Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 104


__ADS_3

Melalui proses yang rumit dan melelahkan akhirnya Albara sampai juga di Ibu Kota provinsi. Kegembiraan akan bertemu keluarga dan Mulan kekasihnya sirna saat perlakuan petugas bandara mengisolasi Akbara selama 24 jam. Keesokan harinya mereka kembali ke bandara untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Tapus. Saat mereka menungggu taksi di pinggir jalan dekat lampu merah seseorang hampir saja menabrak Albara.


"Lari lari" teriak seorang anak funk.


Terlihat anak fung berlarian hampir saja menabrak Albara dan prof Lee Shu Wan.


"Apa yang terjadi?" tanya prof Lee Shu Wan kaget.


"Satuan Polisi Pamong Praja lagi menggelar razia terhadap Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial" jawab seorang yang kebetulan berpapasan dengan mereka.


Sebanyak 40 petugas Satpol PP bersama 10 petugas Suku Dinas Sosial diterjunkan terlihat di sepanjang jalan dekat mereka. Terlihat sarana prasarana yang diterjunkan ada 3 Unit Mobil Komando, 4 Unit Mobil Patroli, 1 Truk Terbuka, 1 Truk Tertutup, 2 Truk Tertutup Dinsos, dan 3 patroli motor.


Terlihat beberapa Satpol PP berlarian mengejar, menghadang dan menangkap beberapa anak funk yang sedang beroperasi di lampu merah. Kasie Penyidik Pengawai Negeri Sipil Satpol PP memimpin langsung razia yang di gelar pagi hari ini. Kegiatan razia yang menjadi tontonan warga ini menyebabkan kemacetan serius. Sebanyak 30 orang gelandangan dan 19 anak funk akhirnya terjaring razia.


"Kak bantu saya kak" seorang anak laki laki berusia dua belas tahun berlindung di belakang Albara.


Seorang Satpol PP menghampiri anak lelaki dekil yang berlindung di belakang Albara, secara spontan anak lelaki tersebut bergelantungan di tangan Albara. Satpol PP berusaha menarik anak lelaki tersebut dan berusaha melepaskan gegamannya dari tubuh Albara. Anak laki laki tersebut merasa ketakutan dan menangis putus asa.


"Kak jangan biarkan mereka membawa saya" anak lelaki tersebut memelas.


Albara merasa kasian memandang anak laki laki tersebut, dia ingat penampilan nya saat kesusahan dulu dekil tak ubahnya seperti penampilan anak lelaki tersebut. Naluri kemanusian Albara mendorongnya untuk menyelamatkan anak lelaki tersebut.


"Pak Satpol PP biarkan anak ini bersama saya, dia family saya yang baru di temukan" ucap Albara memohon pada Satpol PP yang berusaha menyeretnya.


Sat pol PP memandang Albara beberapa saat, seakan tidak percaya dengan ucapan Albara.


"Baiklah, dengan syarat jangan biarkan anak ini berkeliaran sebagai pengemis atau gelandangan lagi" ucap Salpol PP mengalah.


"Siap pak, instruksi bapak akan saya laksanakan" kata Albara.


"Terima kasih kakak" ucap anak tersebut setelah Satpol PP meninggalkan mereka.


"Tunggu dulu" kata Albara saat anak laki laki tersebut akan pergi.


"Siapa namamu?" tanya Albara.


"Budiman kak" jawabnya

__ADS_1


"Kamu pulangnya kemana?" tanya Albara lagi.


Budiman terlihat bingung untuk menjawab pertanyaan Albara.


"Budiman sudah tidak punya tempat tinggal kak"


"Jadi Budiman tinggal sama family gitu ya?"


"Gak kak, tadinya tinggal sama saudara perempuan saya, tapi sudah dua bulan kakak dan suaminya menghilang, hp nya tak bisa di hubungi lagi" air mata Budiman menetes membasahi pipinya.


"Kalau gitu kamu ikut kak Bara bagaimana?" tanya Albara.


"Kakak serius mau ajak Budiman ke tempat kakak?" tanya Budiman tidak yakin.


"Iya" ucap Albara


"Terima kasih kak, Budiman sudah capek kejar kejaran dengan petugas" ucap Budiman setuju.


Mereka menuju bandara kembali suhu tubuh dan kesehatan mereka di cek dan yang dinyatakan sehat dan aman dari corona termasuk Albara, prof Lee Shu Wan di kirim ke kota tujuan dengan di sertai surat keterangan sebagai ODP.


