Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 186


__ADS_3

Wanita di depan Devina kembali tertawa nyaring lalu melakukan serangan kilat pada devina yang berdiri dekat.


"Hi hi hi hi hi hik hik hik"


"Akan saya lihat berapa layaknya kalian untuk menghadapai Ratu Rania" ucapnya.


Matanya yang tadi memancarkan sinar kehijawan sudah bergannti sinar merah, berkelebat sangat cepat, bagai terbang mengitari tubuh Devina sambil melancarkan serangan serangan ganas.


"Devina jangan di ladeni, sebaiknya kita kembali" teriak Albara tidak ingin ada keributan.


Tapi Devina tidak mempedulikan Albara, dia pun menyambut serangan serangan ganas wanita penghuni pondok batu di depannya.


"Siluman betina, kami datang bukan untuk mencari musuh, jangan kira aku takut padamu" Devina mencoba menangkis sebuah pukulan lurus yang mengarah ke dadanya.


Melihat serangannya di papaki Devina, dia menarik kembali serangannya tapi disusul gerakan cepat memberikan totokan pada siku dan bahu Devina. Totokan yang sekaligus melakukan serangan yang amat ganas jika terkena pasti sambungan siku dan bahunya akan lepas. Diam diam Albara merasa kagum dengan gerakan wanita penghuni pondok, gerakan yang sangat indah tapi jaga merupakan serangan yang sangat berbahaya di sertai tenaga dalam yang tidak boleh di pandang enteng.


Untuk mengimbangi serangan wanita tersebut Devina terpaksa mengunakan jurus andalannya. Seketika mereka sudah saling serang hingga terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat. Devina merupakan bekas komandan dari pasukan khusus bangsa Markjud wataknya memang keras baginya jika sudah menjalankan suatu misi maka apapun yang terjadi dia tidak akan mundur. Bagi Devina pemimpin pasukan tidak cukup dengan baik tapi di harus punya sikap tegas dalam menghadapi anak buah atau musuh. Sikapnya yang tegas memang Terkadang terkesan sombong bagi orang orang yang mihatnya.


"Wanita siluman ... kau sangat memaksa jangan salahkan Devina jika kesalahan tangan nembunuhmu" teriak Devina.


"Devina jangan terlalu keras pada orang yang belum kita kenal" ucap Albara mengingatkan.


"Hmmm kak Bara, Devina tau kakak orang baik tapi ingat hidup ini bukan perkara baik tetapi hidup juga harus punya prinsip yang harus di jalani untuk mencapai kebaikan" ucap Devina tak mempedulikan ucapan Albara.


Setelah pertempuran berjalan hingga belasan jurus Albara sudah bisa memastikan kalau Devina jauh lebih unggul dari lawannya. Diam diam Albara merasa cukup cemas kalau Devina kesalahan tangan mencelakai lawannya.


"Hentikan..." teriak Albara telah melakukan serangan jarak jauh, dari tangannya keluar sinar biru mrnyilaukan, disertai letupan letupan arus listrik tegangan tinggi.


"Zzzzzzzeettt" sinar biru meluncur dengan cepat ke arah Devina dan wanita penghuni pondok.

__ADS_1


"Aiiiiih... Aiiiiiih" hampir bersamaan Devina dan wanita penghuni pondok batu melompat saling menjauh.


"Zzzzzeeeeettttt" sinar biru terus melesat hingga menghantam tebing di dalam pondok batu.


"Brrrrukkk" tebing yang menjadi dinding belakang pondok batu ambruk hingga terlihat sebuah lorong gua di belakangnya.


"Goa" ucap Albara spontan, matanya menatap tak berkedip dinding pondok yang sekarang bolong membentuk lorong yang panjang.


"Hi hihihi hihihi hi, kalian hebat, kalian pantas untuk menghadapi ratu Rania" ucap wanita penghuni pondok dengan tawanya yang nyaring, tubuhnya jungkir balik di udara lalu berdiri di depan pondok.


"Maaf, telah meragukan kemampuan kalian, teman kalian pasti Katerin, Doni dan Manto kan?" tanya wanita penghuni pondok.


"Benar, kau mengenalnya kah?" tanya Albara.


