Love Story Ocean Seana

Love Story Ocean Seana
Bab. 104


__ADS_3

"Aku tidak akan membiarkan kamu bisa bernafas lega dan bebas berkeliaran untuk menghirup udara segar dan tunggulah aku Marcel! aku akan membuat kamu hancur hingga kematian akan enggan menjemputmu!!" geramnya Samudera yang sudah berjanji akan membalas semua akibat dari kejahatan Martin dan Selena.


Kondisi lingkungan rumah yang kumuh, sanitasi, ventilasi yang sangat minim serta sekitar area rumah itu yang sangat kotor, sampah ada di mana-mana. Hal itu yang memperparah kondisi kesehatan Ibu Hamidah. Hal tersebut semakin membuat Sultan semakin marah dan murka terhadap perbuatan dan kejahatan dari Marcel.


"Ya Allah… ini semua gara-gara kesalahanku, yang terlalu bego, bodoh dan terlalu mudah diperdaya oleh Selena Putri Burhan wanita ular berkepala dua itu yang sangat licik," umpatnya Sam yang mencengkeram kuat genggaman tangannya.


"Aku tidak akan membiarkan kamu bisa bernafas lega dan bebas berkeliaran Martin, aku akan membuat kamu hancur hingga kematian akan enggan menjemputmu!!" Umpatnya yang sudah berjanji akan membalas semua akibat dari kejahatan Marcell dan Seleina.


Beberapa saat kemudian, setelah diperiksa oleh Dokter Juanda Anggara Arkelio Prasetya mereka segera bersiap dan meninggalkan rumah itu untuk berangkat menuju Ibu Kota Jakarta pusat.


"Samudera! Kita tidak boleh menunda lagi, kondisi Bunda sangat berbahaya!!" Ujarnya Anggara yang sudah nampak jelas rasa cemas dan khawatir di mimik wajahnya.


Sam melirik ke arah Juan,"Baik, bawa Bunda ke dalam mobil kita akan segera pulang ke Jakarta, hubungi orang-orangmu untuk menyiapkan jet pribadi, kita akan naik pesawat pulang ke Ibu Kota," perintah Ocean Samudera Dirgantara Mandala Renon yang menatap ke arah Anggara berdiri.


"Baik perintah akan saya laksanakan," jawabnya dokter Juan dengan singkat lalu segera berjalan ke arah mobilnya untuk mengambil hpnya.


"Bagaimana dengan barang-barang kami kak?" Tanya Sherlyana yang mengemas barang-barangnya.


"Tidak perlu khawatirkan masalah barang-barangmu, ambil saja yang penting, yang tidak penting tinggalkan saja di sini," jawabnya Sam yang tidak ingin dibantah, lalu mulai menyalakan mesin mobilnya setelah Bundanya dirasa sudah berbaring dengan baik di dalam mobil.


Rombongan mereka meninggalkan perkampungan kumuh itu yang beberapa bulan terakhir ini menjadi tempat tinggal, berlindung dari Bunda dan adiknya dari kejaran Marcell beserta antek-anteknya itu.


Wajahnya Samudera masih merah padam, guratan amarah masih tetap terus membayanginya. Dia sesekali mengumpat kejahatan dan perbuatannya Martin kepada keluarganya.


"Aku terlalu bodoh selama ini yang dengan mudahnya mereka membohongiku!!" Kesalnya Sam lalu memukul setir mobilnya.


Sherlyana yang duduk di kursi penumpang sedikit merasa takut dan was-was melihat sikap dan kemarahan saudara satu-satunya itu. Dia lalu memegang punggung tangan kakaknya itu.


"Abang!!! ingat istighfar kita lagi di jalan, jangan luapkan amarahnya jika sedang nyetir mobil, aku takut," bujuknya Sherlina yang sedikit mulai khawatir melihat emosi kakaknya.

__ADS_1


Untung saja Sam segera menyadari apa yang telah dilakukannya dia sangat menyesali karena amarahnya telah menguasai seluruh tubuh dan pikirannya.


"Astaugfirullah, maaf," lirihnya yang menyesal karena telah terpengaruh oleh sesuatu yang tidak baik.


