
"Forget the about one who coused the pain, Lupakan seseorang yang membuatmu sakit."
Mulai hari itu, sudah banyak para warga masyarakat yang membawa beberapa kebutuhan pokok sembako ke rumahnya Sea. Silih bergantian masyakarat mendatangi rumahnya Sea dengan membawa berbagai macam jenis barang. Karena seperti itulah kebiasaan dan tradisi yang turun temurun di kalangan masyarakat setempat.
Sea tidak langsung pulang ke rumahnya, dia minta untuk menjaga Sam di rumah sakit. Karena hari ini suster yang sering bertugas untuk menjaganya berhalangan hadir dikarenakan ada sesuatu urusan pribadi yang sangat mendesak.
Seana sedari tadi hanya duduk terdiam dan melamun. Dengan berat hati dan terpaksa ia menerima permintaan tersebut untuk menjaga Sam selama sakit.
Seana kebingungan karena, tidak tahu harus berbuat apa lagi ini yang pertama kali baginya berduaan dengan seorang pria di dalam suatu ruangan. Hal ini menjadi pengalaman pertamanya harus berduaan dengan seorang laki-laki dalam ruangan.
Sea menghembuskan nafasnya dengan cukup kasar, "Aku menolak keinginan para emak-emak dan bapak-bapak heboh juga tidak ada gunanya, pasti berujung dengan pemaksaan, jadi dengan terpaksa aku harus menjaganya," dengusnya Seana.
Awalnya Sea menentang dan menolak permintaan tersebut untuk menjaga Raja dan menginap di rumah sakit dalam satu kamar tanpa ada ikatan dan hubungan pernikahan.
Bu Mina menatap intens dan penuh harap ke arah Sea, "Sea hanya kamu yang bisa membantu ibu untuk merawat dan menjaga Sam, karena putra ibu yang setiap hari membantu suster menjaganya harus ke kota untuk mendaftar sekolahnya," tuturnya Ibu Mina dengan menggenggam tangan Seana penuh kelembutan.
"Iya, kami sangat mengerti dan memaklumi kekhawatiranmu itu, tapi kamu tidak perlu takut karena kami yang akan bertanggung jawab terhadap hal ini, lagian Raja tidak mungkin bisa melakukan hal itu padamu karena kakinya masih sakit," timpalnya ibu Rima.
"Hmmm," deheman dari Samudera membuyarkan lamunannya Seana sembari menatap ke arah calon istrinya itu.
Seana membalas menatapnya lalu spontan berjalan ke arah Sam, "Maaf, apa Abang butuh sesuatu?" Tanya Seana yang sudah berdiri di sampingnya.
Sam mengelus leher jenjangnya, "Aku butuh minum, apa aku boleh minta tolong padamu?" Tanyanya Sam dengan nada suara yang sedikit lemah.
"Abang meminta tolong emangnya apa? Insya Allah kalau bisa, saya akan penuhi permintaannya Abang kok," jawab Sea yang tersenyum tipis.
Samudera yang melihat senyuman tipisnya Sea cukup membuat hatinya bergetar dan ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya.
"Senyumannya sungguh indah dan menyejukkan mata siapa pun yang memandangnya," cicitnya Samudera yang terpesona melihat senyum manis Seana.
"Kamu ambilkan untukku minum?" Tanya Sam dengan penuh harap.
Seana tidak menjawab atau pun membalas perkataannya calon suaminya itu, dia hanya langsung bergerak cepat untuk menuang air putih ke dalam sebuah gelas yang sudah tersedia diatas meja nakas. Ia mengisi air putih ke dalamnya lalu memberikan gelas itu ke hadapan Ocean Samudera.
__ADS_1
"Ini gelasnya Abang, silahkan diminum," ujarnya sambil memberikan gelas putih ke dalam genggaman tangannya Sam yang sedari tadi memperhatikan apa yang sedang dilakukannya oleh Seana.
Samudra tersenyum ke arah Sea lalu mengucap," makasih banyak atas air putihnya."
