Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 193


__ADS_3

"Albara ..... nama saya Albara" ucap Albara.


"Mundurlah kalian semua!"


Semua mereka merangkapkan kedua tangan memneri hormat pada komandan mereka dan mundur ke kanan kiri, memberi jalan orang yang meneriakkan perintah itu.


Tampak oleh Albara dua orang pria berjalan dengan dada membusung, ada pun di belakang kedua orang ini tampak empat orang berpakaian militer mengikutinya.


Sang komandan memakai pakaian kebesaran militer, dengan lambang dan pangkat bersulam benang emas, kepalanya memakai topi yang indah tapi tidak mengurangi bentuk wajahnya yang tampak angker.


Pria ysng yang satunya berpakaian indah dan juga tersulam benang emas, mengenakan jubah panjang berwarna hitam dengan tudung kepala yang lebar. Wajahnya juga terpelihara seperti wajah seorang pria muda yang sangat tampan, dan di tangannya memegang tongkat sihir dengan ukiran naga yang sangat indah.


Kedua pria ini memandang Albara dengan sinar mata penuh selidik. Ada pun sikap prajurit lainnya masih biasa saja, namun mereka terlihat siap melaksanakan perintah komandannnya.


"Albara, kiranya engkau yang datang.... ha ha ha kebetulan sekali ini dia yang di ramalkan akan menyelamatkan putri Hena" berkata pria berjubah dengan suara halus.


"Sekalipun saya tak percaya kalau engkau mampu menyelamatkan putri Hena dari kutukan tuan muda prnyihir hitam, tapi kami harus melenyapkanmu supaya apa yang di yakini penduduk negri bunian adalah hoax belaka" ucap sang komandan.


Albara menjawab dengan hormat, "Sekalipun saya tak mampu meleyapkan segala sihir dan kutukan namun saya akan tetap berusaha untuk menyelamatkannya, sudah merupakan kewajiban untuk menolong orang yang teraniaya"


"Albara, engkau hanyalah anak manusia yang hanya berguna sebagai pelayan di negeri Bunian. Tuan ini adalah tuan muda penyihir hitam, sepatutnya engkau memberi hormat, kemudian secara sukarela melayaninya," kata sang komandan.

__ADS_1


Secara diam-diam Albara sudah dapat membedakan watak kedua orang ini. Pria berjubah memperlihatkan sikap halus lembut, sikap yang sepatutnya dimiliki seorang bangsawan. Namun sikap Sang komamdan membayangkan kekerasan dan suka membanggakan kekuasaan.


"Tidak apa-apa, memang orang muda kurang pengalaman dan kurang pengertian tentang tata cara dunia Bunian. Sebelumnya saya mau bertanya, ada keperluan apakah engkau muncul di Negri Bunian?" Apakah engkau datang untuk menghambakan diri pada penguasa Bunian? Kalau itu tujuanmu ikutlah dengan kami maka kami akan memperlakukanmu sebaik mungkin. Jika tidak jangan salahkan kami, jika mengutukmu menjadi kuda penarik kereta" suara Pria berjubah tetap halus dan sikapnya tenang sekali namun ucapannya sangat merendahkan Albara.


"Tidak sama sekali justru, aku datang hendak menghadap jendral Kahlien untuk mencari tau cara membebaskan kutukan Raja Jayendra pengusaha Bunian" ucap Albara


Bicara Albara jelas membayangkan bahwa dia menempatkan Raja Jayendra di tingkat yang lebih tinggi dari pada kedudukan tuan muda penyihir hitam, hal ini dirasakan oleh semua prajurit dan mereka semua memandang dengan hati tegang.


"Akbara saya ingatkan lebih baik urungkan niatmu! Jika Engkau tetap lancang hendak mencampuri urusan dalam Dalam Kerajaan Bunian, maka kamu musti tau belum ada manusia yang selamat dari kutukan hantu blau” kembali pria berjubah hitam mengingatkan.


Saat itu Devina, putri Hena, Anggiliana dan Anggiriana sudah ikut berhamburan meloncat keluar kuil berdiri di belakang Albara.


