
Seana segera memegang jarinya Nina, lalu membalas perkataannya, "Aku tahu maksud kakak memaksaku untuk menikahi pria itu," ujarnya sembari menghempaskan tangannya Nina.
Nina tertawa terbahak-bahak, "Oohh sekarang kamu sudah bisa melawan rupanya, kenapa baru sekarang haaa!!! Bukan sedari dulu kamu perlihatkan kekuatan kamu ga!!!" Teriaknya sambil menjambak rambutnya Seana dengan sekuat tenaganya.
Seana tidak tinggal diam, menurutnya sekaranglah saatnya untuk melawan kezaliman Nina. Dia tidak ingin membiarkan sepupunya bertindak semena-mena lagi. Dia akan melawan jika diperlukan kasar dan tidak baik oleh orang lain.
Seana memegang tangan anak tunggal dari pamannya tersebut. Putri tunggalnya Pak Heru lalu memelintirnya dengan lumayan kuat hingga tangannya terlepas dari rambutnya.
"Mulai detik ini, aku tidak akan membiarkan siapapun terutama bibi untuk mengganggu ataupun merecoki hidupku lagi, selama ini aku tidak melawan apa pun yang Bibi dan kamu lakukan karena aku sangat menghormati pamanku, tapi hal itu tidak berlaku lagi mulai detik ini," jelasnya dengan menghempaskan tangannya Nina dengan cukup kuat.
"Ternyata anak sial ini sudah menjadi kuat, aku harus segera menjalankan rencana ku untuk mendesak para warga untuk memaksa mereka segera menikah jika tidak sebelum Abang Willy pulang dari kota, aku tidak ingin tahu yang jelasnya Abang Willy harus jadi suamiku." Gumamnya Nina dengan seringai liciknya nampak di raut wajahnya.
"Tolong tinggalkan rumahku sebelum aku berteriak meminta tolong kepada masyarakat kalau kakak datang untuk memukuliku lagi!!" ancamnya Seana.
Sea melakukan hal itu agar sepupunya itu segera cabut untuk angkat kaki dan pergi dari sana. Nina sesekali mengelus pergelangan tangannya lalu meringis menahan perihnya.
Nina mendumel dan mengumpat berbagai macam jenis kata yang sangat kasar karena kesal di depan Seana. Nina lalu menghentakkan kakinya sebelum meninggalkan rumahnya Sea. Tapi baru beberapa meter langkahnya, dia kembali memutar balik tubuhnya lalu kembali berjalan ke arah Sea yang ingin menutup pintu rumahnya.
"Ingat baik-baik, aku tidak akan menyerah begitu saja sebelum kamu berhasil menikah dengan pria itu, camkan perkataanku dengan baik-baik!!" Bentak Nina yang mengancam Sea lalu meninggalkan rumahnya Seana dengan raut wajahnya yang ditekuk dengan mulutnya yang komat kamit.
Sea menutup rapat pintu rumahnya dia melorotkan tubuhnya di balik pintu. Tangisannya kembali pecah, dia tidak menyangka jika keluarganya sendiri lah yang ingin melihatnya menderita.
"Ya Allah… kuatkan dan sabarkan hatiku untuk menghadapi semua ini." Batinnya Seana sembari menyeka air matanya itu yang baru saja menetes membasahi pipinya.
Beberapa hari kemudian, Seana diminta oleh kepala desa Pak Ardiansyah untuk segera datang ke rumah sakit. Sea yang mendengar perintah tersebut bergegas bersiap berangkat ke rumah sakit. Dia mengeluarkan sepeda kesayangannya yang berwarna putih itu. Sepeda itu lah yang selalu menemani aktivitasnya.
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim, semoga saja Pria itu sudah sembuh dan ingatannya bisa kembali normal seperti sedia kala." Batinnya Sea lalu menutup pintu rumahnya lalu tak lupa menguncinya dengan rapat.
Bu Mirna yang melihat Seana ingin mengayuh sepedanya, "Seana!! kamu mau ke mana Nak?" Tanya Bu Mirna yang kebetulan berpapasan dengannya di jalan yang dilaluinya mereka.
Seana segera menghentikan kayuhan sepedanya lalu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari Ibu itu, "Rencananya mau ke rumah sakit Bu, pak desa memerintahkan saya untuk segera kesana," jelasnya Seana.
"Apa kamu mau ke rumah sakit untuk jenguk Samudera calon suamimu itu?" Tanyanya lagi sesaat berada di hadapannya Seana.
"Samudra!! Siapa yang dibilang Samudera Bu?"tanyanya yang tidak mengerti dengan maksud dari perkataan Ibu Mirna.
Bu Mirna tertawa cengengesan di hadapan Sea, "Yaelah Seana, itu loh pria yang tempo hari kamu selamatkan di pantai yang korban tenggelam itu, pria yang paling ganteng di Kampung kita ini," jawabnya dengan antusias sembari membayangkan wajahnya Sam.
"Samudra, Jadi itu namanya toh," gumam
Seana terdiam sesaat mencerna perkataan dari ibu Mirna.
Seana yang melihat Bu Mirna langsung tiba-tiba terdiam hal tersebut segera berlalu dari hadapan ibu Mirna yang masih berdiri mematung tersenyum-senyum sendiri.
Sedang Sea tersenyum memikirkan tingkah lakunya Ibu Mirna yang menurutnya lucu sangat.
"Ada-ada saja Bu Mirna, apa semua ibu-ibu di kampung tingkahnya seperti beliau yah?" Cicitnya Seana.
Seana kembali mengayuh sepeda kesayangannya sembari memikirkan perkataan dari Bu Mirna barusan itu, "Apa setampan itu Samudera yang dikatakan oleh Ibu Mirna?" Lirihnya yang berusaha untuk mengingat wajahnya Sam.
...----------------...
__ADS_1
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Kekuatan Cinta
Baby Sitter Pilihan
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
Tetap dukung LSOS dengan cara:
__ADS_1
Like Setiap Babnya, Rate Bintang Lima, Favoritnya, tekan tombol yang ada tulisan iklannya, berikan gift poin atau koinnya kakak.
I love you all Readers…