Love Story Ocean Seana

Love Story Ocean Seana
Bab. 127


__ADS_3

"Apa boleh ibu minta nomor hp kamu?" Tanyanya yang sangat berharap dia mendapatkan nomor handphone nya Aza.


Aza segera menyebutkan 12 digit angka nomor hpnya di depan Ibu Hamidah sebelum dia pergi, "Assalamualaikum Bu," ucap salamnya Aza sebelum pergi dari situ.


"Waalaikum salam Nak, hati-hati dan semoga kita masih bisa diberikan kesempatan untuk bertemu kembali lagi," cicitnya saat AzZahrah sudah mengjauh dari sana.


"Waalaikum salam Nak, hati-hati dan semoga kita masih bisa diberikan kesempatan untuk bertemu kembali lagi," cicitnya saat Azzahra sudah menjauh dari sana.


Azzahrah segera mempercepat langkahnya karena tidak ingin membuat sepupu dari Mamanya menunggunya terlalu lama. Azzahrah lebih sering dipanggil dengan nama Aza karena menurutnya itu lebih ia sukai.


"Aku akan memperlihatkan foto ini di hadapan putraku Ocean Samudera Dirgantara Mandala Renon dan aku ingin melihat reaksinya akan bagaimana," tatapannya masih tertuju pada punggung Azzahrah yang sudah semakin jauh dan tidak terlihat lagi.


"Semoga saja Aunty Hanung tidak ngomel-ngomel lagi gara-gara aku terlambat," gumamnya yang dibarengi dengan seulas senyuman manisnya.


Zahrah semakin menambah kecepatan langkahnya hingga sudah berlari tapi langkah kakinya terhenti seketika disaat telinganya mendengar benda besar yang terjatuh.


Bruk…


Zahrah spontan merem mendadak langkah kakinya, lalu dia menolehkan kepalanya ke arah sumber suara tersebut. Seketika wajahnya memerah menahan tawanya yang cukup terbahak-bahak.


Zahrah bukannya menolong orang itu malahan hanya jadi penonton saja dan menertawai pria yang terjatuh ke atas lantai yang cukup licin itu.


Orang lain yang ada pun di tempat tersebut sama-sama ikut tertawa terpingkal-pingkal melihat kondisi dari pria yang sudah terduduk di atas lantai.


"Gadis itu sangat cantik, tapi dia cukup tega melihatku dalam keadaan kesakitan seperti ini," gumamnya yang bukannya berdiri dan bangkit tapi, malah menatap intens ke arah Aza.


Hpnya Aza berdering yang membuatnya kembali tersadar jika kedatangannya sudah ditunggu sedari tadi oleh dokter yang beberapa minggu ini menangani kondisi kesehatannya.


"Aku harus segera cabut dari sini, jika tidak aku pasti kena amarahnya Aunty Wanda dan beliau akan melapor sama Mama kan bisa berabe dan gawat kalau gitu," cicitnya yang kembali berjalan tergesa-gesa meninggalkan pria yang masih terduduk dengan berselonjor kakinya.

__ADS_1


"Dari jauh saja sudah nampak kalau dia sangat cantik tanpa polesan make up yang berlebihan di wajahnya, aku harus cari tahu siapa dia," lirihnya yang terpesona pada pandangan pertama.


"Maaf yah Pak Dokter saya tidak sengaja melakukannya," ucap office boy itu dengan penuh penyesalan yang telah menyesali karena gara-gara dirinya yang membersihkan lantai dengan mengepel jadi lantai itu licin hingga membuatnya terpeleset dengan cantiknya.


"Makanya kalau lagi ngepel itu tolong di pasang papan pengumuman agar orang lain yang lalu lalang bisa berhati-hati saat melewati tempat ini," terangnya sambil berdiri dari posisinya.


"Maaf Pak Dokter itu papannya ada di sana kok gak kemana-mana masih setia di tempatnya," ujarnya ob itu yang menunjuk ke arah papan plastik yang bercat kuning itu.


Pak Dokter segera mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk si ob. Dan betapa terkejutnya dan rasa malu langsung menggerogoti hatinya.


Dia tidak tahu harus berbicara apa lagi karena letak ledak terletak pada dirinya sendiri yang berjalan tidak fokus sambil menatap terus ke arah Aza yang tadi berlarian.


"Maaf," ucapnya singkat kemudian meninggalkan tempat itu untuk segera membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya.


"Aku akan mencari tahu siapa perempuan cantik itu hingga ke lubang semut pun aku akan mencarinya," cicitnya yang memantapkan hatinya.


Nafas Zahrah ngos-ngosan hingga dia kesulitan untuk bernafas saking cepatnya dia berlari.


Penghuni di dalam ruangan itu langsung menatapnya dengan tatapan tajamnya seperti biasa jika dia datang untuk berobat dan konsultasi hingga kadang membuat nyalinya menciut dan ketakutan andai saja dia tidak mengenal baik adik sepupu Mamanya itu, pasti akan mengalami hal tersebut.


"Aza sayang kamu coba tengok jam yang terpasang cantik di tembok?" Tanyanya yang berdiri dari posisi duduknya itu.


Refleks Aza mengalihkan perhatiannya ke arah yang ditunjuk oleh dokter Wanda. Dia langsung cengengesan melihat jam dinding tersebut.


"Jam 12 siang Dokter," jawabnya Aza dengan wajahnya yang menunjukkan jika dia sedang lesu, lelah dan letih dalam waktu yang bersamaan.


Azzahrah salah tingkah dan merasa menyesal karena sangat tahu jika gara-gara dia adik sepupu Mama sambungnya itu pekerjaannya harus terhambat karena gara-gara dirinya.


"Maafkan Aza Aunty cantik yang baik hati rajin menabung, cantik dan tidak sombong," pujinya Aza yang mulai mengeluarkan jurus andalan dan mautnya.

__ADS_1


Azzahrah sering kali mengalami hal yang seperti sekarang ini, Jika itu terjadi maka dia akan mengeluarkan jurus andalannya itu untuk membujuk Auntynya yang sangat berjasa dalam menolongnya.


"Hari ini Aunty tidak menerima segala rayuan mautmu, Aunty akan menelpon mama kamu dan mengatakan kepadanya kalau kamu kelayapan sehingga terlambat datang," ancam Dokter Hanung yang hanya terpaut delapan tahun darinya itu.


Aza tidak tahu harus bagaimana lagi jika dokter Hanung sudah mengancamnya dengan alasan seperti itu. Dia langsung mati kutu dan kebingungan sendiri.


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:



Hikayat Cinta Syailendra


Pelakor Pilihan


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Cinta Kedua CEO


Hanya Sekedar Baby Sitter


Kekuatan Cinta


Baby Sitter Pilihan


Tetanggaku Idola Suamiku


Cinta pertama


__ADS_1


Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..


__ADS_2