Love Story Ocean Seana

Love Story Ocean Seana
Bab. 156


__ADS_3

Kehidupan in bukan untuk menemukan cinta, tapi untuk membangun cinta. Cinta yang indah tidak mungkin hanya ditemukan. Cinta yang indah menuntut pengorbanan yang tidak sederhana.


Hanya dibutuhkan beberapa detik untuk jatuh cinta, tapi seumur hidup untuk membuktikannya.


"Menunggumu dalam kesabaran lebih indah bagiku dari pada mengungkapkannya. Menantimu dalam doa lebih bermakna dari pada menjelaskannya."


"Mama! Apa mengenal cincin ini dan kira-kira kapan aku memakai cincin ini dan dimana Mama belinya?" Tanyanya Aza yang memberondong banyak pertanyaan untuk Mamanya.


Bu Fauziah dan Pak Farhan saling bertatapan dan tidak menyangka jika Aza akhirnya tersadar dan bertanya tentang cincin yang dipakainya sejak dahulu awal dia menginjakkan kakinya di dalam keluarganya.


"Ya Allah.. apa yang harus aku katakan kepada putriku?" Pak Farhan terdiam membisu seribu bahasa dan kebingungan harus menjawab apa.


"Mama! Apa mengenal cincin ini dan kira-kira kapan aku memakai cincin ini dan dimana Mama belinya?" Tanyanya Aza yang memberondong banyak pertanyaan untuk Mamanya.


Bu Fauziah dan Pak Farhan saling bertatapan dan tidak menyangka jika Aza akhirnya tersadar dan bertanya tentang cincin yang dipakainya sejak dahulu awal dia menginjakkan kakinya di dalam keluarganya.


Pak Farhan tak bergeming, "Ya Allah.. apa yang harus aku katakan kepada putriku?" Pak Farhan terdiam membisu seribu bahasa dan kebingungan harus menjawab apa.

__ADS_1


"Semoga saja Aza setelah mengetahui segalanya,dia sama sekali tidak berubah rasa sayangnya padaku," batinnya Bu Fauziah.


Pak Farhan menatap ke arah putrinya dengan sendu, "Sebaiknya kami katakan yang sejujurnya padanya karena aku yakin Aza adalah anak yang baik, pasti sifatnya seperti mendiang ibunya," Pak Farhan membatin.


Setelah mempertimbangkan segala hal dan kemungkinan besar yang bisa terjadi, mereka memutuskan untuk berterus terang dan jujur kepada Aza tentang masa lalunya.


Pak Farhan segera memakai pakaian santainya lalu bergegas duduk di samping putri tunggalnya itu. Beliau memegang tangannya Aza lalu menatap penuh iba dan kasih sayang wajah dan anak kandungnya itu.


"Sayang, ada banyak hal yang belum kamu ketahui dan tidak pernah kami jelaskan sebelumnya padamu, kami tidak bermaksud apapun sehingga memutuskan hal itu, kami memilih jalan itu karena mengingat gangguan kesehatan yang kamu alami dan jika kami sudah berkata jujur,kami menyerahkan segalanya kepadamu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya, itu hakmu untuk menentukan hidupmu," tuturnya Pak Farhan yang cukup panjang dan komplit itu.


Zameera Azzahrah Arinda Farhan melihat satu persatu kedua orang tuanya dan semakin bingung dengan penjelasan yang diucapkan oleh Papanya.


Zahrah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia tidak menyangka jika penyakitnya yang dideritanya selama ini adalah akibat dari rasa traumanya. Aza menutup mulutnya dengan kedua tangannya saking tidak percayanya dengan kenyataan yang ada.


Bu Fauziah segera menarik Aza dalam pelukannya. Dia mengelus lembut punggung Aza yang sudah bergetar hebat dalam tangisnya.


"Mengenai cincin itu, Papa juga tidak mengetahui dari mana sumbernya karena waktu itu kami menemukan kamu dalam kondisi yang tidak berdaya dan sangat memprihatinkan hampir setahun lalu kejadian itu," terang Pak Farhan.

__ADS_1


"Maksudnya aku adalah bukan anak kalian?" Tanyanya Aza yang matanya sudah memerah menahan air matanya yang hanya menunggu waktu saja akan jatuh juga.


Pak Farhan menarik tangannya Aza lalu menggenggamnya dengan penuh kasih sayang.


Pak Farhan memeluk putrinya itu dengan erat,"Zameera Azzahrah kamu tetap putri kami, kamu adalah anak kandungnya Papa yang tinggal d kampung X, aku adalah Papa kandung kamu yang sudah dinyatakan telah meninggal dunia lima belas tahun lalu waktu itu ibumu masih mengandung kamu, tapi berkat kekuasaan, kasih sayang dan kebesaran Allah SWT Papa diselamatkan oleh masyarakat di sekitar pantai hingga masih hidup dan berada didekat kalian," jelasnya Pak Farhan yang mencoba menjelaskan dengan perlahan ke arah Aza yang sudah mulai terguncang.


"Dari mana Papa tahu kalau aku adalah anak Papa yang tinggal di kampung?" Tanyanya balik yang semakin penasaran dengan kelanjutan kisah nyata perjalanan hidupnya.


"Karena cincin ini lah yang mempertemukan kita berdua sayang, cincin ini berada pemberian Papa sewaktu menikahi ibumu dan di dalam cincinnya ada tulisan nama kami berdua," jawab Pak Farhan yang ingin menangis jika harus kembali mengingat masa-masa indah mereka dulu sewaktu di kampung bersama dengan istrinya yang telah lama meninggal dunia.


Aza spontan melihat ke arah cincin yang tersemat di jari manisnya bagian kanannya.


"Maaf Mama bukanlah Mama kandung kamu yang selama ini selalu ngomong sama orang-orang kalau kamu adalah putri kandungnya Mama," timpal Bu Fauziah.


Bu Fauziah Hidayat Ahmed Miller yang sudah menangis tersedu-sedu yang menundukkan kepalanya saking sedihnya dan tidak kuasa menatap ke arah putri sambungnya itu. Ketakutan tiba-tiba datang menggerogoti dan menghantui pikirannya.


Seandainya jika Zamera Azzahra akan membencinya jika sudah jelas mengetahui kenyataan yang ada. Walaupun takut dan cemas tapi, kenyataan dan kejujuran harus tetap dikatakan cepat atau lambat. Sakit dan kecewa bagaimanapun juga jika itu adalah kejujuran maka tetap harus diungkapkan kebenarannya.

__ADS_1


Bu Fauziah tidak ingin hari ini terjadi dalam hidupnya, karena terlalu takut jika Aza pergi dari hidupnya bahkan akan membenci dirinya yang selama ini telah berbohong padanya.


__ADS_2