
Begitu banyak kata andai untuk mengawali setiap penyesalan. Begitu kamu mulai menyesal itu sudah terlambat. Akan selalu ada penyesalan setelah kehilangan sesuatu, yang selama ini kamu sia-siakan.
Penyesalan itu datangnya selalu di akhir agar kita memiliki waktu yang lebih untuk belajar. Adanya penyesalan adalah untuk menyadarkan bahwa waktu yang telah berlalu tidak dapat diulang. Ketakutan itu sementara, penyesalan itu hanya selamanya.
Penuturan dokter membuat semua orang sedih dan marah sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Mereka tidak ada yang menyangka jika akibat dan dampaknya akan seperti ini jadinya.
"Kalau gitu saya permisi dulu Bu, karena masih banyak pasien yang harus kami tangani," ucap Pak Dokter yang berpamitan kepada ibu-ibu dan bapak-bapak yang semakin banyak yang berdatangan memenuhi ruang perawatan inap Sea.
Mereka saling bertatapan dan raut wajah mereka berbeda-beda yang tidak bisa tergambarkan. Raut wajah sedih bercampur kecewa dan marah menjadi satu bagian di dalam hati mereka
"Kalau seperti itu, Salsa Ibu minta tolong pulanglah ke rumahnya Sea untuk mengemasi beberapa barang-barangnya Sea di rumahnya dan bawalah juga beberapa berkas penting miliknya, ini kunci rumahnya Nak," tutur Bu Mirna sembari mengayunkan sebuah kunci ke tangannya Salsa.
"Baiklah kalau begitu,saya sama Sandi pamit pulang, tapi kapan kita akan berangkat Bu?" Tanyanya Salsa yang menatap ke arah sahabat sekaligus pacarnya itu.
"Insya Allah besok pagi sesudah shalat subuh saja, bagaimana dengan kalian apa setuju dengan usulku ini?" Tanyanya Bu Mirna.
Bu Mirna mengedarkan pandangannya lalu melihat satu persatu orang yang berada di dalam sana. Ia sudah memutuskan untuk secepatnya berangkat ke Ibu Kota Jakarta.
"Tapi apa sebaiknya kita menunggu kabar dan informasi dari suaminya Seana dulu, maksudnya kita hubungi nomor hpnya nak Samudera?" Tanyanya Bu Tati.
Mereka saling bertatapan satu dengan yang lainnya. Mereka tidak bisa berbicara masalah itu hingga sejenak mereka terdiam dan sibuk dengan pemikiran mereka sendiri.
"Kami sudah berusaha menghubungi nomor hpnya Abang Ocean tapi, tidak pernah aktif nomor hpnya bahkan hampir setiap saat kami mencobanya Bu Tati tapi hanya kecewa yang kami dapatkan," timpalnya Sandi.
"Kalau seperti itu, kita putuskan untuk bawa Sea langsung ke Ibu Kota tanpa menunggu informasi atau pun kedatangannya Samudera untuk melihat keadaan istrinya," sahut Pak Arman yang baru bergabung dengan mereka.
__ADS_1
"Lebih cepat lebih baik kalau menurut saya Bu, kasihan dengan Sea jika harus menunda lebih lama lagi," jawab Bu Ana.
"Iya benar sekali, apa lagi Dokter menjelaskan semuanya tadi jadi sebaiknya secepatnya kita antar Sea hingga ke Jakarta," timpal Pak Toni.
Setelah mereka meremukkan dan berunding untuk membahas persiapan mereka ke Jakarta bertepatan dengan kedatangan Pak Ardiansyah.
"Assalamualaikum," ucap salam pak Ardi selaku kepala Desa setempat.
"Waalaikum salam Pak," jawab mereka serentak lalu kembali menolehkan wajahnya ke arah Sea yang duduk diam sambil menekuk kedua lututnya dengan pandangan matanya yang kosong.
"Apa maksud dari perkataan bapak dan ibu? Kalau tidak salah kalian tadi mengatakan akan membawa Seana ke Jakarta?" Tanyanya Pak Ardiansyah yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan emak-emak dan bapak-bapak.
"Begini Pak Desa, setelah dokter memeriksa keadaan dari Nak Seana, beliau memutuskan dan menyimpulkan bahwa jalan terbaik dan satu-satunya cara untuk mengobati rasa trauma dan ketakutannya agar ingatannya bisa pulih kembali seperti sedia kala, akibat dari ulah anaknya Bapak kami akan membawa Sea besok ke Jakarta sesuai petunjuk dari Pak Dokter," sarkas Bu Ana dengan raut wajah yang kurang menyukai kedatangan Pak Ardiansyah.
"Betul sekali yang dikatakan oleh Bu Hana Pak Desa, tapi kami semua menyayangkan dengan sikap brutal dan tidak berprikemanusiaan perbuatan dan sikap brengseknya putra Bapak pelaku kejahatan tersebut yang tidak punya hati nurani," cibir Pak Antoni yang sangat marah.
"Saya heran, kenapa bapak dan anak berbeda sikap dan tingkah lakunya yah, heran deh!" Imbuh Bu Ana lagi.
Pak Ardiansyah yang mendengar suara sumbang, hinaan dan berbagai cibiran yang membuat dia malu hanya bisa bersabar dan tabah karena dia sadari wajar orang-orang bersikap seperti itu.
"Semoga saja pelakunya dihukum dengan hukuman yang berat dan setimpal, gak adil jika tersangkanya terbebas dari hukuman sedangkan korbannya sakit tidak berdaya karena keadaan dan kejadian yang memilukan," sindir ibu Ana lagi yang menatap jengah dan kesal kearah rombongan Pak Desa.
"Ya Allah… kuatkan aku dan berilah aku ketabahan," batinnya Pak Ardiansyah.
"Jadi, apa putranya bapak sudah di penjara dan mendapatkan hukuman yang pantas untuk semua perbuatannya itu?" Tanyanya Bu Minah yang sangat kecewa dan sedih melihat kondisi dari Sea yang hampir jadi orang gila yang tidak waras.
__ADS_1
"Kalau masalah hukumnya Willy, ibu sama bapak tidak perlu risau dengan semua itu, karena bagi saya semua orang sama di depan mata hukum tidak ada perbedaan sedikit pun, jadi kalian perlu hanya fokus pada penyembuhan Sea dan Saya berjanji akan membantu untuk membiayai perawatan Sea selama di Jakarta," terang Pak Ardi dengan tegas.
"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu, kami sangat bahagia karena mendengar perkataan dari Pak Desa, dan semoga Sea segera sembuh dan tidak akan ada lagi kejadian seperti ini dikemudian hari nantinya," harap Bu Mirna yang pemikiran mereka sama dengan yang lainnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Kekuatan Cinta
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
__ADS_1
Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
I love you all Readers…