Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 165


__ADS_3

Melihat keadaan mayat yang masih baru tapi terlihat sudah mengering, Albara makin ragu dan menduga kalau mayat tersebut sudah berhari hari tergeletak di sana.


"Sepertinya mayat ini sudah lama... Dev" ucap Albara pada devina.


Devina justru memastikan kalau mayat tersebut masih baru.


"Gak kak...paling lama kejadian di sini baru dua hari yang lalu. masalahnya Devina menguntit ratu Ledisya kesini tiga hari yang lalu saat itu belum ada mayat dan bekas pertempuran di sini" ucap Devina pasti.


Albara jadi heran dan bingung antara percaya dan tidak dengan ucapan Devina, saat Albara mengarahkan senter ke tengah ruangan, kembali mereka di kagetkan dengan pemandangan sebuah mayat yang sudah mengering, keadaan mayat ini lebih parah lagi kondisinya sudah persis seperti mumi tapi dengan pakaian yang masih terkesan baru.


"Ini ada satu lagi .. kalau dari bentuk wajah dan nama di seragam pakaian yang di kenakan mayat ini sepertinya sopir pak Sekda" ucap Albara.


"Kalau ini mayat sopir pak sekda maka mayat yang kecil dengan muka gosong pasti mayat salah satu Tiraw, tapi bukan mayat ratu Ledisya" timpal devina.


Devina pun hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya, segera di gunakan kemampuan penglihatan malamnya lalu memeriksa seluruh ruangan.


"Kita mesti buru buru kak, sepertinya di sini memang sudah terjadi pertempuran hebat, pasti meteka menggunakan racun yang sangat ganas hingga kondisi mayat mereka lebih mirip seperti terbakar sedangkan pakaian mereka tidak memperlihatkan gejala terbakar" ucap Devina.


Hati Albara sedikit lega kalau mayat tersebut bukan mayat istri atau mertuanya. Namun kecemasan Albara terhadap Mulan semakin menjadi, saat dia membayangkan bagaimana jika Mulan yang terkena racun ganas tersebut.


"Aku tidak akan memaafkan mereka jika terjadi hal buruk dengan Mulan" kata Albara.


"Ayo kita kejar mereka" ucap Devina mengajak Albara memasuki lorong goa di belakang Almari yang menempel ke tembok ruangan.


Albara menyusul Devina yang telah memasuki goa, mereka menelusuri goa yang sempit bahkan orang dewasa tidak akan leluasa bergerak. Tak lama kemudian mereka sampai di ujung lorong sempit, lalu mulai memasuki lorong yang kebih luas, sebuah lorong yang sudah di bangun menggunakan arsitektur tinggi.


"Lorong ini di bangun seperti lorong jalur kereta api setidaknya di rancang untuk bisa di lalui kendaraan. Mungkin di buat oleh Belanda atau Jepang" kata Albara keheranan.

__ADS_1


Devina yang berjalan di depan ikut memperhatikan struktur bangunan lorong juga berkomentar.


"Seperti nya kak Bara keliru, coba perhatian pasir dan material ini masih baru" ucap Devina menunjukan onggokan pasir di depan mereka.


Terlihat juga beberapa jejak sebesar telapak kaki anak anak di sekitar gundukan pasir kelihatannya juga masih baru.


"O jadi mereka bangsa Tiraw juga memiliki teknologi" ucap Albara heran.


Mereka terus mengikuti jejak jejak yang terlihat di pasir yang bertebaran di lantai lorong.


"Di dunia kami sudah bukan rahasia, kalau semenjak tahun dua ribu yang lalu bangsa Jarjud dan bangsa Marjud membocorkan berbagai teknologi canggih pada bangsa manusia dan bangsa Dwarfa" ucap Devina.


"Bangsa kami telah menguasai ilmu teknologi semenjak ribuan tahun silam. Makanya bangsa kami di sebut Marjud artinya bangsa yang berkenderaan. yang di ambil dari dua suku kata Mark yang artinya penunggang kuda dan Jud berarti bangsa, Kata marjud juga di kenal sebagai bangsa penunggang kuda" kata Devina.


"Masa iya dev...? tanya Abara.


"Wah wah wah.. begitu ya" Albara berdecak kagum.


