Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 158


__ADS_3

Mulan dan Albara memasuki ruang inap ibu Susanti, Albara merasa lega saat melihat pak Sekda dan ibu susanti baik baik saja. Infus ibu Susanti sudah di lepas bidan, pertanda ibu Susanti sudah di perbolehkan pulang.


"Nak Bara ... nak Mulan ibu sudah boleh pulang, kalian ikut ibu ya, Abang Sarli mu katanya udah pulang mungkin sedang menunggu kita di rumah" kata ibu Susanti.


Albara dan Mulan saling padang ada niat di hati Mulan untuk mengatakan apa yang di ceritakan Sarli padanya tentang kondisi di rumah dinas, tapi pada saat hampir bersamaan ajudan ibu Susanti dan ajudan pak Sekda juga memasuki ruangan,


"Pak mobil sudah siap" ucap ajudan Sekda.


Pak sekda berdiri membimbing ibu Susanti. "Iya... ayo bu kita pulang" ucap pak Sekda.


"Iya pak, Mulan bareng ibu ya!" pinta ibu susanti.


Mulan memandang Albara seolah minta persetujuan.


"Iya Mulan ... bareng ibu aja, kak bara mau menyelesaikan administrasi perawatan Budiman, habis itu kak bara Nyusul" kata Albara.


"Jangan lama ya kak" ucap Mulan kuatir saat Albara meninggalkannya menuju ruang inap Budiman.


"Jangan kuatir kakak hanya menyelesaikan administrasi doang, nanti Devina yang urus kepulangan Budiman" ucap Albara.


****


Pak Sekda ibu Susanti ajudan pak Sekda dan ajudan buk Susanti memasuki mobil kijang inova plat merah milik pak Sekda. Ajudan ibu Susanti dan ajudan pak Sekda duduk di bangku paling belakang, di tengah duduk pak Sekda dengan ibu Susanti sedangkan Mulan terakhir masuk harus di depan di samping sopir.


Setelah semua masuk sopir melajukan mobil dengan pelan keluar rumah sakit memasuki jalan raya yang agak sempit karena banyaknya mobil terparkir di kiri dan kanan jalan. Di belakang mereka terlihat mobil pajero sport milik Andree Lee terus mepet di belakangnya.


Tiba dari spion sopir melihat seseorang membidikkan senjata sejenis pistol Glock 17 yang di rancang untuk memudahkan dan ketempatan penembakan dari atas kendaraan yang sedang melaju kencang.


"Pak sekda... di belakang kita ada pajaro sport sepertinya kita sedang di ikuti seseorang yang bersenjata, tolong semua merunduk" ucap sopir.


Semua melihat ke belakang lalu spontan mereka merunduk saat seseorang terlihat mengarahkan senjata ke mobil mereka.


"Dor dor dor" tiga kali suara tembakan terdengar di belakang mereka.

__ADS_1


"Braak, braaaak" kaca mobil belakang dan depan Inova pecah di terjang peluru.


Sopir membolokkan mobil memasuki sebuah gang yang sepi di kiri jalan, namun mobil di belakang mereka tetap mengikuti Mereka. Mobil melaju makin kencang menghindari pajero sport yang terus memburu mereka.


"Bang sopir cari tempat yang lapang, di luar bahu jalan lalu berhenti" ucap Mulan.


"Dor dor dor" kembali terdengar rentetan tembakan dari belakang.


"Prank" kali ini spion samping kanan di terjang peluru.


"Syuuuuut" kembali sipir ijak gas mobil melaju dengan kencang terkadang zig zag menghindari peluru hingga suara ban juga terdengar nencicit bergesekan dengan aspal.


Tiba tiba mobil oleng saat melewati polisi tidur, lalu seperti melayang di udara lalu jatuh kembali ke jalan dengan keras.


"Ahhhhhhh" Ajudan di bangku belakang menjerit.


"Astagfirullah" ucap pak Sekda


"Siap pak.." ucap Bram masih mengemudikan mobil dengan kencang.


Sepuluh menit berlalu mobil pajero sport yang membuntuti mereka tak terlihat lagi di belakang sopir kembali memasuki gang yang sepi lalu memasuki sebuah rumah cukup megah dengan pekarangan yang luas.


"Tolong... tolong" teriak sopir keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil pak Sekda, seorag peria setengah baya keluar dari rumah membantu pak Sekda keluar dari mobil.


