
Riki terus berlari dengan senter di tangan kiri yang terus menyala, di tangan kanan tergenggam parang terhunus siap dengan segala kemungkinan. Setelah berlari hingga lima puluh meter Riki sudah bisa melihat harimau yang dia cari.
"Bertahanlah Ardi.... aku datang" Riki mulai mencari peluang untuk membacok harimau besar yang terus berlari membawa korbannya.
"Crassss" dalam satu kesempatan Riki berhasil mbacok paha si harimau.
"Grrrrrrrr" merasa kesakitan harimau megerang melepaskan mangsanya, dan berbalik kearah Riki.
Merasa terlepas dari gigitan harimau, si mangsa meloncat balik menerkam harimau yang sedang mengincar Riki.
"Rasakan ini.. hadapi aku Aditya.. akulah lawanmu!" teriak laki laki yang tadi hampir jadi mangsa si harimau.
Riki kaget luar biasa saat melihat si korban bangkit dengan gesit menerjang harimau. Aditya itulah namanya lelaki dengan kostum cukup aneh, memakai pakaian serba putih seperti terbuat dari bahan kulit, terlihat berkilau dibawah sinar senter.
"Bukan Ardi.. Siapa Anda? tanya Riki pada lelaki berperawakan sedang yang sedang bergulat dengan harimau.
"Saya Aditya" jawab laki laki tersebut singkat, sebelum terlibat pertarungan seru dengan harimau.
"craaas craas craaaas" terdengar nyaring suara cakaran harimau bertemu tubuh Aditya.
Anehnya cakaran si harimau seperti tidak berpengaruh apa apa, pakaian Aditya tidak robek sedikitpun. Sebaliknya Aditya dengan gesit memberi pukulan kearah kepala si harimau.
"Auuuuum" harimau mengaum dengan ganas saat sebuah taringnya patah kena pukulan Aditya.
Auman harimau di respon Aditya dengan menerkam, harimau mengelak kaki depannya membalas dengan cakaran ke arah Aditya. Mereka saling terkam bergulat saling banting, bergumulan hingga seratus meter memporak perandakan hutan yang mereka lalui. Riki terus Mengikuti Aditya berusaha memberi bantuan, tapi tidak ada kesempatan gerakan mereka lebih cepat dab gesit dari Riki. Akhirnya Aditya terjatuh ke sebuah anak sungai di ikuti harimau yang menerkamnya.
Riki berhenti mengejar dua berdiri di bibir tebing setingggi 3 meter di pinggir sungai, mengarahkan senternya ke arah harimau yang betgumul dengan Aditiya. Pertempuran makin hebat Riki hanya melihat sinar putih dan kuning berputar di barengi suara erangan harimau membuat binatang malam di sekitarnya diam membisu. Air sungai menercik ke segala arah berpusingan hanya sekejap air sungai sudah berubah warna menjadi putih kecoklatan.
"Manusia jadi jadian guman Riki" saat melihat pertarungan berhenti sejenak.
Riki melihat bukan Aditya yang berhadapan dengan harimau, tapi seekor harimau berwarna agak terang loreng putih berhadapan dengan harimau loreng coklat. Aditya telah berubah ujud menjadi harimau putih yang besar, tak kalah besarnya dengan harimau yang menyerangnya.
__ADS_1
"Aoooo, Oooooo grrrrr" kedua harimau saling mengerang, saling cakar kemudian saling terkam, Air sungai seperti di obok obok percikannya hingga membasahi muka Riki di atas tebing.
"Ya allah, ya allah, ya allah" Riki mengusap mukanya yang basah.
Menyadari kalau yang bertarung di depannya bukan manusia, Riki segera meninggalkan tempat tersebut, kembali kekemah sambil tak henti hentinya menyebut nama Tuhan.
****
Hingga pajar menyingsing riki duduk di depan api unggun tubuhnya masih gemetaran, entah kenapa dia seperti tak tau apa yang harus di lakukan.
"Riki. kamu terlihat lelah cobalah untuk istirahat biar kami mempersiapkan sarapan pagi" Claira menyapa Riki.
Riki seperti menurut beranjak kekemah, riki membaringkan tubuhnya mencoba memejamkan matanya sekalipun tidak bisa terlelap. Katerin, Alan, Julian dan Ardi juga sudah bangun mereka terlihat segar tanpa tau apa yang terjadi tadi malam.