"Apa yang devina katakan itu benar kak.. semua kendaraan yang ada di bumi semua sudah kami kenal ribuan tahun silam, setelah teknologi tersebut menjadi kuno maka teknologi tersebut di bocorkan pada manusia bumi melalui Lord of cip Man dan bangsa Tiraw melalui penguasa kerajaan Dwarfa (Tiraw)" ucap Devina.


"Lalu kenapa kalian membocorkan teknologi tersebut pada kami?" tanya Albara.


"Supaya kalian mempertuhankan materi, dan melupakan tuhan Yang Maha Esa, tujuan akhir dari bangsa kami adalah mengalahkan Tuhan semesta alam dan menguasai semua mahluk yang ada di bumi dan langit" ucap Devina.


"Bangsa kami sebagian besar bukan penyembah tuhan tapi mereka percaya Tuhan menguasai alam semesta, mereka percaya jika semua mahluk tidak lagi menyembah tuhan maka otomatis tuhan kehilangan kekuasaannya dan akhirnya turun tahta, saat itu mereka akan memaksa seluruh mahluk memilih salah seorang bangsa kami atau seseorang yang di ajukan dan direkomendasikan oleh bangsa kami untuk di jadikan Tuhan" ucap devina.


"Bangsa kami juga tidak pengen hancur untuk kedua kalinya, setelah pengalaman meteka di hancurkan oleh seseorang yang di yakini sebagai utusan Tuhan yang maha esa" devina terus bercerita.

__ADS_1


Albara memperlambat jalannya menatap sesuatu di lantai goa.


"Dev lihat ini ada jejak yang lebih besar" ucap Albara terus mengikuti beberapa jejak seukuran kaki orang dewasa.


"Mungkin salah satu dari jejak ini adalah jejak Mulan istri kak Bara" ucap Devina.


Mereka terus mengikuti jejak yang membekas jelas di lantai goa, lama lama salah satu jejak terlihat terseret seret, lalu merangkak dan tak jauh dari situ terlihat seperti jejak yang sudah merangkak menyeret tubuhnya, kemudian terlihat bekas seseorang duduk dalam waktu cukup lama.


"Kak Bara mencium aroma tubuh Mulan disini" ucap Albara memperhatikan bekas seseorang sedang duduk bersender ke dinding goa.


"Sepertinya Mulan sedang terluka" ucap Albara memperhatikan ada bekas darah juga di lantai dan dinding goa.


"Akan ku basmi kalian yang telah melukai istriku" ucap Albara sangat marah.


Albara sangat emosi membuat seluruh tubuh nya terlihat bersinar kebiruan dari jari jari tangannya seperti keluar Percikan arus listrik tegangan tinggi. Seumur hidupnya sering dia menerima cacian dan hinaan, namun tidak lah membuatnya emosi tapi saat membayangkan Mulan di siksa emosinya sudah naik hingga ke ubun ubunnya.


Devina sudah banyak melihat bahkan bertarung dengan orang orang sakti di alam kristal tidaklah membuatnya ciut, tapi saat melihat kemarahan Albara tubuhnya menjadi merinding.


"Ayo kita ikuti jejak mereka kak, Devina yakin istri kak Bara masih selamat" ucap Devina menghibur.


Albara mengikuti ajakan Devina dengan kemarahan yang masih membara.


"Putri Mulani ... jangan salahkan jika aku bertindak kejam" jerit Albara.


Mereka terus mengikuti jejak di lantai goa tiba tiba jejak yang di ikuti jejak kaki orang dewasa membelok ke kiri memasuki lorong sempit. Devina menyadari kalau lorong yang mereka lewati saat ini bukan lagi lorong yang kemarin dia lewati saat menguntit ratu Ledisya.


"Waspada kak.. sepertinya mereka memasuki goa yang tidak devina ketahui arahnya kemana" ucap Devina mengingatkan Albara.

__ADS_1


Albara berjalan ceoat menyusuri lorong goa dengan hati hati, setelah perjalanan cukup lama mereka sampai di ujung goa yang berada di tebing sebuah sungai. cukup lama mereka kebingungan tak mungkin bagi meteka menemukan jejak di atas sungai, yang aliran airnya cukup deras.


__ADS_2