Sam tanpa pikir panjang langsung meminum air putih itu hingga isinya tandas tak bersisa sedikit pun dengan suara gleduk tegukannya yang kedengaran hingga ke telinganya Sea.
"Sama-sama Abang," Jawabnya singkat Sea.
Sam kembali memberikan gelas kosong tersebut ke arah Sea. Dengan sigap dia segera menyimpan gelas itu ke tempatnya semula. Hingga menjelang malam mereka masih terdiam tanpa ada yang membuka percakapan mereka. Mereka masing-masing sibuk dengan aktivitasnya sendiri-sendiri.
Sea duduk di kursi sedangkan pikirannya melanglang buana entah kemana hingga ke kejadian beberapa tahun silam terlintas di benaknya. Sedangkan Sam diam-diam mengagumi wajah ayu nan alami milik Sea.
"Gadis ini sepertinya cantik juga jika dipoles make up, dan mengalahkan kecantikan wanita ular itu." Batinnya Sam.
Tengah malam pun datang, suasana rumah sakit mulai sepi. Berbeda halnya disaat sore hari atau masih terang. Hanya sesekali suara bangkar yang didorong oleh beberapa perawat yang terdengar dan mengisi keheningan malam itu.
"Heuuummm," Sea menguap dengan menutup mulutnya perlahan sudah mengantuk dan mulai membaringkan tubuhnya di atas kursi panjang.
"Andai saja aku tahu bakal nginap di sini, pasti akan bawa sarung atau selimut, kenapa malam ini cuacanya sangat dingin?" Cicitnya sambil melipat kakinya agar tidak kedinginan.
"Kok cuacanya malam ini dingin banget yah?" Ketusnya dengan bolak balik badannya yang sangat gelisah.
Sam sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu karena, ia sudah terbiasa hidup dengan ac bahkan jika tidak ada ac, dia akan kesulitan untuk tidur.
Sam yang tidak sengaja melihat hal tersebut langsung berseru,"di dalam lemari ada selimut sama sarung, mungkin kamu bisa memakainya."
Seana tanpa banyak tanya dan protes langsung refleks bangkit dari tidurnya dan berjalan ke lemari. Kebetulan ada sebuah lemari di dalam ruangan perawatan Samudera khusus untuk menyimpan beberapa barangnya.
Sea berjalan ke arah sofa, tapi menghentikan langkahnya sesaat menatap ke arah Sam yang ternyata tidak memakai selimut di tubuhnya, hanya memakai pakaian pasien saja.
Sea hanya mengambil sarung saja lalu berjalan ke arah ranjangnya Sam lalu menyelimuti sebagian tubuhnya Samudera. Menurutnya Sea, Sam akan kedinginan jika terus dalam keadaan yang tidak memakai selimut atau sarung saja.
Sam yang diperlakukan seperti itu sama sekali tidak mencegahnya hanya terdiam dan menatap tajam ke arah wajahnya Sea yang semakin dipandang semakin rasa penasarannya timbul di dalam hatinya.
__ADS_1
"Semakin dipandang semakin kelihatan aura kecantikannya, entah kenapa hati ini tenang jika melihatnya," Sam membatin.
Sam diam-diam mengagumi perempuan pesisir itu. Semakin dia memandang semakin ada rasa yang tidak bisa digambarkan. Ada getaran aneh yang muncul di tepi permukaan hatinya.
Seana sama sekali tidak mengetahui jika dia diperhatikan dengan seksama. Dia hanya melakukan tugasnya sebagai calon istrinya yang diamanahkan tugas untuk menjaganya hingga pagi hari.
****************
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Kekuatan Cinta
Baby Sitter Pilihan
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
Tetap dukung LSOS dengan cara:
__ADS_1
Like Setiap Babnya, Rate Bintang Lima, Favoritnya, tekan tombol yang ada tulisan iklannya, berikan gift poin atau koinnya kakak.
I love you all Readers…