Suasana pegunungan yang sangat dingin membuat Ardi tidak ingin mandi, dia memilih menghangatkan tubuhnya di dekat api unggun. Tak lama kemudian Alan, Julian dan Katerin terlihat habis mandi dan ganti pakaian lalu bergabung membantu Claira menyiapkan sarapan pagi mereka.
Saat Claira sedang sibuk mempersiapkan sarapan pagi, Ardi memanaskan air untuk menyeduh kopi.
"Tidak... airnya terlalu dingin, apa kalian tidak merasa kedinginan" Ardi balik bertanya.
"Merasa juga sih, tapi tidak seberapa jika di banding dinginnya Swis, kalau di swis jangankan dalam air sungai, di dalam kamarpun terasa seperti di kulkas" kata Claira.
"Tolong tolong tolong" sayup terdengar suara seseorang dari lembah.
"Suara apa itu?" tanya Katerin.
Semua diam tak bersuara.
"Tolong tolong tolong" kembali terdengar suara seseorang minta pertolongan.
"Apa kalian mendengar seseorang?" kembali Katerin bertanya.
__ADS_1
"Ya kami mendengarnya, coba bangunkan Riki" kata Katerin.
"Saya sudah bangun... kalian tunggu di sini saya akan ke lembah sepertinya ada seseorang di lembah" kata Riki.
"Biar saya temani" kata Ardi.
"Tidak usah jika terjadi sesuatu dengan Riki, atau dalam 20 menit tidak ada kabar dari Riki, pak Ardi? pimpin tim untuk kembali" ujar Riki.
Tidak sulit bagi Riki menuju tempat dimana dua harimau bertempur tadi malam. Sekitar perjalanan lima menit Riki telah berdiri di bibir tebing pinggir anak sungai di lembah. Di lihatnya Aditya berdiri dengan lemah dengan sebuah belati di tangannya berlumuran darah, di hadapanya seekor harimau besar berkelonjotan lalu diam tak berkutik, di lehernya terlihat luka robek bekas tusukan belati, luka di lehernya terus mengucurkan darah membuat aliran sungai berwarna merah.
Kembali Riki melihat keanehan saat Aditya mengarahkan cincin di tangan kirinya bangkai harimau besar di depannya seperti berubah menjadi debu lalu tetsedot memasuki cincin Aditya. Riki agak ragu untuk menolong Aditya dia sudah tau kalau Aditya adalah manusia jadi jadian. "jangan jangan tim mereka malah habis di mangsa Aditya" pikir Riki. Tapi dilihatnya kondisi tubuh Aditya sangat lemah di kedua pipi dan dadanya yang terbuka terlihat bekas cakaran harimau dengan darah yang masih mengalir, akhirnya Riki memutuskan untuk menolong Aditya.
"Aditya ayo naiklah" ujar Riki mengulurkan seutas akar entuk tempat bergantung Aditya.
"Terima kasih" ujar Aditya lalu dengan susah payah dibantu Riki menaiki tebing.
Riki memapah aditya ketempat timnya menunggu menunggu dengan cemas. Dengan bersusah payah memapah Aditya sepuluh menit kemudian Riki sampai di tempat di mana teman temannya menunggu.
"Riki apa yang terjadi" Alan, Julian dan Ardi bersamaan lalu bangkit menyongsong Riki membantu memapah Aditya.
"Nanti aja ceritanya, Ambilkan alkohol, kapas dan kotak P3K" Pinta Riki.
Riki meminta Aditya berbaring lalu membersihkan luka luka di pipi dan dadanya dengan air hangat kuku, lalu di olesi alkohol.
"Aduuuuh" Aditya merintih kesakitan saat likanya di olesi alkohol.
Setelah luka aditya benar bersih riki menempelkan kain kasa yang di tetesi betadine lalu di lengketkan nenggunakan plaster. Alan, Julian dan Ardi ikut membantu Riki sementara Katerin dan Claira menghidangkan sarapan untuk mereka.
"Bagaimana bisa kita sarapan dulu, biar nanti dilanjutkan" kata Katerin.
Aditya di papah untuk duduk oleh Riki dan Ardi.
__ADS_1
"Aditya ayo kita sarapan dulu, habis sarapan kamu harus minum obat" kata Riki.