
Dan juga tidak pernah ada yang menyinggung kita, hanya saja kita memilih untuk tersinggung. andai saja kita bisa melapangkan hati kita maka semua akan terasa manis.
Kita yang memilih rasa dalam hati kita, maka jika sekiranya kita masih bisa memilih berlapang dada maka pilihlah kelapangan. Karena kita akan merasa tenang dan selalu bahagia. semua tentang rasa yang kita sendiri yang memilikinya dan kita juga yang memilihnya.
Berbuatlah hal-hal kebaikan agar yang kita dapatkan juga kebaikan. Karena sejatinya apa yang kita perbuat hari ini esok ataupun lusa pasti akan kembali pada diri kita sendiri. Apa yang kita tanam dan itu lah yang akan kita tuai.
"Akhirnya kita ketemu lagi, hampir satu bulan aku menunggu dan mencari keberadaanmu cantik," gumam orang itu.
Zameera Azzahrah Arinda Farhan berjalan cepat dan sesekali berlari kecil menuju ruangan tempat dia akan melakukan terapi. Hingga dia tidak melihat dan memperhatikan ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan gerak geriknya.
Nafas Zahraha ngos-ngosan, dia mengatur nafasnya sebelum masuk ke dalam ruangan itu. Dia menarik handle dan memutar knop pintu tersebut dengan nafas yang masih sedikit memburu. Dia berjalan perlahan ke arah dalam dan sedikit was-waa takut jika auntynya marah lagi kepadanya.
Tatapannya tertuju pada sosok perempuan yang duduk berhadapan dengan seseorang di meja kerjanya. Senyuman tipis tersungging di bibirnya tanpa aba-aba.
"Ya Allah… semoga saja Aunty tidak marah-marah lagi gara-gara aku yang kesekian kalinya harus terlambat," batinnya Zahra.
Dia tersenyum ramah ke arah Dokter Winda Viska Ahmad adik sepupu dari mamanya itu, "Maafkan Aunty, Aza terpaksa datang terlambat karena…." Ucapannya terpotong setelah orang yang sedari tadi duduk berhadapan dengan Auntynya itu berbalik ke arahnya.
Pria itu tersenyum melihat Aza sedangkan Aza refleks tertawa terbahak-bahak melihat Pria itu. Dia kembali teringat akan kejadian beberapa bulan lalu. Saat pertama kalinya bertemu dengan Bunda Hamidah dan sekaligus melihat ada pria yang tersungkur dan terpeleset di atas lantai gara-gara licinnya lantai yang sedang di pel dan dibersihkan oleh salah satu ob.
Winda yang melihat tingkah laku keponakannya menggelengkan kepalanya tanda tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Zameera Azzahrah!" Ucap Winda yang sudah jengah mendengar tawanya Aza.
Azzahrah yang ditegur oleh Wanda segera menghentikan tawanya itu. Dia memegang perutnya yang sedikit sakit, "Maaf," lirihnya Aza yang masih berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan tawanya.
Sedangkan pria yang diam-diam memperhatikan Aza dengan teliti dan seksama dari ujung kaki hingga ujung rambutnya hanya tersenyum tipis dan tidak mempermasalahkan apa yang dilakukan oleh Aza sedikit pun.
Winda yang sedikit merasa tidak enak segera meminta atas kelakuan Aza yang sudah seperti orang yang kehilangan akal sehatnya saja, "Maafkan keponakanku Dokter Bayu, aku sudah berusaha mencegahnya tapi, dia masih seperti ini," Ucap Winda dengan penuh penyesalan.
Zahra masih berdiri di tempatnya semula dan tetap sesekali melanjutkan tawanya jika dia mengingat kejadian tempo itu. Wanda kemudian memutuskan untuk berdiri dari tempat duduknya lalu menarik tangan Aza untuk segera duduk.
Zameera Azzahrah yang kembali tersadar jika apa yang dilakukannya cukup tidak baik dan menggangu ketenangan orang lain segera merendahkan suaranya dan hanya butuh waktu lima menit saja, suasana dan kondisi sudah menjadi stabil dan kondusif lagi.
"Maaf, saya tidak bermaksud apa-apa kok, Aza hanya teringat kembali dengan kejadian lucu," ujarnya Zameeraa sambil menundukkan kepalanya karena sangat malu dengan sikapnya sendiri.
Zahrah spontan menatap ke arah Bayu, ia tidak menduga jika pria yang hanya berpenampilan santai dengan gaya casualnya tanpa memakai atribut almamater kebesarannya waktu itu.
Wajah yang cukup tampan dengan hidung mancung, alis mata yang tebal, bibir merah tipis membuat beberapa rekan sejawatnya sebagai dokter tertarik dan mencari perhatiannya. Tapi dia jatuh cinta pada pandangan pertama melihat wajahnya Aza yang ayu nan cantik.
Frans segera mengulurkan tangannya ke arah Aza," Frans Bayu Alfiansyah Adityaswara," tutur Bayu.
"Azzahrah Almeera Farhan," sahut Aza memperkenalkan dirinya sembari membalas menjabat tangannya Bayu dengan seulas senyuman manis darinya.
__ADS_1
"Sepertinya Bayu tertarik dan terpesona melihat Aza dari arti tatapannya itu yang membuktikan hal tersebut," Dokter Winda membatin.
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:
Duren I Love you
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Kekuatan Cinta
Baby Sitter Pilihan
Cinta pertama
__ADS_1
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..