Love Story Ocean Seana

Love Story Ocean Seana
Bab. 111


__ADS_3

"Aku tidak mau jika Sherly mengetahui semua ini dan terluka hingga hatinya harus sedih dan terluka," ratap Anggara.


Orang-orang yang kebetulan melewati jalan tempatnya Angga berdiri, memperhatikan wajahnya dengan seksama dan kadang mereka berbisik-bisik, tapi Anggara sama sekali tidak peduli dengan respon dari mereka.


"Apa aku jujur saja dihadapan Sherly agar aku aku mengetahui hal itu, tapi walaupun mereka atau siapa saja yang tidak merestui hubunganku aku tidak peduli, aku tetap akan menikahi Sherly tanpa restu dari siapa pun termasuk dari kedua Orang tuanya dan orang tuaku!!"


Orang-orang yang kebetulan melewati jalan tempatnya Angga berdiri, memperhatikan wajahnya dengan seksama dan kadang mereka berbisik-bisik, tapi Anggara sama sekali tidak peduli dengan respon dari mereka.


"Apa aku jujur saja dihadapan Sherliana agar aku aku mengetahui hal itu, tapi walaupun mereka atau siapa saja yang tidak merestui hubunganku aku tidak peduli, aku tetap akan menikahi Sherly tanpa restu dari siapapun termasuk dari kedua orang tuanya dan orang tuaku!!"


Anggara kemudian mengelap air matanya lalu berjalan ke arah kamar perawatan ibu Hamidah. Tatapannya sendu yang menyiratkan banyaknya kesedihan yang dirasakannya.


"Aku berharap semoga saja Sherly bisa memenuhi permintaan dan keinginan Papi dan Mami," gumam Anggara dengan langkahnya yang pasti menuju kamar tersebut.


Sherly yang duduk di hadapan Bundanya yang sedang menyuapkan makanan. Mengalihkan pandangannya ketika pintu itu terbuka lebar. Wanita pujaan hatinya langsung tersenyum manis ke arah Anggara.


Ini lah yang selalu Angga suka, membuatnya semakin mencintai Sherly dan semakin dibuat tergila-gila, karena selalu memberikan senyuman yang tulus. Ocean Samudera Dirgantara Mandala Renon yang baru saja membersihkan seluruh tubuhnya di dalam kamar mandi, menatap lekat wajahnya dokter sekaligus sahabat terbaiknya yaitu Juanda Anggara Prasetya.


"Apa yang terjadi padanya? Sepertinya ada yang aneh dari tatapan matanya dan raut wajahnya yang sudah menjelaskan semuanya," cicit Sultan.


"Bagaimana dengan kondisi Bunda?"tanyanya Anggara sembari mendudukkan tubuhnya di atas sofa beludru yang berwarna coklat muda itu.


"Alhamdulillah keadaan bunda berangsur-angsur membaik dan pulih, bunda sudah tidak sering batuk lagi," jawabnya Sherly.


"Syukur Alhamdulillah kalau begitu," ujarnya yang memainkan gejetnya agar bisa menutupi rasa bimbang dan kegalauan hatinya.

__ADS_1


"Angga, apa aku bisa meminta tolong padamu?" Tanya Sam yang menatap ke arah Anggara yang sering terdiam dan melamun.


"Kalau bisa aku mampu kenapa tidak, pasti aku akan melakukannya, lagian kamu seperti dengan orang lain saja ngomongnya seperti itu," kelakar Angga yang memaksakan dirinya untuk tersenyum penuh kepalsuan yang berusaha menutupi kegelisahannya.


"Aku ingin keluar sebentar, ada yang ingin aku urus, jadi please untuk menemani Sherly untuk menjaga Bunda," ujarnya Sam.


"Itu masalah yang sangat mudah, tanpa kamu minta aku pasti akan membantu kalian menjaga bunda yang sudah aku anggap bundaku sendiri," terang Anggara.


"Alhamdulillah kalau seperti itu, kalau gitu aku pamit dulu," ucapnya yang masih memasang kancing bajunya Sultan yang ada di bagian lengannya.


Sultan berjalan ke arah pintu,lalu meninggalkan mereka bertiga di dalam sana. Bu Hamidah tidak berbicara menyanggah perkataan mereka. Beliau mengetahui isi hati putranya yang bersikap seperti itu.


Bu Hamidah tahu kalau, Sam memberikan waktu dan kesempatan kepada keduanya untuk berbincang-bincang dari hati ke hati, tentang hubungan mereka selama ini dan untuk kedepannya.


"Sudah tiga hari aku tidak mendengar celotehan istri kecilku, apa aku menelponnya saja?" Tanyanya yang ragu untuk menelpon nomor hpnya Seana.


"Sherly, ada yang ingin Abang katakan padamu dan semoga apa yang Abang katakan nanti bisa kamu penuhi," tutur Anggara yang berbicara mulai dengan nada yang serius.


"Emangnya Abang ingin berbicara apa, sepertinya ada yang sangat serius dan penting?" Tanyanya yang tidak mengalihkan perhatiannya yang membantu bundanya mengatur dan memperbaiki posisi bantalnya.


Anggara menatap ke arah Ibu Hamidah calon Ibu mertuanya melalui isyarat tatapan matanya.


Ibu Hamidah pun menyentuh punggung tangan putrinya itu," Sepertinya apa yang ingin disampaikan oleh Anggara sangat penting Nak, carilah tempat yang nyaman di luar untuk kalian pakai duduk sambil berbincang,"


"Tapi bunda!! Kalau Sherly keluar siapa yang akan jagain bunda," balas Sherly yang kebingungan harus bagaimana,apa mengikuti saran bundanya atau tetap tinggal di dalam sana.

__ADS_1


"Insya Allah bunda akan baik-baik saja, lagian bunda sudah baikan, kalau kamu lama bunda akan telpon Abang untuk menemani bunda di sini," ujarnya Bu Hamidah yang berusaha untuk meyakinkan Sherly.


Sherly menatap ke arah Anggara sedangkan Anggara menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari Bunda dari kekasih pujaan hatinya.


"Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu, kalau bunda butuh sesuatu tidak usah segan untuk menelpon Sherly atau Abang Sultan," ujar Sherly lalu meraih tangan perempuan yang sangat penting dan berjasa dalam kehidupannya selama ini.


Wanita yang selalu mengajarkannya nilai-nilai kehidupan yang sangat berguna sekali dalam membentuk kepribadiannya. Mereka berjalan ke arah luar lalu menutup pintu dengan rapat.


Juanda Anggara berperang dengan pemikirannya sendiri. Sedangkan Sherly berjalan beriringan dengan pacar backstreetnya dengan kebanyakan terdiam dan sesekali melirik sepintas kearah Anggara.


Pengumuman!!!!!


Mulai besok hingga tanggal 4 aku akan adakan give away..



Dukungan Nomor Rank 1 dan 2 pulsa 50k Untuk dua orang.


Dukungan posisi rank ke 3-4 masing-masing 25k untuk 4 orang.



Syaratnya Wajib:


Like, Baca dari bab 1 hingga update bab sampai tgl 4 Desember 2022 Khusus Novel Fania yang berjudul "MEREBUT HATI MANTAN ISTRI". Perhitungannya mulai hari Senin tanggal 14 November.

__ADS_1


Harus dan Wajib Follow akun Fania Mikaila Azzahrah yah!!


__ADS_2