Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 169


__ADS_3

Albara dan Devina kembali memutuskan untuk tidak menggunakan kendaraan menuju Desa Koto Rawang, mengandalkan ilmu peringan tubuhnya mereka memilih perjalanan melalui hutan berkelebat di sela lebatnya pepohonan, terkadang melompati jurang, terkadang bagai terbang berloncatan dari pohon ke pohon.


Semakin lama mereka semakin memasuki hutan lebat yang perawan di kedalaman hutan TNKS, jauh meninggalkan desa desa di pinggir Kota Tapus. Hutan yang sunyi tapi banyak menyimpan misteri, dari zaman dahulu kala hutan ini di kenal angker. Bahaya selalu mengancam siapa saja yang memasukinya, ancaman binatang buas, tersesat tak tau jalan pulang juga bahaya lainnya yang bersifat mistis.


Devina memperlambat larinya lalu memberi isyarat pada Albara untuk diam.


"Sssssst" Devina menghadap Albara sambil meletakan jari telunjuk di bibirnya.


"Kenapa dev?" tanya Albara.


"Devina seperti merasa ada yang mengikuti kita ..kak " ucap Devina.


"Sebaiknya kita hati hati Dev, hutan ini menurut penduduk memang angker, makanya jarang sekali masyarakat yang mau memasuki hutan ini" kata Albara.


"Begitu kah?" tanya Devina.


"Iya .. Kak Bara yakin setelah mendengar pengalaman Riki dan Katerin, mereka tersesat ke dunia Bunian, bahkan menurut kak Riki dia juga pernah bertemu siluman manusia harimau" ucap Albara.


"Hmmmm" Devina mendehem wajahnya berubah memerah dengan pandangan mata yang tajam memandang Albara.


Albara tersentak menyadari telah keceplosan lalu mengalihkan pembicaraan, Namun Albara belum menyadari kalau Devina adalah salah satu dari mereka.


"Kamu benar Dev.. sepertinya ada yang mengikuti kuta" kata Albara menghentikan lengkahnya.


"Ser ser ser ser" terdengar bunyi langkah berat menginjak daun daun kering di bawah hutan.


Tak lama kemudian seekor harimau sangat besar sudah berdiri di depan Devina, matanya menatap Devina dengan gairah lalu diam bersimpuh di depan Devina. Albara sudah memasang kuda kuda siap membantu jika harimau tersebut menyerang Devina.


Devina hanya memperhatikan harimau yang bersimpuh di depannya beberapa saat, lalu melakukan gerakan seperti mengusir.


"Hus... pergi" bentak Devina.

__ADS_1


Harimau tersebut melompat pelan menjauh lalu kembali diam mandang Devina lagi.


"Hati hati Dev ... sebaiknya kita lewat atas" ucap Albara menunjuk keatas pohon.


"Aooo... aoooo... grrrrrrr" harimau mengerang seperti baru menyadari keberadaan Albara, matanya yang tadi sayu tiba tiba menjadi galak, tempramennya yang tadi jinak tiba tiba menjadi buas.


Dengan gerakan yang gesit harimau tersebut telah melompat menerkam kearah Albara, untung Albara sudah siaga dari tadi dengan sekali enjotan tubuhnya melesat kecabang pohon terdekat.


"Dev ... sini naik ke atas" teriak Albara.


"Haiiiit" Devina menyentakkan kakinya dan seketika tubuhnya melayang ringan dan telah berada di cabang pohon yang lain.


Sang harimau mendekati pohon di mana Devina berada lalu dengan cakarnya berusaha memanjat tapi pada ketinggian tiga meter tubuhnya kembali terperosot ke bawah. Setelah beberapa kali mencoba tak berhasil harimau tersebut lalu memilih duduk di bawah pohon, matannya selalu menatap Devina seakan akan menunggu tuannya turun menyapanya.


Devina berlompatan dari pohon ke pohon lalu memilih duduk di puncak pohon tertinggi, Namun anehnya harimau tersebut juga mengikutinya lalu duduk di bawah pohon di mana Devina berada.


"Kak Bara sini" Ucap Devina.


"Kak Bara" ucap Devina.


"Ya... " ucap Albara.