"Albara... Devina .. Akulah putri Hena putri raja Jayendra, tadinya saya punya harap pada teman teman kalian tapi mereka tak pernah muncul, sehingga Hena menjadi spesimis terhadap pertolongan manusia."


Putri Hena diam sejenak lalu menatap Albara penuh harap.


Albara melirik Devina seakan minta pendapat, dia sendiri tidak yakin jika bisa melepaskan kutukan sihir yang menimpa Raja Jayendra, dan pengikutnya.


Harapan Albara sebenarnya ada pada Devina. Memang dalam hal apapun bangsa Markjud lebih maju dari manusia bumi, apakah itu di bidang teknologi informasi, Ilmu bela diri ataupun ilmu sihir pun mereka tetap berkembang.


Berbeda dengan manusia bumi berkembangnya ilmu teknologi malah membuat beberapa cabang keahlian mundur drastis sehingga banyak keahlian manual yang di tinggalkan.


"Putri Hena, ayo antar kami melihat keadaan mereka" kata Devina.


"Mari ... ikuti Hena" ajak putri Hena memasuki goa di belakang pondok batu.


Setelah cukup lama menyusuri lorong yang licin, agak menanjak dan sempit, tibalah mereka di sebuah ruangan yang cukup luas dimana raja Daffin, raja Jayendra dan ratu Qirani di kutuk menjadi batu.

__ADS_1


"Ini ayah saya raja Rajendra, ini ibu saya ratu Qirani" ucap Hena.


Albara sangat prihatin melihat mereka, dalam cahaya yang sangat minim masih bisa di lihat mata mereka seakan memancarkan penderitaan yang amat sangat.


"Kasian sekali mereka, seperti legenda supahit lidah saja orang pada di kutuk jadi batu" ucap Albara.


Devina memeriksa semua sudut ruangan mencari cari sesuatu.


"Hena, kak Bara perhatikan seluruh ruangan, jika ada sesuatu yang aneh mungkin itu yang menjadi segel sihir mereka" kata Devina.


Mendengar ucapan Devina Albara dan putri Hena dengan semangat menyusuri lorong mencari sesuatu yang di curigai sebagai segel penyihir. Mereka melangkah dengan hati hati sekali, bagi Putri hena, Devna dan Albara pekatnya kegelapan malam di dalam goa cukup menyulitkan saat mereka memasuki bagian terowongan goa yang tidak sedikit pun di tembus cahaya.


"Kamu bisa lihat Dev?" tanya Albara saat menyadari kacamata pemberian devina sudah tak berfungsi.


"Gak bisa kak, bagaimanapun mata perlu cahaya untuk melihat, kita tak mungkin bisa melihat di tempat yang tidak memiliki cahaya sedikitpun" ucap Devina.


"Jadi sebenarnya prnglihataan adalah cahaya, Tak berguna mata tanpa cahaya, apa kakak ada nyimpan senter di cincin kakak?" tanya Devina.


"Perasaan kakak pernah nyimpan senter cuma sudah lama sekali, apa masih berfungsi atau tidak" ucap Albara.


Dulu waktu terdampar di zaman raja Sulaiman, semua keperluan Albara di siapkan oleh Mulan, tetapi senter tersebut pernah terendam air saat Albara hanyut di sungai bersama Raja Sulaiman.


"Waduh.. sepertinya sudah gak berfungsi Dev, mungkin komponennya sudah berkarat gara gara pernah terendam air" ucap Albara dengan senter yang tak bisa dinyalakan lagi.


"Ha ha ha ha, manusia bumi memang pecundang" ucap Devina


"Coba lihat ini" teriak Devina, seakan permainan sulap saja di tangannya sudah ada tongkat seukuran sehasta orang dewasa. Tongkat yang bersinar sangat menyilaukan, dari ujung tongkat memancar sinar bagai lampu sorot yang lebih terang lagi.


Seketika teranglah ruangan tempat mereka berdiri, ruangan yang sangat luas penuh dengan tumpukan peti peti, hanya ada lorong selebar satu meter di tengahnya. Di atas peti peti kedua sisi lorong terlihat kilauan emas permata saat terkena cahaya dari tongkat Devina.

__ADS_1


"Tempat ini sepertinya penyimpanan perbendaharaan kerajaan" guman putri Hena.


__ADS_2