****


Kerinduan Albara ingin bertemu Mulan pacarnya kandas setelah dia mencoba menghubungi Mulan, namun selalu handphone nya tidak aktif. Kembali Albara harus bersabar hingga masa isolasi selesai. Kerinduan Albara terhadap Mulan kekasihnya terobati dengan kehadiran perawat Rumah Sakit setiap hari untuk mengukur suhu tubuh Albara dan Budiman. Pada Hari ke tujuh suhu tubuh Albara berada di zona kuning 37 derajat celsius.


"Suhu tubuh Kakak mencapai 37 derajat, perlu di lakukan rapit tes, untuk memastikan kaksk tertular corona atau tidak" Perawat segera melakukan rapid tes hasilnya positif ada virus di tubuh Albara.


"Lihat kak...ada dua garis merah di sini" perawat menunjukkan hasil rapid tes Albara.


"Artinya kakak positif tertular kopid dan Kakak akan di pindahkan kerumah kasian para pasien di sini" ucap perawat selanjutnya.


Hari itu pemulangan Albara dan Budiman kerumahnya pun segera di lakukan oleh petugas rumah sakit. Dirumahnya kembali Albara di larang keluar rumah oleh petugas.


"Kakak jangan keluar rumah dulu, jika ada keperluan hubungi petugas yang bertanggung jawab untuk wilayah kelurahan Koto Tapus" kata petugas memberikan nomor kontak petugas di maksud.


Semenjak hari itu Albara termasuk daptar lis terpapar kopid di Kota Tapus yang di posting di media sosial. Semua orang mulai menjauh dari Albara dan mengatakan kapid jangan dekat, tiap kali mereka melihat Albara.


Albara merasakan rindu yang tak tertahankan untuk bertemu Mulan, dengan motor bututnya dia nekat pergi kerumah sekda Kota Tapus.

__ADS_1


Satpol PP yang berjaga di pos penjagaan tidak mencegat Albara, Albara nyelonong ke ruang tamu dan meminta seorang pelayan menghubungi Mulan.


"Eh Bara kenapa kamu kesini" ucap Mulan ketus saat berada di ruang tamu.


"Satpam Usir dia, Saya tak sudi bersuamikan penderita kovid" terak Mulan memanggil Satpol PP.


"Mulai saat ini kita tak ada hubungan lagi, kita putus" bentak Mulan.


Muka Albara berubah menjadi merah hitam menahan malu dan marah diperlakukan mulan seperti itu, kegembiraanya saat lihat Mulan musnah berganti pilu saat mulan memutuskan hubungannya di depan ramainya tamu di rumah sekda Kota Tapus.


"Hai Albara pergi dari sini, haram hukumnya membahayakan orang bayak tau" kata seseorang yang kebetulan ada di ruang tamu.


"Bang Andree antar Mulan keluar, Mulan takut tertular kopid" teriak Mulan memanggil Andree Lee.


Andree Lee melingkarkan tangannya di bahu Mulan, di balas Mulan dengan melingkarkan tangannya di pinggang Andree Lee dengan mesra.


"Ayo kekasih ku mau kemana?" tanya Andree Lee pada Mulan.


"Kemana saja bang yang penting enyah dari penderita kopid" lalu mereka meninggalkan rumah Sekda Kota Tapus.


"Kasian kamu Bara sudah pacar di rebut orang sekarang kena kopid lagi" kata salah seorang yang hadir di rumah sekda.


Albara hanya menunduk lalu berlalu dengan perasaan malu, dia berjalan meninggalkan ruang tamu sekda tanpa berani menatap orang orang di sana.


****


Dua hari berikutnya datang utusan pemerintah ke rumah Sultan Murod kakek Albara, meminta kakeknya supaya Albara di pindahkan kekebun yang jauh dari permukiman demi keselamatan penduduk kota tapus.


"Lebih baik Albara pergi dari pada kita mati banyak" ucap utusan pemerintah.


"Pergilah nak kalau kau sayang keluarga" kata salah seorang paman Albara yang menyertai utusan pemerintah.


Tidak tahan dengan perlakuan masyarakat Kota Tapus bahkan pacar yang Albara harapkan ikut memutuskan hubungannya, masih terngiang kata Mulan dua hari yang lewat "saya tidak sudi punya suami penderita kapid".


"Baiklah aku akan pergi dari kalian, biarlah kematianku sendiri hanya diratapi lalat ijo" rajuk Albara berurai air mata.


Sahabat dan keluarga dekat yang Albara hubungi semua menolak Albara untuk di kunjungi. Akhirnya Albara kepikiran melarikan diri ke Alamat prof Lee Shu Wan dia ingat kalau seseorang akan menjual kebunnya di sana. "jika kebunnya saya beli saya bisa tinggal di sana bersama Budiman" pikir Albara.

__ADS_1


__ADS_2