
"Alhamdulillah ibu tidak apa-apa kok Nak, hanya saja Ibu kepikiran dengan seseorang yang sangat penting dan spesial di hati putranya Ibu," jawab Ibu Hamidah dengan lugas sembari tersenyum simpul.
"Syukur Alhamdulillah kalau kenyataannya seperti itu," balasnya dengan senyuman yang manis pula.
"Kalau istri dari Sam cara berpakaiannya tidak seperti dengan perempuan yang ada di depanku ini, walaupun wajah mereka sangat mirip tapi, gaya berpakaiannya berbeda dengan menantuku dan lagian juga Seana gadis kampung bukan orang kota," batinnya Bu Hamidah yang membandingkan anak menantunya dengan gadis baik yang duduk di sebelah kanannya.
Bu Hamidah segera merogoh hpnya yang berada di dalam tasnya tersebut. Dia secepatnya ingin melihat fotonya Sea Istri anaknya yang kebetulan ada di dalam galeri fotonya.
Beliau memperhatikan penampilannya perempuan yang masih berdiri di depannya itu. Tatapan menelisik tajam yang dilayangkan oleh Ibu Hamidah membuat gadis itu merasa tidak nyaman, salah tingkah.
"Ya Allah… mereka sangat mirip tapi, dia sangat cantik dan jauh berbeda dari segi penampilan tapi, apa ada orang yang mirip satu sama lainnya tanpa ada ikatan darah sedikit pun?" Tanyanya yang membatin tapi arah pandangnya tetap tertuju pada perempuan ini.
"Kenapa perasaanku tidak enak yah,. Kenapa juga ibu-ibu ini sedari tadi melihatku dengan pandangan mata yang menurutku aneh gitu," batinnya bertanya-tanya dengan tatapan dari Bu Hamidah karena merasa ada yang aneh dengan tatapan Ibu yang berada di dekatnya itu.
Mereka saling menyelami perasaan masing-masing dan kebingungan dengan keadaan yang ada.
"Hmmm, apa Ibu boleh minta tolong Nak?" Tanyanya Ibu Hamidah yang berniat meminta bantuannya.
Kalau boleh tahu mau minta tolong apa Bu? Insya Allah kalau aku sanggup dan bisa pasti aku akan membantu ibu," ujarnya dengan senyuman yang selalu tersungging di bibirnya itu.
"Tutur sapanya sangat lembut, dia sangat ramah dan baik hati, aku akan sangat bahagia jika menantuku yang berada di kampung juga seperti dia," Bu Hamidah membatin dan memikirkan tentang keadaan dari Seana anak mantunya.
Bu Hamidah kembali terdiam membisu seribu bahasa dan terpaku dalam kebisuannya hanya matanya yang mengisyaratkan bahwa dirinya sedang banyak hal yang dia pikirkan saat itu juga.
"Ibu sebenarnya sangat malu Nak, tapi ibu tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa, anak-anak ibu tidak ada di rumah dan sibuk kerja, apakah Ibu bisa meminta tolong sama kamu saja?" Tanyanya Bu Hamidah yang sedikit berkilah dan berbohong menutupi kenyataan yang ada.
Perempuan itu terdiam lalu ikut mendudukkan bokongnya ke atas kursi tunggu pasien. Dia tersenyum ramah ke arah Ibu Hamidah yang kembali terdiam. Dia langsung memegang genggaman tangannya Bu Hamidah.
__ADS_1
"Ibu tidak perlu sungkan terhadap Sea, insya Allah kalau Sea bisa dan mampu pasti akan aku penuhi permintaan dari ibu," terangnya yang kembali membuat Ibu Hamidah tersentak kaget ketika mendengar namanya.
"Maaf tadi kamu bilang namamu siapa nak?" Tanyanya Bu Hamidah yang sangat penasaran dengan namanya gadis cantik itu.
"Namaku Azzahrah Bu, tapi kebanyakan orang memanggilku Zahrah saja katanya sih mereka biar lebih mudah manggilnya," terang Aza yang selalu menyunggingkan senyuman manisnya.
"Ohh namanya Azzahrah, aku pikir Seana karena tadi ia bilang Sea, mungkin aku yang salah dengar," gumamnya Bu Hamidah.
"Bukan Bu, ngomong-ngomong soal yang tadi apa yang ingin ibu katakan?" Tanyanya Sea yang menunggu di Bu Hamidah membuka mulutnya untuk berbicara dan mengungkapkan keinginannya.
"Maaf, Ibu kira namamu Seana," ujar Bu Hamidah.
Suster segera mendatangi tempat mereka duduk. Perawat tersebut tersenyum ramah lalu berbicara kepada keduanya.
"Maaf diantara kalian siapa yang bernama Azzahra?" Tanyanya suster tersebut yang memegang sebuah buku yang berisi daftar nama-nama pasien yang ditangani oleh dokternya.
"Silahkan ikuti Saya Mbak, karena gilirannya Mbak yang harus berkonsultasi dengan Dokter Wanda," pungkas Suster tersebut.
"Baik Sus, Anda jalan duluan saja nanti aku akan nyusul Suster kok," pintanya sambil tersenyum manis.
"Kalau begitu saya pamit Mbak tapi, jangan terlalu lama yah," tuturnya Mbak Suster itu.
Sepeninggal Suster tersebut Bu Hamidah diam-diam mengambil gambar fotonya Azzahrah, "Maafkan Aza yah Bu, karena Aza harus bertemu dengan Dokter jadi terpaksa Ibu aku tinggal insya Allah lain kali kita ketemu lagi," tutur Aza yang hendak pergi dari tempat itu.
"Apa boleh ibu minta nomor hp kamu?" Tanyanya yang sangat berharap dia mendapatkan nomor handphone nya Aza.
Aza segera menyebutkan 12 digit angka nomor hpnya di depan Ibu Hamidah sebelum dia pergi, "Assalamualaikum Bu," ucap salamnya Aza sebelum pergi dari situ.
__ADS_1
"Waalaikum salam Nak, hati-hati dan semoga kita masih bisa diberikan kesempatan untuk bertemu kembali lagi," cicitnya saat AzZahrah sudah mengjauh dari sana.
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Kekuatan Cinta
Baby Sitter Pilihan
Tetanggaku Idola Suamiku
Cinta pertama
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
__ADS_1