Perjalanan mereka tidak terlalu makan banyak waktu, karena pulangnya mereka memakai pesawat jet pribadi agar perjalanannya cepat dan tidak ada kendala apapun itu. Samudra berusaha untuk menahan segala amarahnya yang sudah membuncah di dadanya hingga ke puncak ubun-ubunnya.


Samudra selalu berada disampingnya Nyonya Santi ibundanya tercinta. Dia sedari tadi setelah berada di dalam pesawat, selalu berada di dekatnya ibu Santi mencium punggung tangan ibundanya.


"Bunda harus segera sembuh dan sehat kembali, agar bunda bisa melihat menantu bunda yang sangat cantik," tuturnya Sam disela tangisnya.


Ibu Santi yang mendengar penuturan anak sulungnya segera menolehkan wajahnya ke arah anaknya berada. Ibu Santi berharap agar permasalahan yang dihadapi oleh anaknya.


"Apa benar yang kamu katakan Nak?" Tanyanya yang sudah senang mendengar penjelasan dari anaknya.


"Iya Bunda, Alhamdulillah saya sudah menikah dengan seorang gadis di kampung tempat aku diselematkan, jadi Samudera mohon cepatlah sembuh lalu kita ke sana jemput Seana Bun," ujarnya yang berbinar binar bahagia seketika saat menyebut nama seorang gadis remaja yang baru dinikahinya.


"Syukur Alhamdulillah Nak, Mama sangat bersyukur karena kamu telah menemukan gadis yang kamu cintai, Mama berdoa semoga pernikahannya awet, langgeng hingga kalian kakek nenek, amin," tutur Bu Santi dengan senyuman bahagianya mendengar putranya telah menikah.


"Kalau gitu bunda mau segera dan secepatnya sembuh agar kamu bisa ke kampungnya untuk jemput Sea ke Ibu Kota," terang ibu Santi lagi yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena mendengar putra sulungnya sudah berkeluarga dengan gadis pilihannya yang sholeha walaupun gadis kampung.


Samudra sangat bahagia dan bersyukur karena ibundanya tidak mempermasalahkan sedikit pun tentang apa saja yang ada pada Seana, baik dari segi latar belakangnya, sifat, karakter, usianya. Bu Santi jadi termotivasi untuk segera lekas sembuh dan sehat seperti sedia kala.


"Aku harus segera sembuh, agar aku bisa bertemu dengan anak menantuku dan menunggu mereka memiliki keturunan anak bayi penerusnya keluarga besar Mandala Renon," batinnya Bu Santi raut wajahnya menyiratkan kebahagiaan dan sesaat melupakan kesedihan atas penyakitnya itu.


Itulah keluarga Samudera yang tidak pernah memandang seseorang dari bibit, bebet dan bobotnya. Bagi mereka yang paling penting adalah anggota keluarganya bisa bahagia dunia akhirat itu sudah cukup. Otomatis kebaikan dari pasangan mereka yang menonjol pasti mereka akan bahagia.


"Alhamdulillah, akhirnya putraku bisa terlepas dari jeratan dan bayang-bayang Seleina, aku akan sangat berterima kasih kepada Sea istrinya anakku jika kelak kami dipertemukan," batinnya Ibu Santi yang raut wajahnya sudah berbinar kesenangan sudah tidak nampak seperti awal mereka bertemu.


Ibu Santi sudah memikirkan banyak hal tentang pesta pernikahan putranya jika sudah menjemput istrinya. Karena Bu Hamidah sangat yakin dan tahu jika mereka pasti menikah dulu dengan suasana yang sangat sederhana, walaupun kenyataannya waktu itu tidak seperti dugaan yang dipikirkannya.

__ADS_1


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:



Hikayat Cinta Syailendra


Pelakor Pilihan


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Cinta Kedua CEO


Hanya Sekedar Baby Sitter


Kekuatan Cinta


Baby Sitter Pilihan


Tetanggaku Idola Suamiku


Cinta pertama



Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..


Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...


Tetap dukung LSOS dengan cara:

__ADS_1


Like Setiap Babnya, Rate Bintang Lima, Favoritnya, tekan tombol yang ada tulisan iklannya, berikan gift poin atau koinnya kakak.


I love you all Readers…


__ADS_2