
Rombongan itu berniat untuk menjenguk Samudera, mereka ingin melihat kondisi terakhir dari Samudera. Mereka membuka pintu kayu jati itu dan melihat ada beberapa dokter dan perawat yang sedang memeriksa dan mengobservasi kondisi dari Samudera.
Pak Ardiansyah berjalan mendekati Dokter tersebut, "Bagaimana dengan kondisi dari saudara Samudera?" Tanyanya ke hadapan pak dokter.
Dokter melirik sekilas ke arah Pak Ardiansyah sebelum menjawab pertanyaan yang dilayangkan oleh Pak kepala desa.
Dokter Aldi melirik sekilas ke arah Pak Ardiansyah sebelum menjawab pertanyaan tersebut senantiasa berkata, "Alhamdulillah, keadaannya sudah membaik dan kemungkinan besarnya jika perkembangan kesembuhannya lebih cepat dari sebelumnya insya Allah dua hari lagi pasien bisa kembali ke rumahnya," jelasnya Pak Dokter Aldiansyah.
Pak Ardiansyah menatap penuh harap ke arahnya Pak dokter, "Syukur Alhamdulillah kalau gitu Pak Dokter," ujarnya dengan seulas senyum yang terbit dari wajahnya.
"Tapi, sepertinya Tuan baru-baru ini mengkonsumsi obat yang sangat berbahaya bagi kesehatannya," terang dokter sesuai dengan hasil pemeriksaannya di lab.
"Maksudnya Dok?" Tanya Pak Ardi yang terkejut mendengar perkataan dari dokter.
"Ada sejenis obat pelumpuh syaraf yang sangat berbahaya dan efeknya berakibat fatal terhadap otak dan kemampuan tulangnya, untungnya obat itu belum terlalu lama bersarang di dalam tubuhnya sehingga kami bisa menangani segera dan mengeluarkan semua racun dari tubuhnya," jelas Pak Dokter panjang lebar.
"Jadi bagaimana kedepannya dokter apa dia masih bisa menggerakkan kakinya?" Tanya Pak Ardi.
"Insya Allah dia akan sembuh asalkan rutin minum obat dan terapi, tetapi ada beberapa ingatan lamanya yang hilang," ujarnya dengan senyuman ramahnya.
"Ya Allah… bagaimana ini, kasihan sekali nasibnya Seana harus menikah dengan pria yang setengah lumpuh dan juga amnesia, semoga Seana sabar menghadapi semua cobaan yang dihadapinya, sungguh malang nasibmu Nak," Pak Ardiansyah membatin.
Wajah Pak Ardi tiba-tiba sendu dan tidak bisa membayangkan bagaimana nasib dan kehidupan rumah tangganya kedepannya Seana nantinya jika mereka sudah menikah.
"Semoga saja Sea mampu bersabar dan tabah menjalani pernikahannya, tolonglah mereka ya Allah…" batinnya Pak Ardiansyah lagi.
Ocean Samudera Dirgantara Mandala Putra yang sedang terbaring lemah dengan selang infus terpasang di pergelangan tangan bagian kirinya. Tatapannya kosong dan tidak tahu harus berbuat bagaimana.
Dia teringat saat Seana disiksa oleh bibinya sendiri Bu Widya dengan sangat kejam dan tidak seperti manusia saja kelakuannya. Tanpa segan air matanya menetes membasahi pipinya. Ia merasa iba dan sangat bersalah melihat betapa tersiksanya gadis yang telah menolongnya itu.
__ADS_1
Pak Ardiansyah tanpa sengaja melihat ada tetesan air mata yang membasahi pipinya Samudera, ia kemudian berinisiatif untuk mendekati Sam dan berniat ingin bertanya tentang siapa dia sebenarnya dan asalnya dari mana.
Pak Ardiansyah tersenyum ramah, "Maaf apa boleh kita berbicara sebentar?" Tanya Pak Ardi saat sudah duduk di kursi yang ada di dekat bangkar.
Samudra yang didatangi oleh mereka hanya mampu terdiam tanpa sepatah kata pun dan ia terlebih dahulu menatap satu persatu mereka sebelum menjawab pertanyaan dari Pak Ardi.
"Silahkan Pak, tapi maaf saya tidak bisa duduk, hanya berbaring yang bisa saya lakukan," tuturnya dengan nada suara yang lemah.
"Oh tidak apa-apa, kamu berbaring saja jika itu terbaik kamu lakukan," balasnya sambil mencegah agar Sam tidak berdiri dari posisi baringnya.
"Begini Nak, Bapak mau bertanya sama kamu, apa kamu siap dan bersedia menikahi Seana sesuai dengan tuntutan dari beberapa masyarakat?" Tanyanya dengan memandang ke arah Sam dengan penuh harap.
Samudera sedikit tersentak terkejut mendengar langsung perkataannya pak Ardiansyah. Ia kemudian mencerna dengan baik maksud dari perkataan Pak Ardi. Dia tidak tahu juga harus bagaimana, dan kepikiran dengan nasib dari gadis yang menolongnya.
Samudra tidak mungkin membiarkan gadis itu tersiksa dan terus dihina gara-gara dia menolak keputusan dari masyarakat setempat. Pak Ardi yang melihat Sultan terdiam saja heran dan sedikit khawatir jika Sultan menolak keinginannya.
Sultan menganggukkan kepalanya sembari berkata, "Insya Allah, saya siap untuk menikahi putri bapak," jawabnya dengan sedikit pelan karena tiba-tiba kepalanya sedikit pusing.
Dia segera memegang kepalanya yang sakit itu. Pak Ardi yang melihat hal tersebut segera bergerak cepat untuk memeriksa kondisi Samudera.
"Aaaaahhhhh!!" Pekiknya Samudera dengan memegang kepalanya itu.
"Apa yang terjadi padamu Nak?" Tanya Pak Ardi.
Sam sama sekali tidak menggubris dan tak menjawab pertanyaan dari pak Ardi sedikit pun. Di dalam pikiran dan ingatannya, dia melihat saat-saat terakhir pesawatnya terjatuh ke atas permukaan laut. Dia kembali mengingat semua kejadian saat Martin mengatakan kalau dirinya sudah direcoki obat dan ketika dirinya melihat sebuah foto kemesraan antara Markus dengan tunangannya seperti kaset kusut yang diputar kembali.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Kekuatan Cinta
Baby Sitter Pilihan
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
Tetap dukung LSOS dengan cara:
Like Setiap Babnya, Rate Bintang Lima, Favoritnya, tekan tombol yang ada tulisan iklannya, berikan gift poin atau koinnya kakak.
I love you all Readers…
__ADS_1