
Mereka berlima segera berjalan perlahan ke arah tujuannya. Hingga mata mereka membelalak melebar sempurna dan mulutnya membulat saking tidak percayanya melihat seorang pria yang tidak memakai pakaian dipangku oleh seorang perempuan.
"Hey siapa di sana?" Teriak Bapak Budi dengan mengarahkan senternya ke sumber suara di balik semak pohon bakau.
"Woi apa yang kalian lakukan?!!" jerit mereka kembali saat tanpa sengaja melihat Sea memangku pria yang setengah memakai pakaian bagian bawahnya saja yang tertutupi.
Rombongan masyarakat itu berteriak ke arah Sea. Sedangkan Seana hanya terdiam dan terpaku melihat kedatangan beberapa orang. Ia juga ikut tersentak terkejut melihat kedatangan beberapa warga masyarakat
Dia terkejut melihat kedatangan mereka. Bukannya takut karena kedapatan sedang menolong pria itu, tetapi dia takut jika orang menganggap bahwa mereka melakukan hal yang tidak baik.
Salah satu di antara mereka menyalakan senternya. Walaupun sudah subuh, tapi tempat itu masih sangat gelap. Sehingga Pak Toni mengarahkan senternya ke arah tepat wajahnya Seana.
Mereka terkejut melihat Seana sedang memangku pria yang tidak memakai pakaian apa pun di tubuhnya. Mereka segera berlari menuju tempat Sea berada.
"Ya Allah …. Seana!! apa yang sedang kamu lakukan di tempat?" cibir Pak Doni.
"Sa-ya tidak melakukan apa pun Pak, sa-ya hanya berniat untuk menolong pria ini," jawabnya yang sudah nampak pucat pasi dengan suara yang terbata.
"Haha!!! Menolong dalam bentuk apa yang kamu maksud Sea!!, apa membantunya dalam hal membuka seluruh pakaiannya, apa itu yang Kamu maksudkan?" Tanyanya Pak Budi dengan nada cibiran dengan suara yang sudah meninggi.
"Iya Pak aku tidak bohong, aku sama sekali tidak melakukan hal-hal yang tidak baik, Pak Budi saya tidak melakukan hal apapun yang seperti Bapak tuduhkan, saya hanya menolongnya karena tadi meminta tolong," jelasnya Sea dengan sedikit gemetar dan gentar padahal sebelumnya ia tidak takut tapi, karena orang-orang melihatnya dalam kejadian yang tidak bisa mengelak dan membela dirinya lagi.
__ADS_1
Air matanya sudah berada di ujung kelopak matanya, tapi dia terus berusaha untuk mencegah dan menahan air matanya. Sea masih terduduk seperti posisinya semula. Dia tidak tega jika menidurkan kepalanya di atas pasir yang dingin.
"Benar sekali apa yang dikatakan Pak Doni, kamu sudah berbuat sesuatu yang tidak baik, apa kamu ingin melihat daerah tercinta kita ini kena kutukan dan karma dari perbuatanmu haaa!!!" Pekik Pak Rusman yang sudah tersulut emosinya.
Azalina semakin terpojok dan tidak mampu untuk berfikir dengan jernih dan menyanggah semua tuduhan mereka. Semuanya terjadi begitu cepatnya, sehingga membuatnya tak berdaya. Hingga dia kebingungan untuk membela dirinya sendiri dengan cara yang tepat.
"Ya Allah… apa yang harus aku lakukan kalau seperti ini sudah kejadiannya, aku membela diri dan menentang tuduhan mereka pun hanya sia-sia belaka dan tidak ada gunanya," batin Seana yang mulai meneteskan air matanya.
"Jadi untuk apa lagi Kamu mengelak Seana, semua sudah sangat jelas, jika kamu dan pria itu sedang berbuat hal yang tidak senonoh di pinggir pantai," terangnya yang ikut marah juga.
"Kami tidak menyangka jika kamu tega berbuat seperti ini Seana!" kesalnya Pak Sudi.
...----------------...
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya yang alur ceritanya tidak kalah menarik dari cerita Love Story Ocean dan Seana judulnya ada dibawah ini:
Hikayat Cinta Syailendra
Pelakor Pilihan
__ADS_1
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Cinta Kedua CEO
Hanya Sekedar Baby Sitter
Kekuatan Cinta
Baby Sitter Pilihan
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
Tetap dukung LSOS dengan cara:
Like Setiap Babnya, Rate Bintang Lima, Favoritnya, tekan tombol yang ada tulisan iklannya, berikan gift poin atau koinnya kakak.
Mohon Maaf jika banyak sekali terdapat kesalahan atau typo kata dalam penulisan maupun pengetikannya...
I love you all Readers…
__ADS_1