"Cik cik cik, Albara mantra apa yang kau gunakan hingga bisa membawa empat wanita seksligus, engkau telah menjadi sahabat Putri Hena pula. cik cik cik Dia manis sekali, bukan? Pasti engkau sangat suka saat mencium tahi lalat merah di lehernya Ha-ha-ha!" pria berjubah hitam mperhatikan putri Hena dan Devina.


"Binatang kurang ajar!" putri Hena sangat emosi lalu mengeluarkan tongkat sihirnya.


Dia lupa kakau dalam kemarahannya maka dia gampang terkena kutukan. Justru inilah yang di inginkan pria berjubah hitam melihat putri Hena emosi dan mengeluarkan tongkat sihirnya.


"Sim sa la bim" sinar putih menyilaukan keluar dari tongkat sihir putri Hena Melesat menuju pria berjubah hitam.


"Sim sa la bim hantu blau" dari tongkat pria berjubah hitam juga melesat sinar biru menyambut sinar putih.

__ADS_1


"Dess" dua sinar saling lilit, tak lama sinar biru pelan pelan mulai mendesak sinar putih sedikit demi sedikit sinar biru mendekati tongkat sihir putri Hena.


Sim sa la bin.. sim sa la bim" Serempak Anggiliana dan Anggiriana melepaskan sihirnya, terlihat dua ekor naga terbang di udara menyambar kearah prajurit prajurit yang menyertai pria berjubah hitam dari mulutnya mengeluarkan api yang sangat panas.


"Ahhhhh" enam prajurit terdekat gosong terkena api yang keluar dari mulut sang naga.


"Serbuuuu" sang komandan memberi komando, terdengar bunyi gemuruh saat ratusan prajurit mencoba meringsek maju tapi di halangi naga yang di lepaskan Anggiliana dan Anggiriana.


"Sim sa la bim" ucap pria berjubah hitam setelah baca mantra, saat itu terdengar gemuruh yang lebih dahsyat saat ratusan monster ciptaan sihir pria berjubah hitam mrnyerbu dua Naga ciptaan Anggiliana dan Anggiriana.


Sementara itu komandan yang mendampingi pria berjubah hitam membuat gerakan dengan kedua kakinya, memutar tubuh dan kedua lengan kemudian secara tiba-tiba sekali tangan kanannya sudah melontarkan pedangnya yang meluncur seperti anak panah, lebih cepat lagi malah, menuju ke perut Albara. Pedang itu berubah menjadi sinar terang saking cepatnya, dan mengeluarkan suara berdesing.


Cepat Albara melompat ke samping sambil tangannya menyambar pedang itu dengan kedua jari telunjuk dan jari tengah, mengepitnya, kemudian meloncat turun kembali. Sang komandan merasa terkejut lantas melongo.


Yang diperlihatkan Albara dalam menyambut pedang yang disambitkan tadi adalah jurus rajawali menerobos awan, jurus yang khusus dalam ilmu silat Hindia untuk menghadapi serangan yang khusus pula.


Jurus silat di dunia manusia dan dunia Binian tidak berbeda jauh bahkan mungkin bersumber dari dasar yang sama sehingga Albara bisa nengenali jurus yang di pakai sang komandan.


"Hemm, betapa kejam dan ganas serangan melontar pedang membunuh elang mu, tapi ini masih jauh dari pada sempurna. jurus ini barulah tepat kalau pencurahan perhatian memusat hanya pada satu titik, akan tetapi pikiranmu telah banyak bercabang, di antaranya bercabang pada kedudukan, pada kemewahan. Kau lihatlah baik-baik dan baru tahu bahwa sesungguhnya jurus komandan tadi amatlah lihainya" lalu Albara melakukan gerakan yang sama.


Pedang di tangan Albara segera meluncur bagaikan kilat menyambar, tanpa mengeluarkan bunyi, akan tetapi justru tak berbunyi inilah yang amat lihai. Dapat menyambitkan pedang sedemikian cepatnya tanpa pedang itu mengeluarkan bunyi, benar-benar merupakan kemahiran dan tingkat yang terlalu tinggi bagi para murid prajurit bahkan bagi sang komandan sendiri..

__ADS_1


__ADS_2