"Pak Sekda apa yang terjadi?... ayo masuk" tanya lelaki setengah baya sambil membimbing pak Sekda memasuki rumahnya di ikuti sopir, dan penumpang lainnya.


"Ki Jaka Baya ... kami di buru seseorang... mobil kami di tembaki orang tak di kenal" kata pak Sekda pada ki Jaka Baya lalu mengikuti ki Jaka Baya masuk tanpa curiga.


Mulan merasa ada yang kurang beres saat memasuki rumah ki Jaka Baya. Seakan kejadian yang menimpa mereka memang di giring menuju rumah ki Jaka Baya. Mulan tak sempat lagi memikirkan hal hal buruk yang mungkin menunggu di rumah ki Jaka Baya saat melihat ibu Susanti dan pak Sekda tanpa curiga mengikuti ki jaka baya memasuki ruang praktek khusus ki Jaka Baya.


"Ibu tunggu" teriak Mulan ingin mencegah tapi pak sekda dan ibu Susanti dikuti ajudan dan sopir mereka telah terlanjur masuk.


Dengan waspada Mulan pun ikut masuk ke ruang praktek khusus ki Jaka Baya. kecurigaan Mulan makin bertambah kalau ki jaka baya tidak lah memiliki niat baik terhadap mereka. saat melihat di tengah ruangan ada meja persembahan di mana berbaring seseorang.

__ADS_1


"Bram..." ucap pak Sekda lalu berpaling ke arah ki Jaka Baya.


"Plak plak..." replek sekda mengayunkan tangannya.. dua kali tamparan keras telah mendarat di wajah ki Jaka Baya.


"Terkutuk lah kau ... ki Jaka Baya ternyata kaulah yang telah mengundang mahluk mahluk terkutuk yang telah mencelakakan kami" ujar Sekda sangat marah.


Saat pak Sekda akan melepaskan tamparan berikutnya sang sopir yang tadi mengemudikan mobil telah melingkarkan tangannya di leher Sekda dengan keras. Saat yang bersamaan beberapa bayangan berkelebat tau tau putri Mulani telah melakukan hal yang sama pada pada ibu Susanti.


Mulan yang menyadari ada bayangan melesat kearah ibu Susanti berusaha menghalangi tapi beberapa bayangan lain menghadangnya.


"Braak" benturan terjadi tangan Mulan bertemu tangan Ratu Ledisya.


"Bruk" Ratu Ledisya terbanting sangat keras menghantam tembok, sebaiknya Mulan mundur hingga dua langkah tubuhnya sempoyongan karena kuda kuda nya ikut tergpur.


"Mulan .... berhenti ..... atau ibu Susanti dan pak Sekda akan menemui ajalnya" Ancam putri Mulani.


Penerangan di ruangan yang agak minim sehingga Mulan hanya melihat samar samar pemandangan di depannya di mana putri Mulani dengan pisau terhunus siap menggorok leher ibu Susanti. Mulan menghentikan lengkapnya mulai berpikir mencari cara menolong Ayah dan bundanya.


"Andree musnahkan mayat Bram" ujar putri Mulani.


Andree Lee masuk membawa sebuah botol sebesar botol obat/Sirup obat, lalu membuka mulut mayat Bram sopir pak sekda yang terbaring di di meja persembahan. Seketika terlihat tubuh bram mengeluarkan asap lalu menyusut di barengi bau daging terbakar, lalu berubah menjadi mumi kering.


"Ha ha Hahaha" putri Melani tertawa.


"Mulan... ingat jika kau melawan, ibu Susanti dan pak sekda akan mengalami nasip seperti Bram" ucap putri Mulani dengan nada mengancan.


"Nak Mulan keluarlah nak, jangan pikirkan ibumu" rintih ibu Susanti.


"Putri Mulani, Andree Lee... terkutuklah kalian" bentak Mulan sangat marah.


"Mulani .... Lepaskan ibu dan ayah Mulan lalu pergilah, kembali ke dunia kalian atau aku kan membasmi kalian" ucap Mulan.


"He Hehehe... Mulan masih berani berlagak di hadapan ku, kau pikir aku main main" bentak Mulani tangannya bergerak lalu belati di tangannya telah menggores tipis leher ibu Susanti sehingga darah menetes dari lehernya.

__ADS_1


__ADS_2