Love Story Ocean Seana

Love Story Ocean Seana
Bab 135


__ADS_3

"Kami tidak akan pernah mengijinkan dan membiarkan hal itu terjadi selama kami masih hidup dan kami bernafas jadi jangan banyak dan bermimpi yang tinggi pula," sahut Pak Doni.


"Ayo kita segera ke rumahnya pak kepala Desa sebelum terlambat," perintah Pak Anton yang berusaha untuk mencegah perpecahan dan pertikaian antara Sam dengan Willy.


Mereka terburu-buru berjalan dan meninggalkan depan lokasi Tokonya Seana dan bergegas ke rumahnya Ibu Melati dengan perasaan yang sangat takut, cemas dan khawatir.


"Kami tidak akan pernah mengijinkan dan membiarkan hal itu terjadi selama kami masih hidup dan bernafas jadi jangan banyak bermimpi yang tinggi pula," sahut Pak Doni.


"Ayo kita segera ke rumahnya pak kepala Desa sebelum terlambat," perintah Pak Anton.


Beliau berusaha untuk mencegah perpecahan dan pertikaian antara Ocean Samudera Dirgantara Mandala Renon dengan Willy Widianto Ardiansyah anak sulung kepala desa setempat.


Mereka terburu-buru berjalan dan meninggalkan depan lokasi Tokonya Sea dan bergegas ke rumahnya Ibu Meylani. Mereka berbondong-bondong mendatangi rumah pribadi Pak Ardi selaku kepala Desa. Mereka sangat takut terjadi sesuatu kepada Samudera yang khilaf karena dibutakan oleh amarah yang membara.


"Semoga saja mereka bisa duduk berhadapan saling berbicara dari hati ke hati dengan kepala dingin," tutur Pak Toni.


"Amin! Aku juga berharap besar itu terjadi pada mereka, dan moga mereka sama-sama bisa saling mengerti dan berbicara dengan baik agar kedepannya tidak ada lagi masalah yang seperti ini," harap Bu Mirna yang sudah was-was memikirkan keadaan yang kemungkinannya bisa terjadi.


Mereka berjalan kaki saja karena jarak rumahnya Seana dengan pak Ardiansyah Putra Bakrie hanya beberapa meter. Hingga mereka memilih berjalan santai tapi pikiran mereka masing-masing tidak ada yang santai.


Mereka sampai di depan rumahnya Bu Melati, tapi mereka tidak mendengar suara apapun dari arah dalam rumah. Malahan terdengar seperti tidak sedang menerima tamu. Mereka saling berpandangan satu sama lainnya.


Mereka melihat mobil yang dipakai Sam terparkir dengan rapi di depan pagar rumahnya Pak Ardi. Mereka memutuskan untuk berjalan masuk ke dalam lalu bergantian mengetuk pintu rumah itu.


Tok.. tok..

__ADS_1


Bu Meylani yang mendengar suara ketukan pintu segera berjalan tergopoh-gopoh ke arah depan. Dia membuka pintu itu dengan perlahan dan betapa terkejutnya melihat ada banyak orang yang berada di depan rumahnya.


Wajah keheranan jelas terpancar dari wajahnya. Tapi,ia enggan dan sedikit malu jika harus bertanya maksud kedatangan mereka.


"Maaf apa Pak Kepala Desa ada di dalam Bu?" Tanyanya Pak Toni yang celingak-celinguk mencari keberadaan dari Pak Ardi.


"Kalau Pak Ardi ada di belakang rumah dia sedang menerima tamu," jawabnya dengan suara yang pelan dan lemah.


"Apa kami boleh bergabung dengan mereka Bu? Karena ada yang ingin kami katakan," pinta Bu Mina.


"Silahkan masuk kalau gitu, aku akan panggilkan mereka agar segera menemui kalian," ujarnya Bu Melanii yang sudah meninggalkan tempat mereka berada.


Beberapa saat kemudian, Pak Bakri dan Sam berjalan ke arah ruang tamu di mana ada beberapa warga masyarakat yang sudah duduk menanti kehadiran mereka berdua. Mereka terkejut saat melihat Pak Ardi dan Samudra berjalan sambil bercanda dan tersenyum. Wajah mereka tampak biasa saja tidak ada tanda-tanda bekas perselisihan atau pun perdebatan yang terjadi di antara mereka.


Pak Bakri menatap intens Samudera ,"Sam, saya selaku kepala desa di sini sangat bersyukur dan bahagia jika kamu berniat untuk membangun dan memajukan kampung kita agar tidak ketinggalan dari daerah lain," tutur Pak Ardi.


Bapak-bapak dan ibu-ibu masih tercengang memandangi mereka berdua yang saling berbicara merencanakan beberapa rencana yang baik untuk memajukan kampungnya untuk beberapa tahun kedepannya nanti.


"Kami kira Bapak sama Sam sedang cekcok mulut dan bertengkar gitu," Bu Hana membeo.


Sam dan Pak Ardi sama-sama saling beradu pandang satu sama lainnya,lalu tersenyum, "Alhamdulillah bisa mengerti dan memaklumi serta memaafkan kesalahannya Willy atas semua kelakuan kasarnya terhadap Sea, dan saya selaku bapaknya sangat lah sedih, kecewa dan menyesali kejadian tersebut," ujarnya Pak Ardi dengan wajah sendunya.


"Alhamdulillah kalau seperti itu, kami selaku warga masyarakat sangat senang mendengarnya dan kami berharap agar kedepannya jika ada masalah lagi kalau bisa tolong diselesaikan dengan baik-baik dan dengan kepala dingin jangan selalu dengan kekerasan," timpal Pak Heru pamannya Seana.


"Betul sekali apa yang dikatakan oleh Pak Heru," sahut Pak Toni.

__ADS_1


"Jadi bagaimana nak Samuderaa dengan yang kami bicarakan tadi,apa kamu akan membantu mereka mencari keberadaan Ridho dan Putri karena mereka ternyata yang menjadi otak dibalik peristiwa yang menimpa Sea dengan Willy ," jelasnya Pak Ardi panjang lebar.


Pak Ardiansyah Putra Bakri sangat berharap kepada Sam agar membantunya menyelesaikan masalah tersebut agar supaya Willy mendapatkan keringanan hukuman. Ibu-ibu dan bapak-bapak terkejut mendengar penuturan mereka berdua dan tidak menduga jika Nina, Winda, Ridho dan Putri serta Sartika putrinya Pak Camat juga ikut andil dalam peristiwa itu.


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:



Hikayat Cinta Syailendra


Pelakor Pilihan


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Cinta Kedua CEO


Hanya Sekedar Baby Sitter


Kekuatan Cinta


Baby Sitter Pilihan


Tetanggaku Idola Suamiku


Cinta pertama

__ADS_1



Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..


__ADS_2