup adalah urusan jati diri. Khususnya dalam kesehatan berpangkal dari jati diri, orang yang tidak punya jati diri akan mengalami rasa takut dalam hidupnya"


"RASA TAKUT adalah Sumber penyakit dan obatnya adalah JATI DIRI" pak Adzriel menegaskan.

__ADS_1


__ADS_2