"Seeeeer" darah di dada Albara berdeser hebat saat aroma tubuh Devina terbawa angin dan tercium oleh Albara, Aroma tubuh Devina telah membangkitkan sebuah perasaan aneh pada Albara, membangkitkan gairah albara dimana Devina sangat cantik dan menggairahkan di pandangan Albara. Demikian juga dengan Devina pandang matanya seperti berubah seperti seseorang yang sedang membutuhkan belaian seseorang.


"Jangan lihat Devina kak, coba lihat di bawah kita" kata Devina.


Albara mengalihkan pandangannya ke bawah pohon, alangkah kagetnya Albara saat menyaksikan di bawah mereka ada bayak sekali harimau yang sedang bersiap saling terkam.


Devina mengeluarkan sebutir obat lalu minumnya.


"Kakak tunggu di sini sampai Devina kembali" kata Devina melompat dari pohon ke pohon menjauh dari Albara.

__ADS_1


Sekelompok harimau di bawah mereka juga bergerak mengikuti arah kepergian devina, sambil saling terkam saling banting berlarian menerkam, mencakar harimau terdekat, tak ubahnya seperti segerombolan kucing jantan memperebutkan kucing betina saat musim kawin.


Hutan kembali gaduh oleh erangan, auman beberapa harimau jantan yang saling terkam. Sekumpulan harimau jantan saling banting tak jauh dari pohon di mana Albara duduk. Albara malah makin keassyikan nonton pertempuran sekelompok harimau jantan yang bertenpur dengan seru, daun daun berterbangan disertai bulu bulu harimau yang terlepas dari kulitnya karena cakaran maupun gigitan lawan.


Saking asyiknya Albara hampir tidak menyadari kalau Devina sudah kembali.


"Maaf kak ... kalau Devina membuat kak Bara kurang nyaman" ucap Devina telah duduk di cabang pohon di sping Albara.


"Iya dev... lagian kamu kenapa dandan kayak gini?" tanya Albara saat melihat tubuh Devina seperti di baluri pelembab berwarna kuning kunyit.


"Hee Hehehe... biar kak bara tidak tergoda" ucap Devina malu.


"Alah geeran" ucap Albara, tapi di hatinya tidak nenyangkal apa yang di katakan Devina, tadi saat mencium aroma tubuh Devina dia merasakan, tubuhnya nengalami rangsangan hebat jika lama lama bersama Devina bisa jadi dia akan tergoda.


"Kak ... Devina tu lagi datang bulan, Kami bangsa Marjud dari kecil sudah di susupi gen harimau, mangkanya saat datang bulan tubuh kami mengeluarkan semacam hormon yang merangsang lawan jenis. Itulah yang membuat harimau di bawah seperti ngantree mendekati Devina" ucap Devina.


Albara kembali menatap Devina, berusaha menggodanya


"Emang Devina tidak tergoda dengan ketampanan mereka?" tanya Albara menunjukkan sekumpulan harimau jantan di bawah mereka.


Devina terdiam mukanya memerah.


"Sekalipun Devina sedang dalam ujud harimau tapi pikiran dan jiwa Devina bukanlah pikiran dan jiwa harimau kak. Seperti manusia kami juga mengenal kesetiaan, kami juga punya cinta pada laki laki, cinta yang tak bisa di bagi bagi" ucap Devina agak tersinggung.


"Maaf jika kakak salah, kakak cuma bercanda" ucap Albara setelah melihat perubahan wajah Devina.


Saat tersinggung dan marah membuat emosi Devina tidak stabil kadang secara spontan gen harimau di tubuhnya bangkit. Itulah yang terjadi saat Albara menggodanya, Bagi Albara mungkin seperti gurawan tapi bagi Devina yang di katakan Albara sagat sensitif menyinggung perasaannya.


Emang bagi dirinya sama saja di katakan sebagai pelacur atau sejenisnya, kemarahannya makin memuncak saat membayangkan dirinya dalam keadaan birahi sedang berujud harimau lalu harimau harimau jantan di bawahnya secara bergiliran menggaulinya.


Setelah membayangkan hal tersebut devina begindik malu dan jijik, tiba tiba tubuhnya mengeluarkan cakar cakar yang runcing, dan dari mulutnya kuar taring taring tajam lalu pandangan matanya Devina memandang Albara dengan sangat tajam.

__ADS_1


__ADS_2